MARKET DATA
Newsletter

Pekan Panas! 7 Bank Sentral Umumkan Suku Bunga-China Gelar Rapat Akbar

mae,  CNBC Indonesia
26 October 2026 06:25
Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)
Foto: Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Kevin Warsh. (Dok. Federalreserve)

Pasar keuangan global dan Indonesia akan menghadapi pekan padat pada minggu ini.

Perkembangan perang masih menjadi penggerak utama pasar pekan ini. Sejumlah agenda penting, mulai dari keputusan bank sentral yang akan menggerakkan pasar saham, obligasi, valuta asing, dan komoditas.

Pada pekan ini, tujuh bank sentral dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter, yakni State Bank of Pakistan pada 26 Oktober; Federal Reserve AS, Bank of Canada, Reserve Bank of New Zealand, dan Bank of Thailand pada 28 Oktober; European Central Bank (ECB) pada 29 Oktober; serta Bank of Japan (BOJ) pada 30 Oktober.

Investor juga akan mencermati data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan zona euro, serta inflasi PCE AS yang menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Berikut sederet agenda ekonomi yang perlu dicermati pasar pekan ini.

1. Sidang Partai Komunis China

Communist Party Fifth Plenum atau Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China merupakan pertemuan penting untuk membahas arah politik dan kebijakan strategis China.

Partai akan membahas arah kebijakan ekonomi, industri, teknologi, dan pembangunan negara dalam beberapa tahun ke depan.

Sidang yang dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Oktober 2026 ini menjadi sorotan karena dapat memberikan sinyal mengenai konsolidasi kekuasaan Presiden Xi Jinping, penguatan pemberantasan korupsi, serta prioritas pemerintahan menjelang 2027.

BEIJING, CHINA - OCTOBER 16: Chinese President Xi Jinping, bottom, speaks during the Opening Ceremony of the 20th National Congress of the Communist Party of China  at The Great Hall of People on October 16, 2022 in Beijing, China. Xi Jinping is widely expected to secure a third term in power. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)BEIJING, CHINA - OCTOBER 16: Chinese President Xi Jinping, bottom, speaks during the Opening Ceremony of the 20th National Congress of the Communist Party of China at The Great Hall of People on October 16, 2022 in Beijing, China. Xi Jinping is widely expected to secure a third term in power. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Foto: Getty Images/Kevin Frayer

Bagi investor global, hasil pertemuan ini penting untuk mencermati kepastian kebijakan, iklim bisnis, dan prospek ekonomi China yang berpengaruh terhadap pasar saham, nilai tukar yuan, harga komoditas, serta negara mitra dagang seperti Indonesia.

2. Laba Industri China September 2026

China merilis data laba industri Januari-September pada Selasa (27/10) pukul 08.30 WIB. Sebagai pembanding, laba industri tumbuh 15,7% secara tahunan pada Januari-Agustus, melambat dari 17,6% pada Januari-Juli. Perlambatan lanjutan dapat menekan prospek permintaan komoditas, sedangkan penguatan laba berpotensi menjadi sinyal perbaikan aktivitas industri dan investasi China.

3. Keputusan Suku Bunga The Fed Oktober 2026

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB, dilanjutkan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB.

Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00%, setelah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada September.

Meski suku bunga diperkirakan tidak berubah, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya.

Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai ulang prospek kebijakan moneter AS.

Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah, arus modal asing, serta daya tarik Surat Berharga Negara (SBN).

4. Pertumbuhan Ekonomi AS Kuartal III-2026

Estimasi awal PDB AS kuartal III dirilis Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.

Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3,2% secara kuartalan dalam hitungan tahunan (annualized), naik dari 2,2% pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan yang lebih kuat dapat menegaskan ketahanan ekonomi AS, tetapi jika disertai inflasi tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama berpotensi menguat.

5. Inflasi PCE Amerika Serikat

AS juga akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September pada Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.

Sebagai catatan, pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4% (YoY) sementara inflasi inti sebesar 3,0% (YoY).

Inflasi PCE inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, diperkirakan naik 0,3% secara bulanan pada September 2026, dari 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 3,1%, dari 3,0%.

Data ini penting karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.

