MARKET DATA
Newsletter

Pekan Panas! 7 Bank Sentral Umumkan Suku Bunga-China Gelar Rapat Akbar

mae,  CNBC Indonesia
26 October 2026 06:25
Ilustrasi Wall Street. (AP/Richard Drew)
Foto: (AP/Richard Drew)

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (24/10/2026), seiring aksi jual yang sebelumnya menghantam saham teknologi meluas ke sektor lain. Sentimen pasar juga tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah AS yang menembus US$100 per barel di tengah meningkatnya kekhawatiran konflik Amerika Serikat (AS)-Iran kembali memanas.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 652,82 poin atau 1,23% ke level 52.215,16. Indeks S&P 500 turun 0,52% ke posisi 7.623,68, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,21% menjadi 25.955,34.

Saham-saham defensif yang biasanya menjadi incaran investor saat pasar bergejolak justru ikut tertekan. Sektor kebutuhan pokok konsumen, utilitas, dan kesehatan kompak melemah.

 

Saham American Express, salah satu komponen Dow Jones, anjlok lebih dari 3% setelah perusahaan mengumumkan pemangkasan sekitar 5% tenaga kerja globalnya. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan mempersiapkan diri menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Saham Caterpillar juga turun sekitar 2%, sementara Goldman Sachs melemah lebih dari 1%, menambah tekanan terhadap indeks Dow Jones yang beranggotakan 30 perusahaan.

Sehari sebelumnya, saham-saham teknologi mengalami tekanan ketika investor mengevaluasi dampak lonjakan utang korporasi dan kenaikan suku bunga terhadap perusahaan AI dan teknologi lainnya.

Pada perdagangan Jumat, saham Microsoft bergerak naik tipis. Sementara itu, saham produsen cip seperti Micron Technology dan Advanced Micro Devices (AMD) mencatatkan penguatan lebih besar, masing-masing hampir 3% dan sekitar 2%.

Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, mengatakan investor selama dua pekan terakhir berbondong-bondong keluar dari saham teknologi dan perusahaan yang diuntungkan oleh pembangunan pusat data, lalu beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

 

Namun, menurutnya, arus perpindahan tersebut pada akhirnya akan kehilangan tenaga ketika semakin sedikit investor yang bersedia melakukan rotasi serupa.

Ellerbroek menambahkan, kinerja keuangan perusahaan teknologi pada musim laporan keuangan kali ini masih cukup kuat. Hal tersebut memberikan alasan bagi investor untuk kembali mempertimbangkan saham teknologi, alih-alih semata-mata mengikuti sentimen ketakutan di pasar.

"Emosi dan ketakutan memainkan peran yang sangat besar," ujarnya. Meski demikian, sejumlah perusahaan teknologi telah melaporkan hasil keuangan kuartalan yang solid.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik lebih dari 4 basis poin ke kisaran 4,999%.

Sehari sebelumnya, yield acuan tersebut sempat turun di bawah level psikologis 5% untuk pertama kalinya dalam sebulan. Penurunan itu terjadi ketika investor mulai mencermati besarnya kebutuhan utang untuk membiayai pembangunan pusat data AI.

Kinerja Wall Street Sepekan

Secara mingguan, indeks S&P 500 melemah 0,5%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,7%. Sebaliknya, Dow Jones masih mencatatkan kenaikan sebesar 0,4% sepanjang pekan lalu.

Pergerakan ini menunjukkan tekanan di pasar saham AS semakin meluas. Investor kini tidak hanya mencermati valuasi saham teknologi dan kebutuhan pembiayaan AI, tetapi juga harus menghadapi risiko lonjakan harga energi akibat potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.

(mae/mae)


Most Popular
Features