Ternyata Ini Bumbu Dapur & Sayuran Paling Menguras Kantong, Bener Bun?
Jakarta, CNBC Indonesia - Selama ini sayuran kerap dianggap murah dan tak terlalu membebani pengeluaran rumah tangga. Namun data 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) justru menunjukkan cerita berbeda.
Dari seluruh kelompok sayur, bawang dan cabai menjadi komoditas yang paling menyerap belanja dapur warga Indonesia, jika dilihat dari rata-rata pengeluaran per kapita per minggu.
Berdasarkan rata-rata nasional pengeluaran per kapita per minggu, bawang merah menempati posisi teratas dengan nilai sekitar Rp2.205, disusul cabai rawit sebesar Rp1.940 dan cabai merah Rp1.689. Angka ini jauh melampaui sayuran hijau seperti bayam dan kangkung yang masing-masing berada di kisaran ratusan rupiah per minggu.
Tingginya pengeluaran untuk bawang merah dan cabai banyak dipengaruhi oleh pola gastronomi masyarakat Indonesia. Dimana komoditas tersebut seringkali muncul di berbagai resep masakan nusantara. Karena dianggap sebagai bumbu kunci, pengeluarannya menjadi paling konsisten dan akumulatif.
Selain bawang merah, cabai, dan sayuran hijau, masyarakat Indonesia juga menggemari berbagai macam sayur lainnya termasuk terong, labu, jamur, hingga jengkol. Rata-rata pengeluaran perkapita seminggu untuk sayur-sayuran beragam di berbagai daerah, seperti yang bisa dilihat pada tabel-tabel berikut:
Beban belanja sayur sangat dipengaruhi oleh lokasi tempat tinggal. Di banyak wilayah, ternyata pengeluaran sayur per kapita masih ada yang berada di bawah Rp10.000 per minggu. Namun di wilayah Papua Pegunungan, angka tersebut melonjak tajam.
Misalnya saja seorang di Intan Jaya harus mengeluarkan uang sekitar Rp 57.615 per minggunya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sayuran. Angka pengeluaran ini lalu disusul Lanny Jaya dan Jayawijaya. Mahalnya harga dan terbatasnya akses pangan menjadi faktor yang paling mencerminkan angka tinggi tersebut.
Data ini menunjukkan bahwa persoalan belanja sayur bukan semata soal selera, melainkan soal akses dan struktur pasar. Kebutuhan sayuran yang dianggap murah dapat menjadi mahal ketika terdapat hambatan pada rantai pasok. Hingga kini, tantangan distribusi pangan masih menjadi persoalan di banyak wilayah Indonesia.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH
[email protected]