MARKET DATA

IMF Buktikan Dunia Belum Bisa Lepas dari Dolar AS

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
04 July 2026 15:00
Penukaran uang di tempat penukaran uang atau Money Changer Tri Tunggal kawasan Blok M Plaza, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Penukaran uang di tempat penukaran uang atau Money Changer Tri Tunggal kawasan Blok M Plaza, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan taringnya sebagai mata uang cadangan utama dunia saat ini. Setelah sempat terus terkikis pada 2025, pangsa dolar dalam cadangan devisa global justru kembali naik pada kuartal pertama 2026.

Mengutip laporan terbaru International Monetary Fund (IMF) dalam Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER), total cadangan devisa global turun tipis menjadi US$13,10 triliun pada kuartal I-2026. Pada kuartal sebelumnya, nilainya berada di US$13,15 triliun.

Meski total cadangan turun, porsi dolar AS justru meningkat. Pangsa dolar dalam cadangan devisa global naik menjadi 57,13% pada kuartal I-2026, dari 56,42% pada kuartal IV-2025.

Kenaikan ini menjadi menarik karena pada 2025 narasi pelemahan dominasi dolar cukup kuat. Porsi dolar sempat turun dan berada di level terendah dalam beberapa dekade terakhir. Namun, rilis terbaru IMF menunjukkan posisi dolar belum mudah digeser.

Hanya saja, kenaikan pangsa dolar kali ini tidak sepenuhnya terjadi karena bank sentral dunia kembali memborong aset dolar secara besar-besaran.

IMF menjelaskan, penguatan ringan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama menjadi salah satu faktor penting di balik kenaikan pangsa dolar pada kuartal I-2026. Efek valuasi akibat perubahan kurs menyumbang sekitar setengah dari kenaikan tersebut.

Jadi, saat dolar AS menguat terhadap mata uang lain, nilai cadangan devisa yang berdenominasi dolar otomatis terlihat lebih besar dalam perhitungan global. Ini membuat porsi dolar naik, meskipun belum tentu seluruh kenaikan berasal dari pembelian baru oleh bank sentral.

Dolar Naik, Tapi Isu Dedolarisasi Belum Hilang

Kenaikan pangsa dolar pada awal 2026 tidak serta-merta menghapus cerita besar soal dedolarisasi. Dalam jangka panjang, porsi dolar dalam cadangan devisa global tetap jauh lebih rendah dibanding masa jayanya.

Dolar AS masih menjadi raja cadangan devisa dunia, tetapi dominasinya tidak sekuat dulu. Bank sentral global tetap melakukan diversifikasi, baik ke euro, yuan, emas, maupun mata uang lain yang sebelumnya tidak terlalu dominan.

Bagi banyak bank sentral, cadangan devisa tidak hanya soal mencari imbal hasil. Cadangan devisa juga menjadi alat untuk menjaga stabilitas nilai tukar, membayar kebutuhan impor, menghadapi gejolak pasar, dan memberi rasa aman saat krisis.

Karena itu, dolar masih sulit digantikan. Pasar keuangan AS sangat besar, instrumen dolarnya sangat likuid, dan US Treasury masih menjadi salah satu aset paling mudah diperjualbelikan di dunia.

Ada satu catatan penting dari IMF. Pada 2025, emas memang melampaui US Treasury sebagai bagian dari cadangan resmi global. Namun, perkembangan itu terutama didorong oleh kenaikan harga emas, bukan semata-mata karena bank sentral dunia meninggalkan dolar.

Harga emas yang melonjak membuat nilai kepemilikan emas bank sentral ikut terdongkrak. Jika harga emas naik tajam, porsi emas dalam cadangan resmi otomatis terlihat lebih besar.

Namun, hal itu tidak langsung tercermin dalam pangsa dolar di COFER. Sebab, COFER IMF menghitung komposisi cadangan devisa berdasarkan mata uang, bukan menghitung emas sebagai mata uang cadangan seperti dolar, euro, yen, atau yuan.

Euro Turun, Yuan Naik Tipis

Di luar greenback, euro masih menjadi mata uang cadangan terbesar kedua dunia. Namun, pangsanya turun pada kuartal I-2026.

IMF mencatat porsi euro dalam cadangan devisa global turun menjadi 20,03%, dari 20,38% pada kuartal IV-2025.

Sementara itu, yuan China kembali naik tipis. Pangsa renminbi meningkat menjadi 1,99% pada kuartal I-2026, dari 1,95% pada kuartal sebelumnya.

Kenaikan yuan memang masih kecil. Porsinya juga masih jauh dari dolar maupun euro. Namun, pergerakan ini tetap penting karena yuan semakin sering masuk pembahasan dalam perdagangan lintas negara, transaksi energi, hingga upaya sejumlah negara mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Meski begitu, yuan masih menghadapi banyak tantangan besar untuk menjadi pesaing utama dolar. Pasar keuangan China belum sedalam pasar AS, kontrol modal masih menjadi perhatian, dan kepercayaan global terhadap aset yuan belum sebesar kepercayaan terhadap aset dolar.

Karena itu, posisi yuan dalam cadangan devisa global masih lebih tepat dibaca sebagai pelengkap diversifikasi, bukan pengganti dolar dalam waktu dekat.

Yen Jepang Paling Banyak Turun

Tren mencolok pada kuartal I-2026 justru datang dari yen Jepang. IMF mencatat pangsa yen turun dari 5,84% pada kuartal IV-2025 menjadi 5,44% pada kuartal I-2026.

Penurunan sebesar 0,4 poin persentase ini menjadi yang terbesar di antara mata uang utama lain.

IMF menjelaskan, perubahan pangsa mata uang cadangan tidak hanya dipengaruhi kurs. Ada juga faktor pengelolaan aktif oleh bank sentral, pergerakan harga obligasi, hingga perubahan imbal hasil surat utang pemerintah.

Pada kuartal I-2026, yen dan franc Swiss mencatat pergerakan yang cukup besar pada imbal hasil obligasi acuan dibanding mata uang cadangan lainnya. Perubahan imbal hasil ini dapat memengaruhi harga obligasi yang dimiliki oleh pengelola cadangan devisa.

Pangsa pound sterling dan dolar Kanada juga turun tipis. Porsi pound turun 0,01 poin persentase, sementara dolar Kanada turun 0,02 poin persentase.

Sebaliknya, dolar Australia dan franc Swiss justru naik. Pangsa dolar Australia meningkat 0,09 poin persentase, sedangkan franc Swiss naik 0,02 poin persentase.

Mata Uang Lain Masih Bertahan di Atas 6%

Kelompok mata uang lain di luar yang dicatat secara terpisah oleh IMF juga masih bertahan cukup besar. Pada kuartal I-2026, pangsa pasarnya berada di 6,18%. Angka ini turun dari 6,25% pada kuartal IV-2025.

Penurunan tersebut menjadi yang pertama setelah tujuh kuartal beruntun meningkat sejak kuartal I-2024. Meski turun, posisinya masih berada di atas 6%, menandakan diversifikasi cadangan devisa global belum benar-benar berhenti.

mata uang lainnya ini penting karena menggambarkan bahwa diversifikasi bank sentral dunia tidak hanya mengarah ke euro atau yuan saja. Ada banyak mata uang lain yang mulai mendapat ruang lebih besar dalam cadangan devisa global.

Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan yang lebih halus dalam sistem keuangan dunia. Bukan satu mata uang langsung menggantikan dolar, melainkan banyak mata uang kecil perlahan mengambil bagian yang lebih besar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular