MARKET DATA

Menarik Banget! Ini 10 Saham Mercy Harga Bajaj, Mana Pilihan Kamu?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
30 October 2026 13:52
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham yang memerah memang menguji keberanian investor. Namun, bagi mereka yang memiliki horizon investasi panjang, kondisi seperti ini juga membuka kesempatan membeli saham dengan valuasi yang semakin menarik.

Berdasarkan harga penutupan sesi I perdagangan Jumat (30/10/2026), sepuluh saham dalam daftar berikut menawarkan kombinasi valuasi dan imbal hasil dividen yang layak dicermati.

Saham perbankan Himbara menjadi salah satu kelompok yang menonjol, dengan rasio harga terhadap laba berada di kisaran lima hingga tujuh kali.

Harga yang rendah tentu perlu ditopang kualitas bisnis. Tetapi ketika saham perusahaan yang masih mampu menghasilkan keuntungan ikut tertekan oleh pesimisme pasar, investor memiliki alasan untuk mulai menghitung peluangnya.

Dalam pandangan investor, istilah saham valuasi murah sering digambarkan dengan ungkapan saham Mercy harga Bajaj.

Hal ini berarti saham perusahaan yang bagus, berkualitas, dan fundamentalnya kuat, tapi harganya di pasar sedang rendah alias murah dibandingkan nilai wajarnya.

Biasanya, saham Mercy harga Bajaj menggambarkan fundamentalnya bagus seperti laba konsisten, utang sehat, manajemen terpercaya, sehingga jadi lebih aman.

Valuasi Himbara Sudah Semurah Ini

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk BMRI, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk BBRI memperlihatkan valuasi laba yang rendah dalam daftar tersebut. BBNI diperdagangkan dengan PER 5,83 kali dan PBV 0,72 kali. Artinya, harga sahamnya berada sekitar 28% di bawah nilai buku per saham.

BMRI menawarkan PER 5,40 kali dengan PBV 1,18 kali, sedangkan BBRI berada pada PER 6,86 kali dan PBV 1,30 kali. Ketiganya juga mencatatkan yield dua digit pada data yang digunakan.

Kombinasi ini membuat saham Himbara menarik untuk dianalisis sebagai kandidat akumulasi. Apabila kemampuan menghasilkan laba, kualitas kredit, dan pembagian dividennya dapat dipertahankan, harga dalam tabel menawarkan dasar yang menarik bagi investasi jangka panjang.

Di luar perbankan, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan PBV terendah sebesar 0,64 kali, sementara PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) memiliki PER positif terendah sebesar 3,91 kali.

Meski sejumlah angka terlihat murah, kesimpulan bahwa seluruh saham sudah undervalued tetap membutuhkan perbandingan dengan prospek laba, riwayat valuasi, dan perusahaan sejenis. Khusus PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PER negatif perlu dibaca sebagai indikasi kerugian pada basis perhitungan, sehingga analisisnya berbeda.

Kemudian ada juga Surya Citra Media Tbk (SCMA) dengan yield sangat tinggi mencapai 16,53%. Dari sisi valuasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO) merupakan yang cukup tergolong premium walaupun secara valuasi masih sangat murah.

Terakhir terdapat PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) dengan valuasi murah di dalam ekosistem gas bumi yang merupakan isu panas di kancah global dari segi geopolitik hingga saat ini.

Ketika Pasar Takut, Investor Mulai Menghitung Peluang

Sebagai penulis, saya sendiri baru saja melakukan pembelian saham dalam jumlah cukup besar. Keputusan tersebut berangkat dari tesis bahwa Indonesia masih memiliki potensi jangka panjang sebagai bagian dari pasar negara berkembang atau emerging market.

Ini merupakan keyakinan investasi yang saya ambil beserta risikonya, dengan kesadaran bahwa tekanan pasar masih bisa berlanjut.

Dalam pandangan saya, kesempatan membeli yang menarik justru dapat muncul ketika suasana pasar terasa sangat buruk dan masa depan terlihat suram. Pada kondisi itu, ketakutan mudah mendominasi keputusan.

Investor enggan membeli karena khawatir harga kembali turun, lalu baru merasa nyaman ketika harga sudah pulih. Di sinilah psikologi manusia ikut menggerakkan pasar.

Menurut pandangan penulis, pasar merah layak menjadi momentum untuk mempelajari bisnis dan menyusun pembelian bertahap sesuai kemampuan menanggung risiko.

Sepuluh saham di atas menawarkan titik awal yang menarik, terutama perbankan Himbara dengan valuasi laba yang sudah rendah. Keberanian membeli akan lebih berarti ketika ditopang analisis, dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, dan kesiapan menghadapi fluktuasi berikutnya.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular