MARKET DATA

Tertinggi 44 Tahun, Warga Jepang Habiskan Rp 33 Juta/Bulan Buat Makan

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia
09 February 2026 18:30
Seorang pejalan kaki berjalan melewati toko serba ada 7-Eleven Seven & I di Tokyo, Jepang, 19 Agustus 2024. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Foto: Seorang pejalan kaki berjalan melewati toko serba ada 7-Eleven Seven & I di Tokyo, Jepang, 19 Agustus 2024. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Proporsi pengeluaran rumah tangga Jepang untuk makanan tercatat mencapai level tertinggi dalam 44 tahun terakhir. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya tekanan biaya hidup di tengah inflasi yang masih membebani daya beli masyarakat.

Menurut survei Kementerian Dalam Negeri Jepang yang dirilis Jumat (7/2/2026), rasio yang dikenal sebagai koefisien Engel ini naik 0,3 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 28,6% pada 2025 untuk rumah tangga dengan dua orang atau lebih. Angka tersebut adalah yang tertinggi dalam 44 tahun. 

Koefisien Engel  digunakan di Jepang sebagai indikator tingkat kemakmuran rumah tangga. Rasio yang lebih tinggi umumnya menunjukkan standar hidup yang lebih rendah, karena semakin sedikit dana yang tersedia untuk pengeluaran lain seperti pendidikan dan barang-barang mewah.

Data Family Income and Expenditure Survey menunjukkan total pengeluaran rumah tangga rata-rata mencapai JPY 314.001 per bulan, atau setara Rp33,3 juta (asumsi kurs Rp10.600/JPY), naik 4,6% secara nominal.

Pengeluaran Naik, Konsumsi Riil Justru Turun

Meski demikian, kenaikan pengeluaran tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan daya beli. Pengeluaran untuk makanan memang tumbuh 5,5% secara nominal, bahkan melampaui kenaikan total belanja rumah tangga. Namun setelah disesuaikan dengan inflasi, konsumsi pangan justru turun 1,2% secara riil.

Survei mencatat konsumen semakin berhati-hati dalam berbelanja, dengan kecenderungan memilih produk yang lebih murah serta mengurangi volume konsumsi.

Ekonomi Lesu Dorong Rasio Pengeluaran Pangan Naik

Dalam perspektif jangka panjang, rasio pengeluaran pangan Jepang sempat turun ke 22,9% pada 2005, seiring pertumbuhan ekonomi dan pendapatan yang lebih baik. Namun, tren tersebut berbalik arah akibat pertumbuhan pendapatan yang lemah di tengah ekonomi yang lesu berkepanjangan.

Sejak 2022, kenaikan rasio ini semakin cepat, dipicu oleh pelemahan yen yang mendorong harga impor termasuk bahan pangan menjadi lebih mahal.

Selain makanan, survei 2025 juga menunjukkan peningkatan porsi pengeluaran untuk utilitas, sementara alokasi belanja untuk pakaian, furnitur, dan barang non-esensial lainnya justru menyusut.

Upah Riil Tertekan, Daya Beli Tergerus

Tekanan biaya hidup ini terjadi di tengah penurunan upah riil yang berkelanjutan. Pada November tahun lalu, upah riil Jepang tercatat turun untuk bulan ke-11 berturut-turut.

Chief economist Dai-ichi Life Research Institute, Hideo Kumano, menilai pemerintah Jepang perlu memastikan pertumbuhan upah riil yang stabil.

Kondisi ini menegaskan tantangan yang dihadapi ekonomi Jepang, di mana inflasi yang persisten dan stagnasi pendapatan terus menggerus daya beli masyarakat serta membatasi ruang konsumsi domestik.


(mae/mae)



Most Popular