MARKET DATA
Review Sepekan

Rupiah Stagnan, Won Korea Paling Perkasa Lawan Dolar Pekan Ini

ras,  CNBC Indonesia
29 August 2026 14:00
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak cukup beragam pada perdagangan pekan ini. Di tengah dinamika pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global usai adanya rilis inflasi hingga pidato Chairman The Fed.

Merujuk data Refinitiv per Jumat (28/8/2028), dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak empat mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara lima mata uang melemah dan satu lainnya stagnan.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pekan ini. Won berhasil mengalami apresiasi hingga 0,67% ke posisi KRW 1.376,49/US$.

Dolar Taiwan menyusul dengan penguatan 0,62% ke posisi TWD 31,629/US$. Ringgit Malaysia juga menguat 0,32% ke MYR 4,022/US$, disusul dong Vietnam yang bergerak positif 0,17% ke VND 26.070/US$.

Sementara rupiah stagnan di Rp17.685 per dolar AS pada pekan ini.

Di sisi lain, baht menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia pekan ini dengan pelemahan sebear 1,38% ke posisi THB 33,12/US$.

Yuan China melemah 0,07% ke CNY 6,726/US$. Disusul dolar Singapura yang turun 0,41% ke SGD 1,2745/US$ dan yen Jepang susut 0,7% ke JPY 160,04/US$. Peso Filipina pun turut ambles 0,94% ke PHP 62,227/US$.

Pergerakan mata uang Asia pekan ini masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau menguat 0,91% ke posisi 99,702.

Greenback sebelumnya mendapat dukungan setelah data inflasi dan ekonomi AS sedikit mengangkat kembali ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Data Personal Consumption Expenditures Price Index (PCE) AS menunjukkan inflasi naik 3,7% secara tahunan pada Juli, tidak berubah dibandingkan Juni dan sedikit lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 3,6%.

Secara bulanan, PCE naik 0,2%, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,1%, setelah pada Juni turun 0,1%.

Sementara itu, pelaku pasar juga merespon pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole untuk mendapat gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS yang tampak masih akan hawkish guna menekan tekanan inflasi.

Para pelaku pasar memproyeksikan kenaikan suku bunga bulan September setelah Warsh mengatakan bahwa The Fed akan " memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan " jika para pembuat kebijakan tidak yakin bahwa inflasi inti kembali ke target 2%, yang menandai pernyataan terdekatnya untuk mengakui bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk meredakan tekanan harga.

Para pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada bulan September sebesar 58%, dibandingkan dengan 36% sebelum komentar Warsh, dan peluang kenaikan pada bulan Desember sebesar 89%, menurut alat CME FedWatch.

(ras/luc)



Most Popular