Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Tunggu Selat Hormuz Dibuka
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia berbalik menguat tipis pada perdagangan pagi ini, setelah sehari sebelumnya tertekan akibat kabar kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan data Refinitiv hingga Selasa (16/6/2026) pukul 08.35 WIB, harga minyak Brent berada di US$83,40 per barel, naik 0,25% dibandingkan penutupan Senin kemarin di US$83,17 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,42% ke posisi US$81,09 per barel dari sebelumnya US$80,75 per barel.
Kenaikan tipis ini menunjukkan pasar mulai melakukan penyesuaian setelah tekanan besar pada perdagangan sebelumnya. Investor masih mencermati perkembangan terbaru dari kesepakatan AS-Iran, terutama terkait pembukaan kembali jalur pelayaran energi di Selat Hormuz.
Melansir dari Reuters, nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri perang telah ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Penandatanganan resmi kesepakatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat di Jenewa.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, menyebut rancangan kesepakatan itu memuat rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam 30 hari di bawah pengaturan Iran.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena merupakan salah satu jalur paling penting dalam perdagangan minyak dunia. Jalur ini menjadi titik lewat bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Ketika konflik memanas, pasar khawatir pasokan minyak dari kawasan Teluk terganggu.
Namun, kabar damai membuat kekhawatiran tersebut mulai mereda. Pasar kini mulai menghitung potensi kembalinya pasokan minyak dalam jumlah besar ke pasar global apabila Selat Hormuz benar-benar dibuka kembali.
"Dengan pasokan minyak yang sangat mungkin segera masuk pasar, aksi jual terlihat wajar," kata Senior Vice President of Trading Bok Financial Dennis Kissler, dikutip dari Reuters.
Sinyal bertambahnya pasokan juga terlihat dari langkah Iran memangkas harga jual resmi minyak mentah ringannya untuk pembeli Asia. National Iranian Oil Company menetapkan harga minyak light crude untuk Juli sebesar US$7,15 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai, turun dari premi bulan sebelumnya yang mencapai US$13 per barel.
Prospek kembalinya arus perdagangan minyak dari Selat Hormuz juga membuat sejumlah lembaga memangkas proyeksi harga. Citi menurunkan proyeksi rata-rata harga minyak Brent menjadi US$75 per barel pada kuartal III-2026 dan US$70 per barel pada kuartal IV-2026. Pemangkasan ini didasarkan pada ekspektasi bahwa arus perdagangan melalui Selat Hormuz akan kembali pulih dan normal.
Meski demikian, proses normalisasi pasokan belum tentu berjalan cepat. Perang telah membuat pasokan minyak dan gas dalam jumlah besar hilang dari pasar setelah Selat Hormuz ditutup lebih dari tiga bulan. Hingga kini, belum jelas seberapa cepat pasokan tersebut bisa kembali masuk ke pasar setelah jalur pelayaran dibuka.
Head of Research Sparta Commodities Neil Crosby mengatakan, menyiapkan kembali rantai pasok kapal dan menjalankan ulang aktivitas produksi di kawasan Teluk Arab tidak akan mudah. Dia juga menilai sebagian pemilik kapal masih bisa menahan diri untuk kembali masuk ke kawasan tersebut sebelum ada kepastian dari perusahaan asuransi.
Investor juga masih mencermati seberapa cepat produsen Timur Tengah bisa memulihkan produksi dan ekspor minyak setelah kerusakan akibat perang. Berdasarkan laporan terbaru International Energy Agency (IEA), lebih dari 14 juta barel per hari produksi minyak masih terhenti, atau sekitar 14% dari permintaan dunia.
Pemulihan penuh ke level produksi dan pengolahan sebelum perang diperkirakan bisa memakan waktu panjang. Pelaku industri menilai prosesnya dapat berlangsung dalam hitungan pekan, bulan, bahkan tahun, tergantung pada kondisi fasilitas produksi, kilang, dan infrastruktur ekspor.
Di sisi lain, rendahnya persediaan minyak global berpotensi menahan penurunan harga agar tidak terlalu dalam. Analis UBS Giovanni Staunovo menilai stok minyak yang rendah, proses pemulihan produksi yang lambat, serta kebutuhan pengisian kembali cadangan strategis dapat menopang harga minyak dalam jangka lebih panjang.
Dengan kondisi tersebut, harga minyak masih berada dalam fase mencari arah baru. Sentimen damai AS-Iran dan peluang kembali normalnya Selat Hormuz menjadi faktor penekan utama. Namun, proses pemulihan produksi yang belum pasti serta rendahnya persediaan minyak global membuat ruang penurunan harga tetap dibayangi risiko.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google