Ramai-Ramai Mata Uang Negara Kaya Betumbangan, Waspada!
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan kekuatannya di pasar valuta global. Sepanjang 2026, mayoritas mata uang utama dunia melemah terhadap greenback, bahkan beberapa di antaranya sudah berada di sekitar level terendah dalam berbulan-bulan.
Kekuatan dolar AS juga terlihat dari indeks dolar AS atau DXY. Indeks yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut sudah menguat sekitar 3% secara year-to-date (YTD).
Merujuk data Refinitiv hingga penutupan perdagangan Selasa (29/9/2026), dari enam mata uang utama yang dipantau, sebanyak lima mata uang melemah terhadap dolar AS sejak awal tahun. Hanya yen Jepang yang masih mampu mencatat penguatan tipis.
Tekanan paling besar dialami krona Swedia. Mata uang tersebut melemah 8,59% terhadap dolar AS sepanjang 2026, dengan kurs USD/SEK berada di level 9,9854.
Franc Swiss menyusul dengan pelemahan 5,19%, sedangkan euro melemah 3,45%. Dolar Kanada turun 3,41% dan poundsterling terdepresiasi 1,79%.
Sementara itu, yen Jepang menjadi satu-satunya dari enam mata uang tersebut yang masih menguat. Yen naik tipis 0,07% terhadap dolar AS sejak awal tahun.
Euro Tertekan hingga Level Terendah Sejak Mei 2025
Tekanan terhadap euro semakin terlihat menjelang akhir September. Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), euro sempat jatuh ke US$1,1312 hingga menjadi level terendah sejak Mei 2025.
Dolar AS bahkan mencetak kenaikan bulanan terbesar terhadap euro dalam sekitar 14 bulan. Sepanjang September, greenback telah menguat hampir 2,5% terhadap mata uang Eropa tersebut.
Salah satu penyebabnya adalah kondisi ekonomi AS yang masih relatif kuat, sementara Eropa menghadapi sejumlah persoalan mulai dari harga energi hingga tekanan fiskal dan politik.
"Ekonomi AS masih berjalan panas, Eropa tertinggal dalam perlombaan AI global, sementara pasokan energi dan politik Prancis tetap menjadi kekhawatiran besar bagi euro," ujar Brent Donnelly, president of foreign exchange trading Spectra Markets, dikutip dari Reuters.
Harga gas acuan Eropa pada awal September bahkan sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2022.
Tekanan juga datang dari Prancis. Pasar masih mencermati persoalan utang dan kebuntuan politik menjelang pemilihan presiden tahun depan. Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dengan Jerman bahkan melebar hingga lebih dari 115 basis poin, terbesar sejak 2012.
Franc Swiss dan Poundsterling Ikut Tertekan
Franc Swiss yang biasanya dicari ketika pasar sedang bergejolak juga tidak mampu melawan penguatan dolar AS.
Dolar sempat menyentuh CHF0,8358 pada perdagangan Selasa, level tertinggi terhadap franc dalam sekitar 16,5 bulan. Artinya, franc bergerak di sekitar posisi terlemahnya terhadap dolar AS dalam lebih dari satu tahun.
Tekanan pada franc salah satunya datang karena investor mulai mencari mata uang berbunga rendah selain yen untuk mendanai transaksi carry trade. Dalam strategi ini, investor meminjam mata uang dengan bunga rendah untuk kemudian menempatkan dananya pada aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Poundsterling juga bergerak melemah. Mata uang Inggris tersebut sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan.
Yen Justru Mampu Bertahan
Di tengah tekanan terhadap mayoritas mata uang utama dunia, yen Jepang menjadi pengecualian.
Yen masih menguat tipis 0,07% terhadap dolar AS sepanjang 2026. Bahkan sepanjang September, dolar AS tercatat melemah sekitar 1,5% terhadap yen.
Pergerakan tersebut didukung oleh perubahan arah kebijakan Bank of Japan (BOJ), kenaikan suku bunga Jepang, serta intervensi bersama AS-Jepang pada Juli dan Agustus untuk menahan pelemahan yen.
Serangkaian peringatan dari otoritas kedua negara juga membuat pelaku pasar lebih berhati-hati untuk kembali menjual yen secara agresif.
Suku Bunga AS Jadi Kunci Berikutnya
Kekuatan dolar AS sepanjang tahun tidak lepas dari kondisi ekonomi AS yang masih cukup kuat dan suku bunga yang kembali naik.
Pasar kini menunggu data inflasi inti Personal Consumption Expenditures atau core PCE, serta laporan tenaga kerja AS pada Jumat. Data yang kembali kuat dapat memperbesar peluang The Federal Reserve/The Fed menaikkan suku bunga lagi dan memberi tambahan tenaga bagi dolar AS.
Namun, ekspektasi tersebut sedikit mereda setelah Presiden The Fed New York John Williams mengatakan tidak ada kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kemudian turun menjadi sekitar 50%, dari sebelumnya 71%.
Dengan DXY yang sudah naik sekitar 3% sepanjang 2026 dan lima dari enam mata uang utama dunia masih tertekan, arah suku bunga AS akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah dominasi dolar berlanjut atau mata uang dunia mulai mendapatkan ruang untuk berbalik menguat.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)