PMI Manufaktur RI Kontraksi: Terburuk 9 Bulan, Perusahaan Mulai PHK
Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia semakin tergerus dampak perang hingga mengalami kontraksi.
Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Senin (4/5/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
S&P menjelaskan PMI mengalami kontraksi karena terjadi penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 karena sejumlah faktor.
Perusahaan mencatat kontraksi yang cukup kuat dalam volume produksi. Ini adalah koreksi yang paling tajam dalam hampir satu tahun, meskipun terjadi sedikit kenaikan pada pesanan baru.
Kontraksi ini didorong oleh penurunan berkelanjutan dalam volume produksi. Penurunan tersebut terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu.
Perusahaan menyebut kenaikan harga bahan baku, kekurangan pasokan, dan melemahnya daya beli pelanggan sebagai faktor utama di balik penurunan ini.
Di sisi yang lebih positif, produsen di Indonesia melaporkan sedikit peningkatan dalam pesanan baru, meskipun hal ini sebagian besar disebabkan oleh pemesanan lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga dan gangguan pasokan di masa depan.
Data menunjukkan bahwa peningkatan ini terutama berasal dari pasar domestik, sementara pesanan ekspor baru justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Tekanan biaya meningkat selama bulan tersebut, dengan tingkat inflasi biaya input mencapai level tertinggi dalam tepat empat tahun.
Pengusaha mengaitkan kenaikan biaya input dengan meningkatnya harga bahan baku dan kelangkaan material.
Perusahaan merespons kenaikan biaya ini dengan menaikkan harga jual pada awal kuartal kedua, dengan tingkat kenaikan terbesar sejak Oktober 2013.
Produsen juga sedikit menurunkan aktivitas pembelian seiring melemahnya kebutuhan produksi.
Keterlambatan pengiriman dan kekurangan pasokan membuat perusahaan menggunakan persediaan bahan baku yang sudah ada untuk menjaga produksi.
Pada saat yang sama, stok barang jadi meningkat karena produsen menyimpan barang yang belum terjual.
Â
"Sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intens di tengah perang di Timur Tengah. Perusahaan mencatat kontraksi produksi yang cukup kuat pada April," tutur Usamah Bhatti, ekonom di S&P Global Market Intelligence, dikutip dari website resmi.
Sebagai respons, perusahaan juga mengurangi tenaga kerja dan aktivitas pembelian selama bulan tersebut, sementara persediaan bahan baku juga menurun karena perusahaan menggunakan cadangan di tengah kesulitan memperoleh dan menerima material."
"Sinyal positifnya adalah adanya sedikit peningkatan pesanan baru. Namun, bukti survei menunjukkan bahwa hal ini sering kali disebabkan oleh pelanggan yang melakukan pembelian lebih awal untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut akibat konflik," imbuh Usamah.
Dia menambahkan optimisme menurun ke level terendah dalam lima bulan di tengah ketidakpastian mengenai lamanya perang.
Â
Data menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah memberikan tekanan terhadap harga dan pasokan. Bahkan, kenaikan beban biaya selama April merupakan yang paling tajam sejak April 2022, yang mendorong kenaikan harga jual tercepat dalam 12,5 tahun.
Perusahaan juga mencatat penurunan kepercayaan pada bulan tersebut, dengan optimisme turun ke level terendah dalam lima bulan.
Perusahaan Kurangi Tenaga Kerja
Perusahaan mencatat bahwa keterlambatan pengiriman dan kekurangan material akibat perang membebani kinerja pemasok selama April. Akibatnya, waktu pengiriman pemasok memanjang secara signifikan dan telah terjadi selama tujuh bulan berturut-turut.
Sejalan dengan kebutuhan produksi, produsen menurunkan tingkat tenaga kerja pada awal kuartal kedua. Laju pengurangan tenaga kerja tergolong moderat, namun merupakan yang paling tajam dalam 10 bulan.
Pada saat yang sama, tanda-tanda meredanya tekanan kapasitas terlihat jelas dalam data April, dengan perusahaan kembali mencatat penurunan backlog pekerjaan.
Ke depan, produsen di Indonesia tetap optimistis bahwa volume produksi akan meningkat dalam 12 bulan mendatang.
Namun, tingkat kepercayaan tersebut melemah menjadi yang paling rendah dalam lima bulan. Optimisme ini didukung oleh peluncuran produk baru dan harapan akan berakhirnya konflik di Timur Tengah, meskipun terdapat kekhawatiran bahwa perang dapat berlangsung lebih lama.
source on Google