MARKET DATA

Jelang Lebaran, PMI Manufaktur RI Rekor Tertinggi Hampir 2 Tahun

mae,  CNBC Indonesia
02 March 2026 08:25
PT PANAMTEX, perusahaan textile di Pekalongan yang berdiri sejak tahun 1994 memproduksi sarung tenun. (Instagram @sarung.binsaleh)
Foto: PT PANAMTEX, perusahaan textile di Pekalongan yang berdiri sejak tahun 1994 memproduksi sarung tenun. (Instagram @sarung.binsaleh)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia melonjak pada Februari 2026. Lonjakan ini berbarengan dengan datangnya Ramadan dan menjelang Lebaran Idul Fitri.

Periode Ramadan dan Idul Fitri merupakan puncak dari konsumsi Indonesia sehingga perusahaan biasanya akan meningkatkan produksi dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Senin (2/3/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 53,8 pada Februari 2026. Angka ini adalah yang tertinggi sejak Maret 2024 atau hampir dua tahun terakhir.

Dengan fase ini maka PMI Indonesia sudah dalam fase ekspansif selama tujuh bulan beruntun.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

S&P menjelaskan sektor manufaktur Indonesia melonjak ditopang peningkatan yang lebih tajam pada pesanan baru. Kenaikan ini menopang ekspansi yang lebih kuat pada aktivitas pembelian dan kebangkitan kembali penyerapan tenaga kerja.

Pendorong utama perbaikan Februari adalah percepatan ekspansi permintaan terhadap produk Indonesia. Pesanan baru meningkat selama tujuh bulan berturut-turut, dengan laju pertumbuhan tertinggi sejak November 2025.

Responden survei melaporkan jumlah pelanggan yang lebih banyak serta peningkatan kepercayaan klien.

Data menunjukkan bahwa ekspansi total pesanan baru bersifat luas, dengan produsen Indonesia mencatat kenaikan kembali pada bisnis ekspor baru. Ini adalah pertama dalam enam bulan terakhir kondisi tersebut terjadi.

 

Bukti anekdotal menunjukkan membaiknya permintaan di pasar internasional. Bahkan, kenaikan pesanan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Mei 2022.

Usamah Bhatti, Ekonom di S&P Global Market Intelligence mengatakan perbaikan kesehatan sektor manufaktur Indonesia kembali menguat di pertengahan kuartal pertama menjadi sinyal positif bagi bulan-bulan mendatang.

Kondisi permintaan tetap positif, dengan penjualan meningkat solid sehingga mendorong kenaikan produksi, ketenagakerjaan, dan aktivitas pembelian.

"Selain itu, kenaikan permintaan tidak hanya berasal dari pasar domestik, karena ekspor meningkat untuk pertama kalinya dalam enam bulan," jelasnya dalam website resmi S&P.

Dari sisi harga, produsen Indonesia melaporkan sedikit pelunakan laju inflasi harga input. Beban biaya rata-rata meningkat pada laju paling lambat dalam enam bulan terakhir, dan lebih rendah dari rata-rata jangka panjang. Sebagai respons, perusahaan hanya menaikkan harga jual secara moderat.

Perusahaan Tambah tenaga Kerja

Pergerakan positif pada penjualan mendorong perusahaan meningkatkan jumlah tenaga kerja untuk keenam kalinya dalam tujuh bulan terakhir, dengan laju paling menonjol sejak November lalu. Penambahan tenaga kerja membantu produsen meningkatkan produksi pada Februari. Output tumbuh pada laju tercepat sejak April 2024. Ketika terjadi peningkatan, perusahaan mengaitkannya dengan naiknya pesanan baru.

Perusahaan juga mencatat bahwa tambahan produksi digunakan untuk membangun persediaan sebagai persiapan menghadapi potensi kenaikan permintaan di masa depan.

Akibatnya, persediaan barang jadi meningkat selama empat bulan berturut-turut. Perusahaan mampu membatasi penumpukan pekerjaan tertunda, karena pada Februari tingkat pesanan tertunda relatif tidak berubah dibanding periode survei sebelumnya.

Data terbaru menunjukkan percepatan pertumbuhan aktivitas pembelian di kalangan produsen barang Indonesia. Pembelian input meningkat selama tujuh bulan berturut-turut dan pada laju paling tajam dalam hampir dua tahun terakhir.

Pada saat yang sama, persediaan pra-produksi juga meningkat karena beberapa perusahaan menyimpan input sebagai respons terhadap membaiknya permintaan dan kebutuhan produksi.

Data Februari juga menunjukkan adanya tekanan pada pemasok di tengah laporan keterlambatan pengiriman dan dampak banjir. Akibatnya, rata-rata waktu tunggu pengiriman memanjang untuk bulan kelima berturut-turut.

Ke depan, tingkat kepercayaan terhadap prospek 12 bulan mendatang sedikit menurun dibanding Januari dan berada di bawah rata-rata historis. Meski demikian, pembacaan terbaru Indeks Output Masa Depan tetap menunjukkan optimisme yang kuat untuk tahun mendatang, didukung oleh ekspektasi kondisi permintaan yang lebih kuat serta harga yang lebih stabil.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular