MARKET DATA
Newsletter

November Baru Mulai, RI Langsung Diguncang 10 Kabar Panas Pekan ini!

mae,  CNBC Indonesia
02 November 2026 05:55
Kolase Bahan Pangan. (CNBC Indonesia)
Foto: Kolase Bahan Pangan. (CNBC Indonesia)

Pasar keuangan Indonesia dan global menghadapi pekan krusial pada awal November 2026. Sejumlah agenda ekonomi dan politik berpotensi menggerakkan rupiah, IHSG, imbal hasil obligasi, hingga arus modal asing.

Dari dalam negeri, investor menanti data inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, neraca perdagangan, serta cadangan devisa. Sementara dari AS, pemilu sela, data tenaga kerja, dan aktivitas manufaktur menjadi sorotan utama.

Berikut 10 sentimen dan kabar genting yang wajib dicermati pekan depan.

1. PMI Manufaktur RI

Pada hari ini, Senin (2/11/2026), S&P Global akan merilis data PMI Manufaktur Indonesia untuk Oktober 2026.

Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,48 di September 2026 atau mengalami ekspansi,


Permintaan terhadap barang Indonesia meningkat. Pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari, didorong oleh peningkatan permintaan dan dimulainya proyek-proyek baru.

Pesanan ekspor juga meningkat untuk bulan kedua berturut-turut, sekaligus mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

2. Inflasi Oktober 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis inflasi Oktober 2026 pada hari ini Senin (2/11/2026). Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi/lembaga memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik atau mengalami inflasi sebesar 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan mencapai 3,25%.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi September sebesar 0,30% mtm dan 3,28% yoy. Namun, kenaikan harga beras dan minyak goreng berpotensi menahan perlambatan inflasi.

Kepala ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan inflasi akan melandai seiring meredanya inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food), inflasi inti yang tetap terkendali, serta penurunan tipis harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Namun, sejumlah harga pangan tetap menunjukkan kenaikan, terutama beras, minyak goreng, dan gula pasir.

Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan kelompok harga yang diatur pemerintah diproyeksikan mencatat deflasi didorong oleh tarif angkutan udara serta tidak berubahnya harga BBM nonsubsidi.

"Inflasi Oktober terutama didorong oleh kenaikan harga sejumlah bahan pangan, seperti gula, minyak goreng, daging sapi, gandum, kedelai, cabai merah, dan bawang merah," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

3. Neraca Perdagangan September 2026

BPS juga akan merilis data neraca perdagangan untuk September 2026. Publik menunggu apakah neraca perdagangan masih akan melanjutkan surplus di tengah tingginya nilai impor minyak.

Sebagai catatan, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai US$ 26,61 miliar melampaui nilai impor US$ 23,06 miliar per Agustus 2026.

4. Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2026

BPS dijadwalkan mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pada Kamis (5/11/2026).

Data ini sangat penting untuk menjadi tolak ukur ketahanan ekonomi RI di tengah masih panasnya perang serta minimnya katalis pertumbuhan dari dalam negeri.

Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh sebesar 5,29 % secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini tercatat melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya 5,61% yoy.

Sementara secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada 25 September lalu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai minimal 5,5% pada semester II-2026, termasuk kuartal III-2026. Target ini mencerminkan optimisme pemerintah terhadap momentum pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.

5. Cadangan Devisa per Oktober 2026

Bank Indonesia (BI) pada Jumat (6/11/2026) akan mengumumkan, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026.

Data ini akan mencerminkan berapa besar cadev yang digunakan BI untuk intervensi nilai tukar di tengah amblesnya rupiah pada Oktober 2026.

Sebagai catatan, posisi cadangan devisa per September 2026 mencapai US$ 146,3 miliar. Jumlah ini turun tipis sekitar US$200 juta dibanding dengan posisi pada akhir Agustus 2026.

Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

6. Aturan Baru BEI: Saham HSC Keluar dari IHSG

BEI akan mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai Senin (2/11/2026).

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan kebijakan ini tidak serta-merta memicu penurunan atau lonjakan drastis indeks. Bobot saham yang dikeluarkan akan didistribusikan kepada konstituen IHSG lainnya.

Selain pemberlakuan pengeluaran saham-saham HSC, BEI juga akan mengosongkan daftar saham short selling pada November 2026, di tengah kondisi pasar yang mengalami volatilitas dan tekanan jual tinggi.

Kebijakan tersebut diambil setelah BEI menilai fluktuasi pasar saat ini tidak didukung analisis fundamental yang baik.

BEI menetapkan 5 saham yang dikeluarkan dari daftar efek short sell, antara lain, PT. Astra International Tbk (ASII), PT. Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT. Barito Pacific Tbk (BRPT), PT. Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Selain itu, BEI juga mencatat sebanyak 11 saham dikeluarkan dari daftar efek margin, yaitu PT. Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN), PT. Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML), PT. Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT. Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR), PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Selanjutnya, ada PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT. Esta Indonesia Tbk (NEST), PT. Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), PT. Putra Mandiri Jembar Tbk (PMJS), PT. Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE), dan PT. Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM).

7. Data Manufaktur China


China akan merilis data Indeks PMI manufaktur RatingDog untuk Oktober 2026.

