MARKET DATA

Eropa Dihantam Demo, Euro Babak Belur Tapi Masih Mahal Buat Warga RI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 October 2026 12:10
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi demonstrasi yang terjadi di sejumlah negara Eropa sejak September hingga Oktober 2026 mulai memunculkan kekhawatiran terhadap pasar keuangannya. 

Tidak hanya Prancis, aksi protes juga berlangsung di Italia, Belgia, Spanyol, hingga Portugal. Sebagian demonstrasi bahkan berujung kerusuhan, bentrokan dengan aparat keamanan, serta perusakan sejumlah fasilitas umum. 

Di tengah situasi tersebut, membuat mata uang euro harus kehilangan kekuatannya terutama dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS). 

Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan awal pekan ini Senin (26/10/2026) euro ditutup melemah 0,27% ke posisi US$1,1172. 

Kalau ditarik lebih jauh, sejak akhir Agustus 2026, euro telah mengalami depresiasi sebesar 3,82% terhadap greenback. 

Adapun, secara year to date (ytd), euro tercatat melemah hampir 5%. 

Demonstrasi Meluas, Eropa Semakin Bergejolak

Dalam beberapa pekan terakhir, aksi demonstrasi tidak lagi hanya terjadi di Prancis. Sejumlah negara lain mulai menghadapi tekanan serupa, meskipun tuntutan masyarakat berbeda-beda.

Mengutip Le Monde, Selasa (20/10/2026), Italia menjadi salah satu negara yang mengalami kerusuhan cukup besar.

Demonstrasi pada 17 Oktober di Milan, yang dipicu kenaikan biaya hidup serta ketidakpuasan terhadap pemerintah, berubah menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.

Kerusuhan tersebut menyebabkan sejumlah toko mengalami kerusakan. Pemerintah Italia bahkan mengerahkan tambahan 500 personel militer untuk meningkatkan keamanan di Milan.

Situasi serupa terjadi di Belgia. Pada 9 Oktober, ribuan pekerja dan pelajar turun ke jalan di Brussels untuk memprotes rencana penghematan anggaran pemerintah.

Sebagian aksi berujung bentrokan dengan polisi, termasuk pelemparan benda dan penggunaan gas air mata serta meriam air.

Sementara itu, masyarakat Spanyol turun ke jalan untuk menuntut biaya perumahan yang lebih terjangkau, sedangkan demonstrasi di Portugal banyak menyoroti mahalnya harga rumah, upah, dan dana pensiun.

Meski sebagian besar demonstrasi di Spanyol dan Portugal berlangsung damai, meluasnya aksi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi mulai dirasakan masyarakat di berbagai negara Eropa.

Persoalannya tidak hanya sebatas kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyangkut kondisi keuangan pemerintah dan kemampuan negara dalam membiayai pelayanan publik.

Lalu, bagaimana demonstrasi tersebut bisa memengaruhi pergerakan euro?

Pada dasarnya, demonstrasi tidak secara otomatis membuat nilai tukar suatu mata uang melemah.

Namun, ketika aksi protes berlangsung semakin luas dan berkepanjangan, kekhawatiran investor terhadap stabilitas politik dan kondisi ekonomi suatu negara dapat meningkat.

Apalagi, demonstrasi yang melanda Eropa saat ini terjadi ketika sejumlah negara sedang menghadapi persoalan utang pemerintah, defisit anggaran, serta meningkatnya biaya hidup.

Kondisi tersebut membuat investor khawatir bahwa pemerintah akan semakin kesulitan memperbaiki keuangannya. Pasalnya, upaya penghematan anggaran yang dibutuhkan untuk mengurangi defisit justru berpotensi memicu penolakan masyarakat yang lebih besar.

Kekhawatiran inilah yang kemudian mendorong aksi jual pada sejumlah aset keuangan Eropa, terutama obligasi pemerintah negara-negara yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi.

