MARKET DATA

Kerja Lebih Penting dari Gelar, Anak Muda China Ramai Sekolah Kejuruan

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
26 February 2026 16:05
Ilustrasi bendera China. (VCG via Getty Images/VCG)
Foto: Ilustrasi bendera China. (VCG via Getty Images/VCG)

Jakarta, CNBC Indonesia- Pilihan pendidikan tinggi di China sedang bergeser. Sejumlah siswa dengan nilai tinggi dalam ujian masuk perguruan tinggi nasional memilih jalur vokasi dibanding universitas akademik.

Melansir South China Morning Post, sebagian mahasiswa menilai pendidikan vokasi memberi jalur kerja yang lebih cepat dan terukur dibanding gelar sarjana umum.

Kasus seperti Lin Gangming menjadi gambaran perubahan tersebut. Nilai ujian masuknya cukup untuk universitas elite, tetapi ia memilih Shenzhen Polytechnic University, sebuah perguruan tinggi vokasi yang fokus pada pelatihan teknis. Keputusan semacam ini makin sering terjadi di kota-kota industri China yang membutuhkan tenaga terampil dalam jumlah besar.

Persaingan kerja ikut membentuk keputusan mahasiswa. Pada 2025 jumlah lulusan perguruan tinggi China mencapai sekitar 12,22 juta orang.

Angka ini menciptakan tekanan besar di pasar tenaga kerja. Melansir Sixth Tone, perusahaan mulai memberi bobot lebih besar pada keterampilan praktis dibanding latar belakang akademik semata.

Menurut Gao Shanchuan dari Fudan University, hubungan antara gelar akademik dan pendapatan tidak lagi sekuat sebelumnya. Mahasiswa mulai menghitung peluang kerja secara lebih realistis. Program pendidikan yang memberi akses cepat ke pekerjaan dinilai lebih rasional.

Permintaan perusahaan terhadap lulusan magister turun dari 20,3% pada 2024 menjadi 17,4% pada 2025. Kebutuhan terhadap lulusan vokasi naik dari 8,5% menjadi 11%. Lulusan vokasi mencatat tingkat penerimaan kerja tertinggi pada 2024 dibanding kelompok pendidikan lain.

Kebijakan pemerintah ikut mempercepat perubahan. Rencana pembangunan pendidikan nasional 2024-2035 menetapkan pendidikan vokasi sebagai prioritas. Program tersebut mencakup peningkatan pendanaan, pembangunan fasilitas baru, dan perluasan program sarjana vokasi. Pemerintah menempatkan pelatihan teknis sebagai bagian dari strategi industrialisasi.

Di kota industri seperti Wuhan, hubungan antara kampus vokasi dan perusahaan terlihat jelas. Program pendidikan disusun bersama industri. Mahasiswa mengikuti magang sejak awal masa studi. Beberapa kampus mencatat tingkat penempatan kerja lebih dari 98%.

 

Program pendidikan anak usia dini di Wuhan City Vocational College memberi contoh pendekatan tersebut. Mahasiswa menjalani pelatihan intensif selama tiga tahun dengan penekanan pada praktik lapangan. Lulusan biasanya langsung bekerja di taman kanak-kanak dengan gaji awal sekitar 3.500-4.000 yuan per bulan.

Di sektor teknik, program mekatronika di Xiangyang disusun mengikuti kebutuhan industri otomotif lokal. Mahasiswa berlatih menggunakan peralatan produksi dan mengikuti kompetisi keterampilan. Lulusan memperkirakan gaji awal sekitar 6.000-8.000 yuan per bulan, mendekati atau melampaui rata-rata pendapatan regional.

Perusahaan melihat perbedaan karakter lulusan vokasi dan universitas. Perekrut di Wuhan menyebut lulusan vokasi lebih siap menjalankan pekerjaan teknis seperti produksi konten video atau pengoperasian peralatan. Mereka cepat menyesuaikan diri dengan prosedur kerja.

Namun jalur vokasi memiliki batas tertentu. Dalam beberapa perusahaan milik negara, posisi manajerial masih lebih banyak diberikan kepada lulusan universitas akademik. Gelar sarjana tetap berpengaruh pada jenjang karier jangka panjang.

Tingkat Pengangguran Pemuda

Data terbaru Biro Statistik Nasional mencatat tingkat pengangguran pemuda di China mencapai 16,5% pada Desember 2025.

Pengangguran di kalangan nonpelajar usia 16-24 tahun sedikit menurun sejak Agustus 2025 ketika mencapai puncak 18,9% (berdasarkan metodologi baru). Namun, penurunan beberapa poin setelah musim kelulusan universitas setiap Juni merupakan pola musiman yang wajar. Laporan Desember 2025 justru menunjukkan kenaikan tipis dibanding tahun sebelumnya, menandakan pengangguran pemuda telah bertahan di level tinggi yang mengkhawatirkan.

Pada 2018, tingkat pengangguran pemuda sekitar 10%, tahun pertama pemerintah mempublikasikan data menurut kelompok usia.

Angka pengangguran pemuda di ChinaFoto: Biro statistik China
Angka pengangguran pemuda di China

Angka tersebut kemudian meningkat akibat pandemi Covid-19 dan krisis properti, hingga mencapai 21,3% pada Juni 2023. Setelah itu, data sempat dihentikan selama lima bulan untuk perbaikan metodologi. Seri baru tidak lagi memasukkan mahasiswa yang mencari kerja paruh waktu atau sementara.

Ketika publikasi dilanjutkan pada Desember 2023, angka pengangguran turun tajam menjadi 14,9%, sebagian besar karena perubahan metode. Dalam dua tahun terakhir, angkanya berkisar 14-18%. Dengan pengangguran total sekitar 5%, jelas bahwa pengangguran pemuda tetap menjadi masalah besar di China.

Ketidaksesuaian Pekerjaan dan Keterampilan

Nippon.com melaporkan salah satu penyebab penting tingginya pengangguran pemuda adalah melonjaknya jumlah lulusan perguruan tinggi. Pada 2003, hanya 17% lulusan SMA melanjutkan ke pendidikan tinggi; pada 2023 angkanya naik menjadi 60%. Antara 2018-2023, jumlah lulusan universitas per tahun meningkat dari 7,53 juta menjadi 11,58 juta.

Pada 2022, sekitar 70% penganggur usia 20-24 tahun adalah lulusan perguruan tinggi. Tahun itu, lulusan baru universitas yang masuk pasar kerja mencapai 8,57 juta, lebih dari dua kali jumlah lulusan sekolah menengah yang direkrut.

Komposisi pengangguran ChinaFoto: Biro statistik China
Komposisi pengangguran China

 

Selain perlambatan ekonomi, masalah lain adalah ketidaksesuaian antara pekerjaan yang diinginkan lulusan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan mengincar pekerjaan kantoran bergaji tinggi di sektor teknologi, otomotif, dan keuangan, tetapi peluangnya makin terbatas. Sementara itu, sektor logistik, perdagangan, jasa, dan manufaktur kekurangan pekerja lini depan dan teknisi terampil.

Industri membutuhkan tenaga "kerah ungu" dan lulusan teknis untuk pabrik modern, serta ilmuwan dan insinyur elit untuk riset dan pengembangan namun jumlah lulusan dengan kualifikasi tersebut masih terbatas.

Selama bertahun-tahun, perbedaan pendapatan berdasarkan latar pendidikan sangat besar. Lulusan universitas elite biasanya mendapat pekerjaan prestisius dengan prospek karier jelas.

Karena itu, orang tua sangat menekankan pendidikan demi mobilitas sosial. Kebijakan satu anak juga mendorong keluarga memusatkan sumber daya pada pendidikan anak. Hal ini memperkuat orientasi kerja kantoran di kalangan mahasiswa, meski pekerjaan semacam itu kini makin sulit didapat.

Munculnya "Rat People"

Biasanya, lulusan yang belum mendapat pekerjaan tetap akan bekerja serabutan sambil terus mencari. Sebagian melanjutkan kuliah. Namun semakin banyak yang menolak ekspektasi sosial tentang kerja tetap dan kesuksesan materi.

Mereka menganut gaya hidup tang ping ("rebahan"), hidup sederhana dengan konsumsi rendah. Ada yang bergantung pada orang tua, ada pula yang bekerja sekadarnya untuk bertahan hidup tanpa mengejar rumah, mobil, atau status sosial.

Dalam survei online 2021 di Weibo, mayoritas responden bersimpati atau mengagumi gaya hidup ini. Para penganutnya bahkan menyebut diri mereka "rat people" secara satir. Fenomena ini menandakan kemungkinan titik balik dalam ekonomi dan masyarakat China.

Tidak Ada Solusi Cepat

Pemerintah China sebenarnya aktif menangani masalah ini. Pada September 2024, pemerintah meluncurkan strategi 24 poin untuk meningkatkan kualitas dan jumlah lapangan kerja, termasuk:

  1. Menyesuaikan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri.
  2. Mewajibkan perusahaan meningkatkan anggaran pelatihan pekerja.
  3. Membangun kerangka kualifikasi nasional terpadu.
  4. Menaikkan upah dan memperbaiki kondisi kerja tenaga terampil.

Pemerintah juga memperkuat layanan ketenagakerjaan digital dan mempertimbangkan kebijakan jaminan sosial bagi penganggur jangka panjang. Namun reformasi ini selaras dengan transformasi industri jangka panjang dan Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), sehingga dampaknya tidak akan langsung terasa.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google


Most Popular