MARKET DATA
Newsletter

November Baru Mulai, RI Langsung Diguncang 10 Kabar Panas Pekan ini!

mae,  CNBC Indonesia
02 November 2026 05:55
Papan di atas lantai perdagangan menunjukkan angka penutupan indeks industri Dow Jones di Bursa Efek New York, Jumat, 2 Agustus 2024. Saham anjlok pada hari Jumat karena kekhawatiran ekonomi AS dapat terpuruk akibat beban suku bunga tinggi yang dimak
Foto: Papan di atas lantai perdagangan menunjukkan angka penutupan indeks industri Dow Jones di Bursa Efek New York, Jumat, 2 Agustus 2024. Saham anjlok pada hari Jumat karena kekhawatiran ekonomi AS dapat terpuruk akibat beban suku bunga tinggi yang dimaksudkan untuk menekan inflasi. (AP/Richard Drew)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (30/10/2026).

Indeks Nasdaq Composite anjlok sementara Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan yang lebih terbatas. Investor mulai keluar dari saham-saham utama yang terkait dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan beralih ke sektor pasar yang lebih defensif.

Nasdaq yang didominasi saham teknologi merosot 2,86% dan ditutup di level 25.437,00. Penurunan ini menjadi kinerja harian terburuk indeks tersebut sejak Juni. Nasdaq juga berada sekitar 8% di bawah level tertinggi terbarunya.

Dow Jones melemah 572,25 poin atau 1,09% ke 51.770,31. Sementara itu, S&P 500 turun 1,82% ke 7.580,07.

Tekanan jual semakin kuat pada perdagangan sore ketika investor merealisasikan keuntungan menjelang akhir bulan dan pemilihan sela (midterm elections) AS yang diperkirakan berlangsung sengit pekan ini.

Saham Amazon turun lebih dari 1% setelah perusahaan melaporkan laba dan pendapatan kuartal III yang berada di bawah ekspektasi Wall Street. Raksasa e-commerce dan komputasi awan itu juga mencatat arus kas bebas negatif sebesar US$42,4 miliar serta mempertahankan proyeksi belanja modal 2026 sebesar US$220 miliar.

Intel mengalami penurunan lebih tajam, anjlok hampir 29% setelah memberikan proyeksi kinerja kuartal berjalan yang lemah. Perusahaan menyoroti perlambatan pasar PC. Pendapatan divisi client computing dan komputasi AI fisik turun 5% secara tahunan menjadi US$8,1 miliar.

Saham Sandisk juga merosot 13%, meskipun hasil keuangan kuartal pertama fiskalnya melampaui perkiraan analis. Perusahaan penyimpanan data tersebut turut mengumumkan pemecahan saham (stock split) dengan rasio delapan banding satu.

Tekanan juga melanda produsen cip lainnya. Advanced Micro Devices (AMD) turun hampir 11%, sedangkan Nvidia dan Broadcom masing-masing melemah 4% dan 5%.

Investor beralih ke sektor defensif

Di tengah aksi jual saham teknologi, investor mengalihkan dana ke sektor yang dinilai lebih defensif, seperti barang kebutuhan pokok dan kesehatan.

Saham Walmart dan Coca-Cola masing-masing naik lebih dari 1%, sehingga membantu membatasi pelemahan Dow Jones. Saham anggota Dow lainnya, Merck dan Amgen, juga mencatat kenaikan.

Keith Buchanan dari Globalt mengatakan perubahan sentimen pasar mulai terlihat, meskipun keberlanjutan rotasi investasi tersebut masih belum dapat dipastikan.

Menurut dia, investor kini semakin kritis dalam menilai prospek bisnis dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan nyata dari investasi teknologi.

"Tahun lalu adalah tentang harapan. Tahun ini, pertanyaannya adalah: pada akhirnya, bagaimana semua ini bekerja dalam dunia nyata, seperti bagaimana membiayainya dan siapa yang mendapatkan keuntungan ekonominya," kata Buchanan, dikutp dari CNBC International.

Ia menambahkan, risiko terhadap ekonomi riil mulai menjadi perhatian pasar.

Sentimen negatif juga diperkuat laporan Financial Times yang mengutip sejumlah sumber bahwa Blackstone memberi tahu investor bahwa Anthropic mungkin tidak memperoleh peringkat layak investasi setelah perusahaan tersebut melantai di bursa.

Dokumen pendaftaran penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) Anthropic sempat mendorong saham terkait AI pada awal pekan. Namun, tekanan kembali muncul ketika investor mencerna laporan keuangan perusahaan teknologi.

Sehari sebelumnya, saham Alphabet mencatat penurunan harian terburuk dalam sejarahnya setelah perusahaan induk Google itu melaporkan laba dan pendapatan kuartal III di bawah ekspektasi, serta arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar. Pelemahan Alphabet turut menyeret Nasdaq turun lebih dari 1% pada perdagangan reguler Kamis.

Belanja AI dan utang mulai menghantui pasar

Perdagangan Jumat menjadi hari terakhir pasar saham AS pada Oktober. Sepanjang bulan tersebut, investasi AI menghadapi tekanan seiring meningkatnya perhatian investor terhadap besarnya belanja infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Alphabet dan Microsoft, dua perusahaan hyperscaler yang mengoperasikan infrastruktur komputasi awan berskala besar, tidak menaikkan proyeksi belanja modal mereka.

Di sisi lain, perusahaan neocloud-penyedia komputasi awan yang menopang infrastruktur pusat data AI-menghadapi sorotan terkait tingkat utang mereka.

CoreWeave menjadi salah satu contoh utama kekhawatiran tersebut. Imbal hasil obligasinya melonjak, sementara sahamnya anjlok 37% sepanjang Oktober. Saham Nebius juga merosot hampir 35% pada periode yang sama.

Tekanan turut terlihat pada produk investasi yang berkaitan dengan memori AI dan teknologi. Roundhill Memory ETF (DRAM), yang mencakup saham Micron dan Seagate Technology, turun 20% sepanjang Oktober. Sementara itu, iShares A.I. Innovation and Tech Active ETF (BAI) melemah hampir 17%.

Pada akhir Oktober, Nasdaq mencatat penurunan bulanan sebesar 5,3%, menjadi yang terdalam sejak Maret 2025. S&P 500 turun 0,9%, sedangkan Dow Jones justru menguat 1,7%.

Pergerakan tersebut memperlihatkan perubahan selera risiko investor: saham teknologi dan AI yang sebelumnya menjadi motor pasar kini menghadapi tekanan, sementara sektor yang lebih defensif relatif mampu bertahan.

(mae/mae)


Most Popular
Features