Jika inflasi melampaui perkiraan, kekhawatiran bahwa tekanan harga masih sulit dikendalikan dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat meredakan tekanan terhadap pasar, meskipun diperlukan bukti penurunan yang konsisten sebelum prospek kebijakan moneter berubah secara signifikan.

6. Keputusan Suku Bunga ECB Oktober 2026

ECB dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis (29/10) pukul 20.15 WIB, dengan konferensi pers pada pukul 20.45 WIB.

Konsensus memperkirakan suku bunga operasi pembiayaan utama tetap di 2,65%, sementara suku bunga fasilitas simpanan bertahan di 2,50%.

Investor akan mencermati bagaimana ECB menyeimbangkan risiko inflasi dengan perlambatan ekonomi kawasan Eropa. Tekanan harga energi dan ketidakpastian pertumbuhan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Keputusan mempertahankan suku bunga belum tentu berarti ECB akan menahan kebijakan untuk waktu yang panjang. Karena itu, perubahan nada komunikasi bank sentral akan menjadi perhatian utama pasar.

Pernyataan ECB juga perlu dicermati bersama data ekonomi AS yang dirilis pada hari yang sama. Kombinasi kedua perkembangan tersebut dapat memengaruhi pergerakan euro, dolar AS, dan obligasi global

7. Data Ketenagakerjaan Jepang September 2026

Jepang merilis data ketenagakerjaan Jumat (30/10) pukul 06.30 WIB.

Tingkat pengangguran diperkirakan tetap 2,5%, sementara rasio lowongan terhadap pelamar bertahan di 1,18. Pasar tenaga kerja yang ketat dapat menopang upah dan konsumsi, tetapi juga mempertahankan tekanan biaya. Data ini menjadi salah satu indikator bagi BOJ dalam menentukan arah kebijakan moneter.

8. Penjualan Ritel Jepang September 2026

Jepang akan merilis data ritel pada Jumat (30/10/2026).

Penjualan ritel Jepang September diperkirakan tumbuh 3,3% secara tahunan, meningkat dari 2,7% pada Agustus.

Data yang dirilis Jumat (30/10/2026) ini akan mengukur ketahanan konsumsi di tengah tekanan harga. Penguatan penjualan dapat mendukung prospek ekonomi, sedangkan hasil di bawah perkiraan berpotensi membuat BOJ lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga.

9. Keputusan Suku Bunga BOJ Oktober 2026

BOJ dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Jumat (30/10), dengan waktu pengumuman yang dapat berubah mengikuti jadwal resmi bank sentral.

Konsensus memperkirakan BOJ mempertahankan suku bunga di 1,25%, setelah kenaikan dari 1,00% pada September.

Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk perubahan proyeksi pertumbuhan, inflasi, serta penilaian terhadap perkembangan upah dan konsumsi.

Nada kebijakan yang lebih hawkish berpotensi memperkuat yen dan meningkatkan perhatian investor terhadap penyempitan selisih suku bunga Jepang dengan negara lain.

Perubahan selisih tersebut dapat memengaruhi strategi carry trade, yakni pemanfaatan perbedaan suku bunga antarnegara untuk mencari keuntungan.

Sebaliknya, keputusan mempertahankan bunga tidak serta-merta menutup peluang kenaikan pada pertemuan berikutnya. Petunjuk mengenai waktu dan kecepatan normalisasi kebijakan akan menjadi fokus utama investor.

10. Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro Kuartal III-2026

Estimasi awal PDB zona euro dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB.

Ekonomi diperkirakan tumbuh 0,2% secara kuartalan, melambat dari 0,6% pada kuartal sebelumnya.

Secara tahunan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 1,1%, turun dari 1,2%. Perlambatan yang lebih tajam dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi kawasan dan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan ECB.

11. Tingkat Pengangguran Zona Euro September 2026

Tingkat pengangguran zona euro dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB dan diperkirakan bertahan di 6,4%.

Stabilitas tenaga kerja dapat menopang pendapatan dan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi. Sebaliknya, kenaikan pengangguran bersamaan dengan melemahnya PDB dapat memperbesar kekhawatiran terhadap prospek ekonomi kawasan.

(mae/mae)


Most Popular
Features