PMI Manufaktur RI Jatuh ke Level Terlemah 8 Bulan, Terpukul Perang
Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas manufaktur Indonesia mulai terdampak perang Iran.
Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Rabu (1/4/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,1 pada Maret 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau delapan bulan terakhir.
Kendati melandai, PMI Indonesia masih dalam fase ekspansif selama delapan bulan beruntun.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
PMI ambruk karena terjadi penurunan baik pada volume produksi maupun pesanan baru sepanjang Maret.
Data Maret menunjukkan adanya penurunan kembali pada tingkat produksi setelah empat bulan berturut-turut mengalami pertumbuhan dan lonjakan signifikan pada Februari.
Laju penurunan relatif moderat, namun menjadi yang terdalam sejak Juni 2025.
Laporan pelaku usaha menyebut bahwa perang di Timur Tengah memengaruhi harga dan pasokan bahan baku, yang kemudian mengganggu permintaan dan produksi barang manufaktur.
Selain itu, kondisi yang cenderung lesu turut menyebabkan perlambatan dalam aktivitas pembelian, backlog pekerjaan, dan tenaga kerja. Kepercayaan bisnis sedikit meningkat, namun masih berada di bawah rata-rata jangka panjang.
Dari sisi harga, inflasi biaya input meningkat dibanding periode survei sebelumnya dan mencapai level tertinggi sejak Maret 2024. Akibatnya, harga jual produk dinaikkan dengan laju tercepat sejak Juni 2022.
"Penurunan produksi menjadi yang terdalam dalam sembilan bulan terakhir. Penurunan permintaan juga disebabkan oleh pembalikan tajam pada permintaan ekspor baru, yang turun pada tingkat paling dalam sejak November lalu," tutur Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence dikutip dari website resmi.
Berdasarkan laporan panel, faktor utama di balik pelemahan pada Maret adalah pecahnya perang di Timur Tengah.
"Bukti menunjukkan bahwa perang telah memberikan tekanan besar pada harga dan pasokan bahan baku, yang membebani produksi dan permintaan, sekaligus mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun," imbuh Usamah.
Selain itu, melemahnya produksi dan kebutuhan kapasitas mendorong perusahaan masuk ke mode efisiensi dengan mengurangi aktivitas pembelian dan jumlah tenaga kerja.
Â
"Para pelaku manufaktur tetap optimistis bahwa output akan meningkat sepanjang tahun. Namun demikian, data Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, terutama dari sisi harga dan pasokan." Imbuhnya.
Data juga menunjukkan secara bersamaan, volume pesanan baru juga mengalami perlambatan untuk pertama kalinya dalam delapan bulan di Maret.
Penurunannya tergolong tipis, namun menjadi perubahan signifikan dibanding ekspansi kuat pada periode sebelumnya. Produsen menyebut lemahnya permintaan dan meningkatnya persaingan sebagai faktor utama penekan pesanan baru. Pesanan ekspor juga turun setelah sempat naik pada Februari.
Permintaan yang melemah turut mengurangi tekanan kapasitas dan memungkinkan perusahaan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Backlog pekerjaan turun untuk pertama kalinya terjadi sejak Oktober lalu. Sementara itu, penjualan yang menurun menyebabkan peningkatan persediaan pascaproduksi karena barang yang belum terjual menumpuk di gudang.
Sejalan dengan tren produksi dan permintaan, perusahaan kembali mengurangi jumlah tenaga kerja untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir, meskipun hanya sedikit.
Waktu tunggu pengiriman bahan baku (lead time) bahkan terus memanjang selama enam bulan berturut-turut, akibat kelangkaan material dan keterlambatan pengiriman pasca pecahnya perang di Timur Tengah. Tingkat keterlambatan ini menjadi yang paling parah sejak Oktober 2021.
Perusahaan berupaya meningkatkan stok bahan baku untuk mengantisipasi keterlambatan dan kenaikan harga, namun upaya ini terhambat oleh masalah yang sama. Akibatnya, laju penambahan stok menjadi yang paling lemah dalam enam bulan terakhir.
Produsen di Indonesia juga melaporkan kenaikan harga input pada periode survei terbaru, dengan tingkat inflasi yang signifikan dan menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir. Hal ini terutama dikaitkan dengan kenaikan harga bahan baku di tengah kelangkaan dan keterlambatan pengiriman.
Perusahaan kemudian berusaha meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen dengan menaikkan harga jual produk pada tingkat tercepat sejak Juni 2022.
Ke depan, pelaku industri manufaktur Indonesia tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek satu tahun ke depan. Tingkat kepercayaan cukup kuat dan sedikit meningkat dibanding Februari.
Optimisme ini didorong oleh harapan bahwa permintaan akan kembali pulih dan konflik di Timur Tengah tidak semakin memburuk. Namun demikian, tingkat kepercayaan tersebut masih berada di bawah rata-rata historis.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH
[email protected]
source on Google