Harga Minyak Anjlok Jelang Pemilu AS, BI-Menkeu Buka Suara Hari Ini
Pasar keuangan Indonesia hari ini akan dibayangi sejumla sentimen, baik dari dalam ataupun luar negeri.
Jatuhnya harga minyak diharapkan bisa menjadi katalis positif bagi pasar saham dan rupiah. Sebaliknya, pemilu AS mungkin bisa menjadi tekanan.
Dari dalam negeri, hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan data inflasi bisa menjadi penggerak sentimen hari ini.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Pemilu Sela AS 2026: Trump Terancam, Demokrat Bidik Kongres
Pemilu sela Amerika Serikat (AS) digelar pada hari ini, Selasa (3/11/2026) dengan taruhan besar bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Demokrat berupaya merebut kendali Kongres di tengah merosotnya popularitas Trump dan tekanan biaya hidup.
Menurut University of Florida Election Lab, lebih dari 57 juta warga AS telah memberikan suara lebih awal hingga Senin, melampaui 46 juta pemilih pada pemilu sela 2022.
Lembaga OpenSecrets memperkirakan total belanja pemilu kali ini mencapai US$11,9 miliar, menjadikannya yang termahal dalam sejarah AS. Elon Musk sendiri telah menggelontorkan sekitar US$366 juta untuk mendukung Partai Republik.
Saat ini, Republik menguasai DPR dengan 218 kursi berbanding 214 kursi Demokrat. Demokrat membutuhkan tambahan bersih empat kursi untuk merebut mayoritas. Di Senat, Republik unggul 53-47 dan Demokrat juga membutuhkan tambahan bersih empat kursi.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump hanya 32%, mendekati rekor terendah.
Kenaikan harga barang dan biaya hidup berpotensi menggerus dukungan terhadap Republik. Pemilih Latino yang mendukung Trump pada 2024 juga menunjukkan indikasi kembali mendekati Demokrat.
Jika Demokrat merebut DPR, Hakeem Jeffries berpeluang menjadi Ketua DPR dan mengarahkan penyelidikan terhadap pemerintahan Trump. Demokrat juga menjanjikan fokus pada penurunan biaya kesehatan, pangan, perumahan, dan energi.
Sebaliknya, kemenangan Republik akan membuka jalan bagi kelanjutan agenda Trump, termasuk pemotongan pajak dan peningkatan belanja pertahanan.
Hasil pemilu ini akan menjadi ujian politik penting bagi Trump sekaligus menentukan keseimbangan kekuasaan di Washington menjelang pemilihan presiden 2028.
2. Harga Minyak Anjlok
Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 7% pada Senin (2/11/2026), seiring meningkatnya harapan berakhirnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran setelah perundingan damai melibatkan pejabat Iran dan Qatar.
Minyak mentah Brent ditutup turun 7,63% ke US$104,77 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 7,36% ke US$96,46 per barel.
Sentimen pasar membaik setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran akan berupaya menyelesaikan konflik melalui dialog. Presiden AS Donald Trump juga mengatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang mungkin tercapai.
Mediator Qatar pada Senin malam bertolak ke Teheran untuk membahas kemungkinan kesepakatan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Meski demikian, risiko gangguan pasokan masih membayangi. Perang yang pecah pada akhir Februari telah menguras hampir 1 miliar barel cadangan minyak global akibat terganggunya pengiriman melalui Selat Hormuz.
Goldman Sachs memperingatkan harga Brent berpotensi melonjak hingga US$140 per barel pada 2027 jika produksi minyak kawasan Teluk bertahan 3,5 juta barel per hari di bawah rata-rata 2025. Serangan terhadap kapal tanker dan kerusakan infrastruktur energi masih menjadi risiko utama bagi pasar minyak.
Penurunan harga minyak menjadi kabar baik bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, terutama untuk mengurangi tekanan APBN dan inflasi.
3. PMI Manufaktur RI Berlari Kencang
Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan signifikan pada Oktober 2026.
Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 31 bulan terakhir atau sejak Maret 2024.
Penguatan tersebut ditopang kenaikan pesanan baru dengan laju tercepat sejak Oktober 2021. Sementara itu, pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tertinggi sejak survei PMI pertama kali dilakukan pada April 2011.
Peningkatan permintaan turut mendorong aktivitas produksi dan pembelian bahan baku. Namun, tekanan biaya produksi masih membayangi industri seiring kenaikan harga bahan baku, bahan bakar, serta pelemahan nilai tukar.
Kinerja PMI yang semakin jauh di atas ambang ekspansi 50 menjadi sinyal positif bagi aktivitas industri nasional, meskipun kenaikan biaya produksi dan terbatasnya pertumbuhan tenaga kerja masih perlu dicermati.
Berdasarkan data S&P Global, posisi PMI manufaktur Indonesia pada Oktober juga berada di atas sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik. Jepang mencatat PMI 53,3, Vietnam 52,3, China 52,0, Korea Selatan 51,3, Malaysia 51,0, dan Australia 49,6. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur sedang berada dalam fase ekspansi atau mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
4. Inflasi RI Oktober 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 sebesar 0,22% secara bulanan (month-to-month/mtm), melambat dari 0,30% pada September.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tercatat sebesar 3,23%, lebih rendah dibandingkan 3,28% pada September dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,25%-3,29%.
Perlambatan inflasi terutama didukung oleh meredanya tekanan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, termasuk perawatan pribadi dan jasa lainnya, rekreasi, serta pendidikan.
Inflasi kelompok perawatan pribadi melandai cukup signifikan dari 7,77% menjadi 4,52% yoy. Sementara itu, inflasi inti turun menjadi 2,56% yoy dari 2,84% pada September, sekaligus menyentuh level terendah dalam enam bulan terakhir.
Namun, tekanan harga pangan justru meningkat. Inflasi kelompok makanan mencapai 4,82% yoy, naik dari 4,37% pada September dan menjadi yang tertinggi dalam lima bulan terakhir. Kenaikan ini mencerminkan tekanan pada pasokan pangan, termasuk dampak gangguan cuaca akibat El Niño.
Di sisi lain, inflasi transportasi meningkat tipis menjadi 4,87% dari 4,84%, sedangkan inflasi perumahan naik menjadi 1,06% dari 1,02%.
Secara keseluruhan, inflasi masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%. Perlambatan inflasi, khususnya inflasi inti, menjadi sinyal positif bagi stabilitas harga dan memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Meski demikian, kenaikan harga pangan dan tekanan nilai tukar rupiah tetap perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi arah inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
5. Neraca Perdagangan RI September 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar US$3,36 miliar pada September 2026, lebih rendah dibandingkan surplus US$3,55 miliar pada Agustus.
Surplus tersebut berasal dari nilai ekspor yang mencapai US$27,59 miliar, melampaui impor sebesar US$24,23 miliar.
Secara tahunan, ekspor meningkat 11,87%, sementara impor tumbuh lebih tinggi sebesar 18,41%.
Surplus perdagangan terutama ditopang sektor nonmigas sebesar US$5,67 miliar, dengan kontribusi dari komoditas lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sebaliknya, neraca perdagangan migas masih mencatatkan defisit sebesar US$2,31 miliar, terutama akibat perdagangan minyak mentah dan hasil minyak.
Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Januari-September 2026 mencapai US$10,61 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan US$33,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berlanjutnya surplus perdagangan menjadi penopang ketahanan eksternal Indonesia. Namun, peningkatan impor, terutama migas, masih menjadi tantangan bagi stabilitas neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah
6. Tarif Pesawat di 24 Provinsi Naik
Kenaikan tarif angkutan udara turut menjadi perhatian setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tiket pesawat di 24 provinsi sepanjang Oktober 2026, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Kenaikan tersebut terjadi setelah pemerintah menetapkan fuel surcharge sebesar 40% pada awal Oktober 2026. Namun, BPS menegaskan dampak kebijakan tersebut terhadap inflasi bergantung pada harga tiket yang benar-benar berlaku di pasar.
Secara nasional, kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 0,13% secara bulanan (month-to-month/mtm), dengan andil sebesar 0,02 poin persentase terhadap inflasi Oktober.
Kalimantan Selatan mencatat kenaikan tarif angkutan udara tertinggi sebesar 15,73% mtm, disusul Bengkulu 12,51%, Papua 10,77%, Maluku 7,80%, dan Jambi 7,61%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, perbedaan kenaikan tarif antarwilayah dipengaruhi oleh karakteristik rute penerbangan domestik serta frekuensi penerbangan di masing-masing daerah.
Kenaikan tarif pesawat yang tidak merata ini menunjukkan adanya tekanan harga transportasi di sejumlah wilayah, meskipun kontribusinya terhadap inflasi nasional secara keseluruhan masih relatif terbatas.
7. Danantara Jadi Pemodal Awal PFII, Investor Ditawarkan Insentif Pajak Hingga 100%
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan dan insentif perpajakan untuk mendukung pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2026.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan menjadi sumber modal awal Lembaga Pengelola Pusat Finansial Internasional Indonesia (LP PFII). Berdasarkan Pasal 24, modal awal tersebut wajib diserahkan dalam bentuk dana tunai dengan besaran yang mempertimbangkan kebutuhan operasional pada tahap awal pembentukan.
Meski menjadi pemodal awal, investasi khusus Danantara tidak memberikan hak kepemilikan maupun pengendalian terhadap LP PFII.
Selain Danantara, sumber modal awal juga dapat berasal dari badan usaha, hibah barang milik negara atau daerah, serta sumber lain yang sah.
UU tersebut turut membuka peluang penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membiayai kebutuhan operasional serta pembayaran hak keuangan dan fasilitas bagi sumber daya manusia (SDM) di lingkungan PFII.
Pengajuan pembiayaan melalui APBN dilakukan lewat Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN). Sementara itu, Dewan PFII wajib menyampaikan rencana kerja dan anggaran penggunaan modal awal kepada Presiden untuk memperoleh persetujuan paling lambat 30 hari kalender setelah modal diterima.
Dari sisi investasi, pemerintah juga menawarkan insentif berupa pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) Badan hingga 100% bagi pelaku usaha yang menjalankan kegiatan di kawasan PFII, sesuai ketentuan yang berlaku.
Berdasarkan Pasal 49 UU Nomor 6 Tahun 2026, terdapat 35 jenis kegiatan usaha yang tercakup dalam tiga kelompok utama, yakni sektor keuangan, jasa penunjang sektor keuangan, serta kegiatan usaha lainnya.
Sektor keuangan mencakup 18 kegiatan usaha, antara lain perbankan, asuransi, pasar modal, bursa karbon, dana pensiun, modal ventura, perdagangan komoditas internasional, bulion, family office, hingga manajemen investasi.
Sementara itu, sektor penunjang keuangan mencakup 10 kegiatan usaha, termasuk jasa akuntan publik, notaris, konsultan hukum, konsultan pajak, aktuaris, dan konsultan keuangan.
Adapun tujuh kategori kegiatan usaha lainnya meliputi transportasi, akomodasi, kesehatan, pengelolaan sampah dan limbah, pariwisata, makanan dan minuman, serta bidang usaha lain yang ditetapkan Dewan PFII.
Kehadiran PFII beserta berbagai fasilitas perpajakannya diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investasi, memperkuat industri jasa keuangan, dan mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat aktivitas keuangan internasional.
Namun, implementasi kebijakan tersebut tetap perlu dicermati, khususnya terkait kebutuhan pendanaan awal, penggunaan APBN, serta efektivitas insentif pajak dalam menarik investasi baru.
8. Rapat KSSK
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar rapat dan konferensi pers pada hari ini, Selasa (3/11/2026).
