MARKET DATA

Harga Minyak Dunia Tak Masuk Akal, Ada Permainan China?

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
30 October 2026 15:15
Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)
Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspor minyak dari Timur Tengah mulai pulih setelah berbulan-bulan terganggu akibat perang Iran. Namun, harga minyak dunia justru terus melonjak, bahkan kembali mendekati level tertingginya pada April lalu.

Berdasarkan data Vortexa, ekspor minyak Timur Tengah telah melampaui 17 juta barel per hari dalam sepekan hingga 23 Oktober 2026. Jumlah tersebut hanya sekitar 4 juta barel per hari di bawah level pada 2025.

Meski pasokan meningkat, harga minyak mentah Brent justru melonjak sekitar 20% sejak awal September hingga mencapai US$115 per barel.



Sementara itu, persediaan minyak global masih jauh dari level sebelum perang. International Energy Agency (IEA) mencatat stok minyak dunia yang terpantau hingga akhir September menyusut 509 juta barel dibandingkan akhir Februari 2026. Stok minyak di darat bahkan menjadi yang terendah dalam satu dekade terakhir.

Ada tiga faktor yang membuat harga minyak tetap tinggi meski ekspor dari Timur Tengah mulai pulih, yakni meningkatnya pembelian minyak China, mahalnya ongkos pengiriman, dan kekhawatiran perang kembali memanas.

China Kembali Borong Minyak

China menjadi salah satu alasan mengapa tambahan pasokan minyak belum mampu menekan harga.

Pada Maret 2026, pemerintah China melarang ekspor produk minyak olahan untuk menjaga pasokan dalam negeri di tengah perang Iran. Kilang-kilang pun menggunakan persediaan yang ada, sementara konsumsi bahan bakar ikut menurun.

Harga minyak dan impor minyak ChinaHarga minyak dan impor minyak China Foto: Economist

Akibatnya, impor minyak mentah China anjlok hampir separuh atau sekitar 6 juta barel per hari sepanjang Februari hingga Juni.

Penurunan impor ini turut menahan kenaikan harga minyak dunia. Sebab, ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, permintaan dari China juga sedang melemah.

Namun, keadaan mulai berubah pada Juni. Meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat membuat harga minyak turun, sementara margin kilang di sejumlah negara justru mencetak rekor.

Kondisi tersebut terjadi ketika ekspor minyak dari kawasan Teluk masih terhambat dan kilang-kilang Rusia terus menjadi sasaran serangan Ukraina. Kilang China pun mendesak pemerintah agar kembali mengizinkan ekspor produk olahan.

Sejak Juli, China mulai melanjutkan ekspor produk olahan sekaligus meningkatkan impor minyak mentah.

Dalam tiga pekan hingga 16 Oktober, impor minyak China sudah meningkat lebih dari 3 juta barel per hari dibandingkan Juni.

Menurut Neil Crosby dari FGE NexantECA, kenaikan tersebut cukup besar untuk menyerap sebagian tambahan ekspor minyak Timur Tengah.

Dengan begitu, ketika pasokan minyak mulai pulih, permintaan China juga kembali meningkat. Meski pembelian China belakangan sedikit menurun, lonjakan sebelumnya ikut menahan harga minyak tetap tinggi.

Ongkos Kirim Minyak Makin Mahal

Harga minyak juga terdorong oleh kenaikan biaya pengiriman. Salah satu pemicunya justru berasal dari cara China membeli minyak.

Alih-alih membeli berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan, China lebih banyak berburu harga murah di pasar spot. Menurut Tom Reed dari Argus Media, pola ini membuat permintaan kapal tanker sulit diprediksi sehingga biaya sewanya semakin mahal.

 

Di saat bersamaan, meningkatnya ekspor minyak dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz membuat kebutuhan kapal tanker ikut bertambah.

Pengiriman minyak melalui jalur tersebut juga semakin rumit. Kapal tanker milik negara harus melintasi Selat Hormuz secara tersembunyi untuk mengambil minyak, kemudian memindahkan muatannya ke kapal lain di Teluk Oman.

Kapal penerima bahkan bisa menunggu berhari-hari sebelum mendapat muatan. Akibatnya, lebih banyak kapal terpakai untuk mengangkut minyak dan jumlah armada yang tersedia semakin terbatas.

Lonjakan ongkos angkut pun cukup tajam. Sebelumnya, biaya pengiriman hanya menyumbang sekitar 4% hingga 7% dari biaya minyak yang sampai ke pembeli China. Pada Oktober, porsinya melonjak menjadi 25% hingga 30%.

Dampaknya juga terasa pada harga minyak di berbagai kawasan.

 

Produsen di Amerika Latin dan Afrika Barat harus memberikan diskon agar minyak mereka tetap kompetitif karena jaraknya lebih jauh dari pembeli. Sebaliknya, produsen di Laut Utara bisa mempertahankan harga lebih tinggi.

Selisih harga antara jenis minyak termurah dan termahal bahkan sempat mendekati US$60 per barel. Perbedaan ini ikut mendorong harga Brent naik.

Ancaman Perang Masih Menghantui Pasar

Namun, permintaan China dan kenaikan ongkos kirim belum cukup menjelaskan tingginya harga minyak.

JPMorgan Chase memperkirakan harga Brent saat ini sekitar US$20 per barel lebih mahal dari nilai wajarnya. Selisih tersebut terutama mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan perang kembali mengganggu pasokan minyak Timur Tengah.

Sepanjang Oktober, Iran dilaporkan telah menyerang sedikitnya 30 kapal, jumlah terbanyak dalam satu bulan sejak perang dimulai.

 

Kelompok Houthi dari Yaman juga menyerang sejumlah kota, bandara, kilang minyak, hingga jaringan pipa East-West milik Arab Saudi yang baru selesai diperbaiki.

Pengaruh konflik terhadap harga minyak terlihat dari pergerakan Brent sepanjang Oktober.

Menurut perhitungan Morgan Stanley, dalam sebulan hingga 22 Oktober terdapat delapan hari ketika harga Brent bergerak lebih dari US$2,50 per barel. Pada tujuh hari di antaranya, pergerakan tersebut bertepatan dengan kabar perundingan damai atau meningkatnya ketegangan perang.

Pasar kini juga menunggu langkah Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November.

 

Di tengah ketidakpastian tersebut, volume perdagangan kontrak berjangka Brent yang relatif rendah membuat harga minyak semakin sensitif terhadap spekulasi investor. Dorongan beli dari pelaku pasar yang memperkirakan harga akan naik pun bisa memicu pergerakan harga yang lebih besar.

Jika Trump tidak melanjutkan serangan, harga minyak diperkirakan bisa turun dalam hitungan hari.

Sebaliknya, jika AS kembali melancarkan serangan besar-besaran yang disertai serangan Iran dan Houthi, harga Brent berpotensi melonjak menjadi US$130 sampai US$140 per barel, menurut Jim Burkhard dari S&P Global.

Meski demikian, China masih memiliki stok minyak yang besar, sementara negara-negara maju menyimpan cadangan strategis yang kemungkinan akan digunakan jika harga kembali melonjak.

Untuk saat ini, pasar tampaknya belum melihat gangguan pasokan akan segera berakhir. Harga kontrak berjangka Brent, margin kilang, hingga biaya pengiriman untuk periode mendatang menunjukkan bahwa risiko tersebut masih diperhitungkan hingga 2027.

 

(mae/mae)



Most Popular