Sebagai catatan, aktivitas manufaktur versi RatingDog menunjukkan indeks naik menjadi 52,1 di September 2026 dari 51,5 pada Agustus, melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,6. Capaian ini menandai ekspansi terkuat sejak April.

Penguatan ditopang meningkatnya permintaan dari pasar domestik dan luar negeri. Penjualan ekspor tumbuh pada laju tercepat dalam tujuh bulan, sementara produksi mencatat pertumbuhan terkuat sejak April seiring tingginya permintaan pelanggan dan peningkatan kapasitas produksi.

PMI Manufaktur Umum China versi RatingDog, yang disusun S&P Global, didasarkan pada survei bulanan terhadap sekitar 650 perusahaan manufaktur dari berbagai sektor dan skala usaha. Survei ini menggunakan pembobotan berdasarkan kontribusi masing-masing perusahaan terhadap produk domestik bruto (PDB).

Pada Sabtu (1/11/2026), National Bureau of Statistics (NBS) China sudah merilis data aktivitas manufaktur untuk Oktober 2026.

Aktivitas manufaktur China kembali masuk zona kontraksi pada Oktober 2026 dengan indeks ada di 49,3 dari 50,1 pada September, sekaligus menjadi level terendah sejak Juli. Angka ini juga di bawah ekspektasi pasar sebesar 50,0.

Pelemahan terjadi seiring meredanya dorongan belanja selama libur Golden Week dan lesunya permintaan domestik. Permintaan eksternal juga melemah, meski perdagangan terkait kecerdasan buatan (AI) masih relatif tangguh.

Optimisme bisnis turut melemah. Indeks kepercayaan usaha turun ke 53,4, level terendah dalam tujuh bulan.

Data ini mengindikasikan pemulihan sektor manufaktur China masih rapuh, dengan permintaan domestik dan eksternal belum cukup kuat untuk menopang ekspansi.

8. Pemilu Sela AS: Ujian Berat bagi Trump

Pemilu sela AS akan digelar pada Selasa (3/11/2026) waktu setempat. Pemilu akan menentukan penguasaan Kongres dan memengaruhi kemampuan Presiden Donald Trump menjalankan agenda pemerintahannya.

Seluruh 435 kursi DPR AS dan 35 dari 100 kursi Senat akan diperebutkan. Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi DPR dalam pemilu sela.

Survei Reuters/Ipsos yang rampung pada 26 Oktober menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump sebesar 32%. Demokrat juga unggul dalam preferensi pemilih terdaftar, dengan dukungan 47% dibandingkan 36% untuk Republik.

Hasil pemilu berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal dan politik AS, sekaligus menjadi perhatian investor global.

9. Data Tenaga Kerja AS

AS akan mengumumkan sejumlah data tenaga kerja pada pekan ini.

Pada Selasa (3/11/2026), data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk September 2026 akan dirilis. Data ini akan menjadi indikator permintaan tenaga kerja melalui jumlah lowongan yang tersedia.

Selanjutnya, laporan ADP untuk September 2026 akan dirilis pada Rabu (4/11/2026).
Data ini akan memberikan gambaran perubahan tenaga kerja sektor swasta, meski tidak dapat dijadikan prediksi langsung laporan tenaga kerja resmi pemerintah atau Nonfarm Payrolls (NFP) karena perbedaan metodologi.

Puncak perhatian tertuju pada Jumat (6/11/2026), saat data NFP dan angka pengangguran Oktober 2026 akan dirilis.

Sebagai catatan, jumlah lowongan kerja di AS turun 256.000 menjadi 7,079 juta pada Agustus 2026, terendah dalam lima bulan. Angka ini di bawah posisi Juli sebesar 7,335 juta dan ekspektasi pasar 7,23 juta.

Ekonomi AS juga hanya menambah 29.000 tenaga kerja pada September 2026, jauh di bawah ekspektasi 90.000 dan turun tajam dari 133.000 pada Agustus.

Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,2% pada September 2026 dari 4,1% pada Agustus, sedikit di atas ekspektasi pasar 4,1%.

Jumlah pengangguran bertambah 78.000 menjadi 7,11 juta orang. Namun, jumlah penduduk bekerja meningkat 406.000 menjadi 163,15 juta, sementara.

10. Data Manufaktur dan Jasa AS

AS akan mengumumkan data ISM Manufacturing Services Oktober 2026 pada hari ini, Senin (2/12/2026) dan data PMI Manufaktur Oktober 2026 pada Rabu (4/11/2026).

Sebagai catatan, PMI Jasa AS turun menjadi 54,9 di September 2026 dari 55,4 di Agustus, tetapi tetap berada di zona ekspansi selama 27 bulan berturut-turut. Aktivitas bisnis dan pesanan baru melambat, sedangkan tenaga kerja kembali tumbuh tipis.

Sementara itu, PMI Manufaktur AS turun tipis menjadi 54,5 pada September 2026 dari 54,6 pada Agustus, tetapi masih menunjukkan ekspansi yang kuat. Pesanan baru dan tenaga kerja meningkat, sementara produksi melambat

(mae/mae)


Most Popular
Features