Menarik ditunggu apa hasil kajian dari sistem keuangan Indonesia di kuartal III serta kebijakan baru apa yang akan disampaikan anggota KSSK.
Di tengah gejolak global, pernyataan KSSK diharapkan bisa memberi arah yang jelas ke depan mengenai kebijakan sektor keuangan Indonesia.
Anggota KSSK juga dharapkan bisa menjawab pertanyaan public mengenai kejatuhan pasar modal Indonesia serta rupiah serta dampak aturan baru pasar modal.
9. Manufaktur China Melandai
PMI Manufaktur China versi RatingDog turun tipis menjadi 52,0 pada Oktober 2026, dari 52,1 pada September. Meski melemah, angka ini melampaui perkiraan pasar sebesar 51,6 dan menandai ekspansi selama 11 bulan berturut-turut.
Produksi tumbuh pada laju tercepat dalam enam bulan, didorong kenaikan pesanan baru dan peluncuran produk baru. Permintaan ekspor juga meningkat, meski lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Aktivitas pembelian perusahaan meningkat untuk memenuhi pesanan, sementara waktu pengiriman pemasok membaik. Di sisi harga, tekanan biaya input mereda, tetapi harga jual turun akibat persaingan yang ketat.
Namun, optimisme bisnis melemah ke level terendah dalam sembilan bulan. Perusahaan mengkhawatirkan tingginya harga input dan persaingan yang semakin ketat.
Ekspansi manufaktur China berpotensi menopang permintaan terhadap komoditas dan bahan baku Indonesia. Namun, pelemahan optimisme bisnis serta persaingan harga dapat membatasi kekuatan permintaan ke depan.
10. PMI Manufaktur AS Naik
PMI Manufaktur AS naik menjadi 55,5 pada Oktober 2026, dari 54,5 pada September. Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar 54,6 dan menandai ekspansi sektor manufaktur tercepat kedua dalam hampir empat tahun.
Kenaikan terutama ditopang oleh produksi yang meningkat ke 59,0 dari 56,7, sementara pesanan baru juga tumbuh lebih cepat. Namun, pertumbuhan tenaga kerja sedikit melambat.
Di sisi lain, indeks harga turun menjadi 75,2 dari 77,9, tetapi tekanan inflasi masih tinggi. Permintaan dari sektor kecerdasan buatan (AI), pusat data, semikonduktor, dan infrastruktur terus menopang aktivitas industri.
Dampak bagi Indonesia: Penguatan manufaktur AS mencerminkan permintaan industri yang masih solid, tetapi tekanan harga dan ketidakpastian tarif dapat memengaruhi perdagangan global. Bagi pasar keuangan, data ekonomi yang kuat juga bisa membuat The Fed lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
11.. Data Ketenagakerjaan JOLTs AS
Pada hari ini Selasa (3/11/2026), AS akanmengumumkan data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk September 2026 akan dirilis. Data ini akan menjadi indikator permintaan tenaga kerja melalui jumlah lowongan yang tersedia.
Sebagai catatan, lowongan kerja di Amerika Serikat turun 256.000 menjadi 7,079 juta pada Agustus 2026, terendah dalam lima bulan. Angka ini berada di bawah revisi Juli sebesar 7,335 juta dan ekspektasi pasar 7,23 juta.
Penurunan terbesar terjadi pada sektor jasa profesional dan bisnis (-119.000) serta kesehatan dan layanan sosial (-115.000). Lowongan juga turun di sektor manufaktur, konstruksi, dan perdagangan grosir.
Sementara itu, jumlah perekrutan relatif stabil di 5,2 juta dan total pemutusan hubungan kerja maupun pengunduran diri tidak banyak berubah.
Penurunan lowongan kerja mengindikasikan pasar tenaga kerja AS mulai mendingin. Kondisi ini dapat memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter, meski keputusan suku bunga tetap bergantung pada data inflasi dan ketenagakerjaan lainnya.
(slm/slm)