Investor mulai mengalihkan dana dari aset yang dianggap berisiko menuju instrumen yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah Jerman maupun surat utang pemerintah Amerika Serikat.

Mengutip Reuters, Rabu (7/10/2026), investor semakin selektif dalam menempatkan dananya di pasar obligasi Eropa. Mereka mulai melepas surat utang negara-negara yang memiliki risiko fiskal lebih tinggi dan beralih ke obligasi yang dianggap lebih aman.

Perpindahan dana tersebut menjadi salah satu sumber tekanan terhadap euro. Terutama apabila investor menjual aset berdenominasi euro, lalu menukarkan hasil penjualannya ke dolar AS atau mata uang lain.

Dalam kondisi tersebut, permintaan terhadap euro berpotensi menurun, sementara permintaan terhadap dolar AS meningkat.

Dengan demikian, gejolak demonstrasi dapat memberikan tekanan tidak langsung terhadap euro melalui meningkatnya kekhawatiran investor dan aksi jual di pasar keuangan.

Salah satu tanda paling jelas dari tekanan tersebut terlihat di pasar obligasi pemerintah Eropa, di mana yield sejumlah negara melonjak tajam dan bahkan menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pasar Obligasi Eropa Tertekan

Tekanan di pasar obligasi pemerintah Eropa semakin terlihat sepanjang September hingga Oktober 2026.

Sebagai catatan, ketika investor ramai-ramai menjual obligasi, harga surat utang tersebut akan turun. Sebaliknya, yield atau imbal hasilnya justru meningkat.

Artinya, kenaikan yield yang terjadi karena aksi jual dapat menjadi tanda bahwa investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menanggung risiko dari obligasi suatu negara.

Kondisi inilah yang terlihat pada pergerakan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun di Prancis, Italia, Belgia, Spanyol, hingga Portugal.

Berdasarkan data Refinitiv, yield obligasi di kelima negara tersebut sama-sama meningkat sejak akhir Agustus hingga penutupan perdagangan Senin (26/10/2026).

Prancis mencatat kenaikan paling besar, yakni 73,23 basis poin (bps), disusul Belgia sebesar 50,89 bps dan Italia sebesar 33,24 bps.

Sementara itu, yield obligasi Spanyol meningkat 22,45 bps dan Portugal naik 17,78 bps.

Kenaikan yield dapat menjadi persoalan bagi pemerintahan karena membuat biaya penerbitan utang baru maupun pembiayaan kembali utang yang jatuh tempo menjadi lebih mahal.

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, beban pembayaran bunga utang pemerintah berpotensi semakin besar.

Persoalannya, ketika pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak anggaran untuk membayar bunga utang, ruang untuk membiayai kebutuhan masyarakat juga dapat semakin terbatas.

Situasi tersebut berpotensi menciptakan tekanan baru, terutama di negara-negara yang masyarakatnya sedang melakukan demonstrasi untuk menuntut peningkatan layanan publik, perbaikan pendidikan, hingga bantuan menghadapi mahalnya biaya hidup.

Bagaimana Posisi Rupiah Dibandingkan Euro Dikala Eropa Membara? 

Sangat disayangkan, meskipun Eropa tengah menghadapi tekanan yang sangat besar dari dolar AS, euro masih terpantau mampu menguat terhadap mata uang Garuda, rupiah. 

Berdasarkan data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan awal 2026, kurs euro terhadap rupiah masih berada di level Rp19.575 per euro.

Namun, pada penutupan perdagangan Senin (26/10/2026), nilainya sudah mencapai Rp20.257 per euro.

Dengan demikian, rupiah telah terdepresiasi sekitar 682 per satu euro nya atau melemah 3,48% sejak awal tahun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun euro tengah menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan politik hingga melemah hampir 5% terhadap dolar AS, tekanan yang dialami rupiah ternyata lebih besar.

Alhasil, ketika euro sedang kehilangan kekuatannya terhadap dolar AS, rupiah justru masih belum mampu mengungguli mata uang Eropa tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular