MARKET DATA

China Ubah Peta Perdagangan Minyak Dunia, Timur Tengah Tetap Jadi Raja

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
05 July 2026 13:00
FILE PHOTO: Oil tanks are seen at an oil warehouse at Yangshan port in Shanghai, China March 14, 2018. REUTERS/Aly Song/File Photo
Foto: REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Pusat perdagangan minyak mentah dunia telah bergeser dalam tiga dekade terakhir. Jika pada era 1990-an arus perdagangan masih banyak ditentukan negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara, kini Asia menjadi motor utama permintaan global.

Melansir OPEC, U.S. Energy Information Administration (EIA), dan UN Comtrade Database, perubahan tersebut berlangsung seiring lonjakan konsumsi energi di China dan India.

China kini menempati posisi sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia. Pada 2025, impor bersih negara tersebut mencapai 11,5 juta barel per hari (million barrels per day/Mbpd). Angka itu melonjak tajam dibanding pertengahan 1990-an ketika impor minyak China nyaris belum terlihat dalam perdagangan global. Pertumbuhan industri manufaktur, urbanisasi, dan peningkatan konsumsi energi membuat kebutuhan minyak China terus meningkat selama hampir tiga dekade.

India mengikuti tren yang sama. Impor bersih minyak mentah negara tersebut naik dari sekitar 0,8 juta barel per hari pada awal 1990-an menjadi 5 juta barel per hari pada 2025. Kenaikan konsumsi dari dua negara berpenduduk terbesar di dunia itu mengubah arah perdagangan minyak internasional. Arus ekspor yang sebelumnya banyak mengalir ke negara-negara Barat kini semakin terkonsentrasi menuju kawasan Asia.

Perubahan besar juga terjadi di Amerika Utara. Melansir dari Visual Capitalist, kawasan tersebut sempat menjadi salah satu importir minyak terbesar dunia pada awal 1990-an. Kondisinya berubah setelah produksi minyak serpih (shale oil) Amerika Serikat berkembang pesat. Produksi domestik yang meningkat, ditambah pasokan dari Kanada, mengangkat Amerika Utara menjadi eksportir bersih minyak sejak 2019. Pada 2025, ekspor bersih kawasan ini telah mencapai 2,5 juta barel per hari.

Meski pusat permintaan bergeser ke Asia, Timur Tengah tetap mempertahankan posisinya sebagai pemasok utama minyak mentah dunia. Pada 2025, ekspor bersih kawasan tersebut mencapai 16,3 juta barel per hari. Volume itu masih jauh lebih besar dibanding negara-negara CIS yang mencatat 6,2 juta barel per hari maupun Afrika sebesar 4,6 juta barel per hari.

Perubahan arus perdagangan ini memperlihatkan bahwa keseimbangan pasar minyak dunia kini semakin dipengaruhi pertumbuhan ekonomi Asia.

Selama kebutuhan energi di China dan India terus bertambah, kawasan tersebut diperkirakan tetap menjadi tujuan utama ekspor minyak global. Sementara itu, Timur Tengah masih memegang peran sebagai pemasok terbesar, sedangkan Amerika Utara semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sumber pasokan baru di pasar internasional.

CNBC Indonesia Research

(emb/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular