Merawat 'Emas Cokelat' di Tanah Sulawesi, Ubah Hidup Lewat Layar HP
Jakarta, CNBC Indonesia - Wayan Sudiarsa memulai harinya dengan secangkir kopi ketika matahari masih sayup-sayup, sekitar pukul 05.00 WITA. Sudah segar menenggak kafein, pria berusia 52 tahun itu bergegas ke kebun kakao miliknya di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah.
Jalan menuju kebun cuma selemparan batu dari rumah W. Sudiarsa di dekat Balai Desa Langudon. Medannya hanya sanggup dilalui pengemudi motor andal. Salah sedikit, pengendara bisa terjerembap jatuh saking terjal dan penuh bebatuan.
Di lahan seluas 0,75 hektare tersebut, tumbuh 300 pohon kakao yang menghidupi W. Sudiarsa dan keluarganya. Ia mengecek pohon satu per satu untuk melihat daun yang harus dipangkas, mengoleskan pestisida Alika agar terhindar dari penggerek buah kakao (PBK) alias 'kanker' kakao, hingga memilih buah yang siap petik.
Wayan Sudiarsa (52), perantau dari Bali yang bertransmigrasi ke Sulawesi Tengah untuk mengadu nasib menjadi petani. Foto: Kartini Bohang |
Lahan ini merupakan warisan program transmigrasi pemerintah pada 1996 dari Bali ke Sulawesi Tengah untuk memajukan sektor pertanian. W. Sudiarsa adalah salah satu perantau asal Bali yang kala itu mantap berpindah pulau untuk mengadu nasib.
Selain W. Sudiarsa, ada puluhan transmigran lain dari Jawa dan Bali yang menetap turun-temurun hingga sekarang di Desa Langudon. Mereka turut melestarikan tradisi petani Sulawesi Tengah menanam kakao, komoditas unggulan yang kerap dijuluki 'emas cokelat'.
Pukul 09.00 WITA, urusan kebun selesai. Bagi masyarakat perkotaan, rasanya seperti mimpi di siang bolong jika pekerjaan rampung saat matahari belum tepat berada di atas kepala.
W. Sudiarsa akhirnya bisa bersantai sambil menyantap bekal nasi dan ikan laut masakan sang istri, Iloh. Wajah W. Sudiarsa sumringah ketika bercerita tentang Iloh yang menurutnya lebih melek teknologi.
"Kami cuma punya satu HP dipakai berdua, tapi Bu Iloh lebih sering pegang," kata W. Sudiarsa bangga menceritakan keterampilan sang istri.
Lewat layar HP, Iloh mengambil alih urusan menghubungi pengepul, mengecek harga pasar, serta memantau pergerakan kurs dolar AS yang menjadi faktor penentu harga kakao.
BTS 4G BAKTI Komdigi di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Hariyo Riyantomo |
Dulu, kemudahan ini tak terbayangkan oleh warga setempat, hingga akhirnya sinyal internet masuk melalui infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) 4G BAKTI Komdigi ke Desa Langudon pada 2022.
Warga dengan cepat memanfaatkan teknologi baru tersebut, khususnya untuk urusan pertanian. Maklum, dari 120 Kepala Keluarga (KK) yang menetap di desa wilayah pegunungan Kab. Buol tersebut, 100 orang berprofesi sebagai petani.
Jika Iloh lebih piawai dalam urusan negosiasi harga dan penjualan ke pengepul, W. Sudiarsa lebih banyak menggunakan internet untuk menambah ilmu perkebunan lewat YouTube.
Menurut W. Sudiarsa, kakao ibarat bayi yang harus dirawat secara telaten. Informasi tentang cara membudidayakan kakao hingga penanganan hama banyak ia dapatkan dari layar HP, di samping bimbingan berkala dari penyuluh pertanian setempat.
Salah satu masalah yang bikin petani kakao kalang-kabut adalah hama PBK yang marak sejak kisaran 2010. Hama ini menggerogoti bagian dalam buah dan merusak kualitas biji kakao, hingga memaksa banyak petani menebang pohon mereka.
Perlahan, para petani menemukan solusinya dengan menanam varietas kakao BR-25. Varietas ini memiliki postur batang yang lebih pendek sehingga yang batangnya lebih pendek sehingga mempermudah proses pengolesan obat pembasmi hama.
Teknik vegetatif sambung pucuk jadi andalan. Para petani mengombinasikan batang bawah kakao lokal dengan batang atas BR-25 yang lebih kokoh dan produktif berbuah.
Perkebunan kakao di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Para petani merasakan langsung dampak masuknya jaringan internet berkat kehadiran BTS 4G BAKTI Komdigi. Foto: Kartini Bohang |
Sejak terkoneksi internet, W. Sudiarsa juga makin rajin bereksperimen dari ilmu yang didapatkan di YouTube. Salah satunya meracik pupuk organik sendiri dari bumbu dapur untuk menanam pohon mangga kecil-kecilan di pekarangan rumahnya.
"Lumayan hasilnya buat coba-coba. Tapi kalau untuk pupuk kakao, lebih baik beli," ujarnya.
Kebun kakao W. Sudiarsa panen raya seminggu sekali, dengan hasil terbanyak mencapai 40 kg. Setelah itu, masih ada proses pengeringan hingga hasil panen siap dibawa Iloh untuk dijual ke Ibu Kota Buol yang berjarak sekitar 25 km dari Desa Langudon.
Dalam sebulan, Iloh biasanya rutin dua kali ke Kota Buol mengendarai sepeda motor. "Rata-rata bawa pulang uang Rp2-4 juta sekali pergi," ujar W. Sudiarsa.
Tak cuma mengecek dan membandingkan harga jual terbaik, internet mulai dimanfaatkan Iloh untuk merambah bisnis sampingan. Salah satunya berjualan kue bolu sampai ke desa tetangga.
Aplikasi Telegram dijadikan media promosi jika ia sedang 'mood' membuat kue. Tak jarang, ia menerima dalam jumlah besar untuk hajatan warga. "Rata-rata Bu Iloh bisa dapat tambahan penghasilan Rp100.000 seminggu dari jualan kue," kata W. Sudiarsa.
Pasangan ini memiliki tiga anak perempuan yang kini hidup mandiri di Kota Palu, Kota Buol, dan Bali. Ada yang berkeluarga, ada pula yang lajang.
Rasa rindu ke anak dan cucu bisa langsung terbayar tuntas melalui panggilan video di aplikasi Telegram. Biasanya, Iloh langsung menyerahkan HP ke W. Sudiarsa saat sang cucu bertanya, "Kakek mana?".
"Rasanya senang betul kalau sudah dicari cucu, bisa lihat muka cucu di layar HP," tutur W. Sudiarsa.
Kapok Kerja Kantoran, Banting Setir Jadi Petani Milenial
Dari 100 petani di Desa Langudon, sebanyak 35 petani membudidayakan kakao. Selain Wayan Sudiarsa, ada pula Wayan Adiatmika (33) yang usianya jauh lebih muda, tetapi sudah menggarap 6 hektare lahan perkebunan, termasuk komoditas kakao.
Wayan Adiatmika (33), petani milenial yang dulunya sempat kerja kantoran. Ayah dan kakeknya juga hidup dari bertani. Foto: Kartini Bohang |
W. Adiatmika dulunya kerja kantoran pada 2011-2019, mulai dari menjajal profesi satpam hingga sales. Namun, sejak berkeluarga di tahun 2019, ia memutuskan banting setir menjadi petani penuh waktu. Alasannya sederhana, ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga.
"Saya sudah tidak bisa jauh-jauh lagi dari orang rumah," ujar W. Adiatmika.
Kemewahan lain yang ia dapatkan dari bertani adalah kebebasan waktu. Tak ada atasan yang mengatur jam kerja dan menetapkan target. "Kalau perkebunan kan kita mau jam berapa saja bisa ke kebun," ia menuturkan.
Dari total 6 hektare lahan yang ia kelola, 1 hektare dimanfaatkan untuk menanam kakao. Sisanya ada yang ditanam durian, alpukat, dan buah-buahan lain. Ada juga lahan yang digarap bersama dengan orang tuanya.
Berbeda dari W. Sudiarsa, W. Adiatmika lahir dan tumbuh di Tanah Sulawesi sedari kecil. Kakeknya mengawali jejak transmigrasi ke Sulawesi Selatan, kemudian orang tuanya berpindah ke Sulawesi Tengah pada 1997. Semuanya hidup dari bertani.
Menurut W. Adiatmika, penghasilan sebagai petani sebetulnya bisa lebih moncer ketimbang kerja kantoran. Namun, faktor cuaca menjadi penentu utama. Dalam beberapa bulan terakhir, para petani di Buol dihadapkan pada ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.
Bagi kawasan pegunungan seperti Langudon, dampaknya terasa lebih krusial dibanding wilayah pesisir. Minimnya curah hujan membuat sumber-sumber air mengering sehingga tanaman sulit tumbuh optimal.
Untuk menjaga kelembapan tanah, para petani menyiasatinya dengan menumpuk daun pisang di sekitar batang kakao. Taktik ini tak selalu berhasil. Beberapa pohon gagal berbuah lebat. Jikapun ada, ukurannya relatif lebih kecil. Hal ini berimbas langsung pada pada penurunan volume panen dan pendapatan yang diterima.
W. Adiatmika terhitung baru menggeluti budi daya kakao sejak 2022. Ibaratnya, bibit-bibit kakao yang ia tanam baru belajar berbuah. W. Adiatmika mengaku banyak terbantu informasi di internet terkait proses ekspansi lahan perkebunannya ke komoditas kakao.
"Walaupun banyak belajar dari orang tua dan sesama petani lain, saya juga dapat banyak informasi dan ilmu baru dari YouTube dan TikTok. Banyak tutorial terkait teknik penanaman, perawatan, sampai strategi menggenjot produksi," kata W. Adiatmika.
Terkadang, W. Adiatmika juga membeli alat-alat pertanian dan pupuk melalui platform e-commerce. Dulunya alat-alat tersebut hanya bisa dibeli langsung ketika ia pergi ke kota.
BTS 4G BAKTI Komdigi di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Hariyo Riyantomo |
Ilmu baru yang didapatkan W. Adiatmika dari internet dibagikan pula ke orang tuanya. W. Adiatmika dengan sabar mengajarkan orang tuanya cara mengakses informasi tepercaya di internet, agar terus berinovasi dalam menggarap lahan pertanian.
Setiap dua minggu, kebun kakao W. Adiatmika bisa panen sampai 25 kg. Harga kakao mengikuti pergerakan dolar AS dan pasokan pasar. Sepanjang tahun ini, harga kakao naik-turun cukup tajam: pernah melambung tinggi sampai Rp170.000/kg, pernah juga turun bebas hingga Rp30.000/kg.
Harga terakhir pada pertengahan Oktober 2026 dipatok Rp96.000/kg. Rata-rata yang diperoleh W. Adiatmika selama ini berkisar Rp80.000-90.000/kg. Dari tangan pengepul, mayoritas hasil panen kakao dari Desa Langudon dijual ke Surabaya.
Sejak sinyal internet meluas di Langudon, satu masalah hilang. Petani tak lagi berhadapan dengan tengkulak yang suka 'ngibul' atau menentukan harga seenaknya.
"Sekarang sudah tidak ada tengkulak. Dulu tengkulak datang ke desa-desa buat beli kakao. Sekarang, kami yang bawa hasil panennya langsung ke pengepul di Kota Buol. Petani bisa info-infoan harga dulu sama mereka di WhatsApp. Dari situ bisa banding-bandingkan juga," ia menjelaskan.





