MARKET DATA
Jelajah Sinyal ke Ujung Negeri

Merawat 'Emas Cokelat' di Tanah Sulawesi, Ubah Hidup Lewat Layar HP

Kartini Bohang,  CNBC Indonesia
01 November 2026 10:00
Perkebunan kakao di Desa Langudon, Kec. Bokat, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Para petani merasakan langsung dampak masuknya jaringan internet berkat kehadiran BTS 4G BAKTI Komdigi.
Foto: Kartini Bohang

Tradisi merantau di keluarga W. Sudiarsa dimulai saat ia mengiyakan tawaran transmigrasi pada 1996 silam. "Waktu itu tidak ada pikir dua kali. Saya langsung bilang 'iya'," tegasnya.

Kesempatan merantau ke Tanah Sulawesi seperti membuka harapan baru bagi W. Sudiarsa ketika Bali terasa makin padat penduduk dan kompetitif untuk mengais rezeki. Apalagi, pemerintah kala itu memberikan jatah lahan 2 hektar bagi setiap KK yang mau bertransmigran.

Bersama Iloh dan putri sulung mereka, W. Sudiarsa tiba di Toli-Toli (dulunya Buol Toli-Toli) saat warga Buol memulai perjuangan untuk memisahkan diri menjadi kabupaten sendiri. Cita-cita mereka akhirnya terwujud pada 1999 di bawah pemerintahan B.J Habibie.

Hasil pemekaran Buol Toli-Toli menjadi dua daerah otonom sendiri (Kab. Buol dan Kab. Toli-Toli) ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999. Masyarakat setempat masih menggebu-gebu ketika mengenang bagaimana mereka memperjuangkan pemisahan Buol dari Toli-Toli.

Pada 1996, semua warga Buol yang berdomisili di berbagai wilayah di Indonesia makin intensif berkumpul untuk merumuskan cita-cita sebagai kabupaten sendiri. Mereka kemudian mendirikan Ikatan Keluarga Besar Indonesia Buol (IKIB) pada 1997 untuk memperkuat solidaritas.

"Pemisahan Buol ini bukan dikasih, tapi kami perjuangkan sama-sama," kata seorang warga Buol.

Perjuangan warga Buol berakar pada aspirasi untuk mengelola potensi sumber daya secara mandiri, mengikis kesenjangan pembangunan, serta mempercepat pelayanan publik dan birokrasi pemerintahan tanpa harus menempuh jarak jauh ke pusat pemerintahan di Kec. Baolan, Kab. Toli-Toli.

Dalam empat tahun terakhir (2022-2025), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kab. Buol terus menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah. Bahkan, dilihat dari Umur Harapan Hidup saat Lahir dan Rata-Rata Lama Sekolah pada 2025, Buol berhasil unggul ketimbang rata-rata Provinsi Sulawesi Tengah.

Perkembangan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di Buol, tak lepas dari jaringan internet yang mempermudah kehidupan masyarakat. Selain membangun 34 infrastruktur BTS 4G hingga ke desa-desa di Kab. Buol, BAKTI juga terus memperluas Akses Internet di wilayah Buol menjadi 188 titik hingga 2025, mayoritas untuk kebutuhan pendidikan.

Cita-Cita Besar Generasi Muda Buol

Perubahan juga terasa di pusat kota Buol. Keseharian warga sudah lebih menyatu dengan dunia digital. Di sektor pendidikan, pelaksanaan ujian di sekolah mulai menggunakan aplikasi SIM IGI Portal yang bisa diakses lewat HP dan laptop.

Sistem terintegrasi ini memudahkan penyimpanan bank soal, serta memeriksa hasil ujian pilihan ganda secara otomatis berdasarkan kunci jawaban yang sudah dimasukkan guru. Siswa tidak bisa mengintip jawaban di Google atau chatbot AI, karena akses ke aplikasi lain diblokir ketika sedang membuka laman soal ujian.

Di luar kegiatan sekolah, Kafa (15), siswa SMAN 1 Biau, belajar mengedit video di CapCut dan membuat poster acara di Canva, secara otodidak melalui tutorial di TikTok dan Instagram. Saat ini, ia bergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik bernama SmansaPedia di sekolahnya.

"Kegiatannya macam-macam, ada podcast dan konten wawancara video dengan petani dan pelaku usaha di Buol. Kalau saya lebih sering bikin poster acara pakai Canva," kata Kaffa.

Beda halnya dengan Zahra (15) yang lagi semangat menjelajahi internet untuk riset terkait proyek video yang sedang ia garap. Zahra memiliki keresahan saat melihat banyak anak sepantarannya keluyuran sampai malam sambil boncengan dan balapan, alih-alih fokus belajar.

"Saya mau bikin video edukasi untuk mengajak anak muda tidak terjerumus dalam pergaulan bebas," ia menjelaskan.

Zahra (15), siswi di SMAN 1 Biau, Kab. Buol, Sulawesi Tengah.Zahra (15), siswi di SMAN 1 Biau, Kab. Buol, Sulawesi Tengah. Foto: Kartini Bohang

Ketika ditanya cita-cita saat besar nanti, Zahra mengaku belum terpikir profesi spesifik yang ia sasar. Namun, ia mau kuliah dan bekerja di sektor lingkungan. Menurutnya, tidak ada masa depan indah yang bisa dibayangkan tanpa lingkungan bersih dan sehat, tempat hewan-hewan bisa hidup damai berdampingan dengan manusia.

Jaringan internet terbukti bukan sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan pengubah jalan hidup masyarakat hingga ke pelosok daerah.

Bagi para petani, keberadaan internet membuka akses informasi harga secara real-time, menghapus ketergantungan pada tengkulak, serta memperluas wawasan pertanian modern untuk meningkatkan hasil panen.

Sementara bagi generasi muda di sekolah, internet menjadi gerbang menuju keterbukaan informasi yang mengasah daya pikir kritis, memperluas wawasan digital, serta memberi ruang bagi mereka untuk merajut cita-cita setinggi-tingginya.

Hingga 2026, masih ada 12 dusun dan desa di Kab. Buol yang berstatus blankspot alias tidak dialiri sinyal internet. Masing-masing tersebar di Kec. Badung, Kec. Karamat, Kec. Bukal, Kec. Momunu, Kec. Bukal, Kec. Tiloan, dan Kec. Paleleh Barat.

BAKTI Komdigi berupaya mengurangi titik-titik blankspot tersebut, terutama di wilayah dengan jumlah populasi padat. Kehadiran konektivitas yang merata pada akhirnya menjadi fondasi penting dalam mengikis kesenjangan, memberdayakan ekonomi lokal, dan membangun masa depan daerah yang lebih mandiri dan sejahtera.

(fab/fab)



Most Popular
Features