Dolar AS Takluk di Depan Ringgit, Yuan - Won, Rupiah Masih Merana
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan Selasa (27/10/2026) relatif bergerak positif.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.19 WIB menunjukkan enam dari 10 mata uang Asia terpantau menguat terhadap dolar AS, sementara empat lainnya masih bergerak di zona pelemahan.
Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini dengan apresiasi 0,25% ke level TWD32,495/US$.
Won Korea Selatan menyusul dibawahnya dengan penguatan 0,18%, sementara baht Thailand menguat 0,15%.
Yuan China dan ringgit Malaysia sama-sama menguat tipis 0,02%, sedangkan dong Vietnam menguat hanya 0,01%.
Pada sisi lain, rupiah terpantau menjadi mata uang di Asia dengan tekanan paling dalam pada pagi ini. Mata uang Garuda terkoreksi 0,10% ke posisi Rp18.130/US$.
Peso Filipina melemah 0,09%, yen Jepang 0,08%, sedangkan dolar Singapura terkoreksi tipis 0,02%.
Di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia, dolar AS justru masih terpantau mengalami penguatan. Terlihat dari pergerakan indeks dolar AS (DXY) di waktu yang sama menguat 0,06% atau naik ke posisi 102,018.
Posisi tersebut membuat DXY bertahan di sekitar level tertinggi dalam sepekan. Dolar mendapat dukungan dari membaiknya selera investor terhadap aset berisiko setelah saham-saham teknologi di Wall Street kembali menguat.
Minta terhadap sektor teknologi AS kembali meningkat setelah perkembangan terbaru dari perusahaan kecerdasan buatan atau AI mendorong optimisme pasar.
Dolar AS juga mendapat keuntungan dari pelemahan euro. Mata uang bersama Eropa turun mendekati level terendah dalam dua pekan, seiring pasar kembali mencemaskan kondisi fiskal Prancis.
Aksi jual obligasi pemerintah Prancis telah mendorong premi risiko utang negara tersebut ke level tertinggi sejak krisis utang Eropa pada 2011. Kondisi itu ikut menekan euro dan secara tidak langsung menopang DXY.
Namun, perhatian utama pasar valuta pekan ini akan tertuju pada rangkaian keputusan suku bunga sejumlah bank sentral utama dunia.
The Fed hingga BOJ Jadi Sorotan
Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menyelesaikan rapat dua harinya pada Rabu waktu AS atau Kamis waktu Indonesia.
Pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini setelah sebelumnya menaikkan bunga pada September.
Bank Sentral Eropa atau ECB juga diperkirakan menahan suku bunga di level 2,5% pada Kamis.
Sementara Bank of Japan (BOJ) akan mengumumkan kebijakan pada Jumat. BOJ diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 1,25%, tetapi pasar akan mencari petunjuk mengenai peluang kenaikan berikutnya.
Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang paling diperhatikan menjelang keputusan tersebut. Yen melemah 0,08% pagi ini dan berada di sekitar JPY157,63/US$.
Tekanan terhadap yen terjadi setelah mata uang Jepang kehilangan sebagian penguatan yang sempat dicatat pada pekan lalu.
BOJ sendiri masih menghadapi tekanan harga yang cukup tinggi. Data terbaru menunjukkan inflasi sektor jasa Jepang naik 3,7% secara tahunan pada September, memperkuat pandangan bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin dilakukan.
"Kami memperkirakan BOJ akan menyimpulkan bahwa tingkat inflasi konsumen yang mendasari sudah berada pada level yang secara umum sesuai dengan target stabilitas harga 2%," tulis analis MUFG, dikutip dari Reuters.
Namun, MUFG menilai menyentuh target inflasi sekali saja belum cukup. BOJ diperkirakan mulai mengubah fokusnya dari risiko inflasi yang terlalu rendah menjadi pemantauan risiko ke kedua arah.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ pada Desember sedikit lebih besar dari 50%.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)