20 Jam Penuh Guncangan: Bunga Utang-Minyak Melejit Jelang Putusan Fed
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi tekanan berat pada hari ini di tengah melonjaknya imbal hasil surat utang global.
Investor dan trader juga menunggu keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan jam 01.00 Kamis dini hari atau dalam 19 jam ke depan.
Dari dalam negeri, sejumlah kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan ikut menggerakkan pasar hari ini.
Berikut sejumlah sentimen pasar hari ini.
1. Arab Saudi Keluarkan Peringatan Keamanan, Harga Minyak Makin Liar
Arab Saudi mengeluarkan peringatan keamanan di sejumlah wilayah, termasuk Mekkah dan Jeddah, pada Selasa (15/9/2026), setelah serangkaian serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Peringatan tersebut kemudian dicabut tanpa laporan mengenai jatuhnya proyektil. Namun, alarm di Mekkah menjadi yang pertama sejak perang dimulai.
Kelompok Houthi kini menguasai sejumlah wilayah di pesisir Laut Merah Yaman, termasuk dekat Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran terpenting dunia. Kondisi ini mengancam jalur ekspor minyak Arab Saudi yang menjadi alternatif setelah gangguan di Selat Hormuz.
Arab Saudi juga masih menghadapi gangguan pada East-West Pipeline, jalur minyak sepanjang 1.200 km yang menghubungkan ladang minyak di Teluk dengan Laut Merah. Serangan Jumat lalu membuat jalur tersebut ditutup.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan minyak diperkirakan kembali mengalir melalui pipa tersebut dalam hitungan hari.
Sementara itu, harga minyak terus melonjak. Kenaikan harga minyak berlanjut pada Selasa. Kontrak Brent untuk pengiriman November naik hampir 3% dan ditutup di US$108,75 per barel. Sementara itu, minyak WTI menguat lebih dari 4% menjadi US$105,83 per barel.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, terutama jika gangguan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb berlangsung lebih lama.
Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi juga melambungkan indeks dolar hingga ke posisi 99,62.
2. Yield Utang Dunia Tembus Level Tertinggi Sejak Krisis 2008
Biaya pinjaman pemerintah global mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan 2008. Yield Treasury AS tenor 10 tahun bahkan menembus 5%, mencerminkan tekanan dari melonjaknya utang global dan risiko inflasi.
Rata-rata yield obligasi tenor 10 tahun negara-negara G7 mencapai 4,285%, tertinggi sejak pertengahan 2008 dan sekitar 1 poin persentase di atas level sebelum perang Iran.
Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel akibat konflik yang meluas turut memperkuat tekanan inflasi. Kondisi ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral.
Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu, sementara Bank of Japan (BoJ) diperkirakan menaikkan bunga pada Jumat. ECB juga telah menaikkan suku bunga pekan lalu.
Lonjakan yield membuat biaya utang pemerintah semakin mahal dan meningkatkan beban bunga, sehingga berpotensi mempersempit ruang belanja untuk program sosial, pertahanan, dan lainnya.
"Yield 5% bukan masalah jika ekonomi tumbuh 6,5%. Namun, jika pertumbuhan hanya 5% dengan yield 5%, ceritanya bisa berbeda," kata Samy Chaar, Chief Economist Lombard Odier.
Yield Treasury 10 tahun sempat mencapai 5,041%, tertinggi sejak 2007, sebelum ditutup ke posisi 4,966%.
Kenaikan yield juga terjadi di negara lain. Yield obligasi Jepang 10 tahun menembus 3%, Jerman sekitar 3,55%, Prancis mendekati level tertinggi 18 tahun, dan Inggris mencapai 5,45%, tertinggi sejak 2007.
James Bilson, Global Fixed Income Strategist Schroders, mengatakan kenaikan yield AS saat ini belum menunjukkan meningkatnya risiko kredit pemerintah AS. Namun, kebijakan fiskal, tingginya utang, dan inflasi menjadi faktor utama yang terus membebani pasar obligasi.
3. Rapat FOMC, The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga?
Perhatian investor dan trader dunia hari ini akan tertuju pada keputusan suku bunga The Federal Reserve yang diumumkan Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB.
Konsensus memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Ekspektasi tersebut juga tercermin dalam CME FedWatch, yang mencatat peluang kenaikan mencapai 92,4%.
Besarnya taruhan kenaikan ini mencerminkan jika trader dan investor sudah priced-in terhadap kenaikan.
Karena kenaikan sudah banyak diperhitungkan pasar, fokus investor justru bergeser ke sinyal kebijakan berikutnya. Proyeksi ekonomi terbaru The Fed, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh, serta sesi tanya jawab akan menjadi petunjuk mengenai arah suku bunga ke depan.
Investor dan trader kini lebih menanti mengenai petunjuk The Fed ke depan, terutama seberapa besar dan seberapa banyak kenaikan pada tahun ini.
Jika The Fed memberi sinyal kenaikan lanjutan, dolar AS dan imbal hasil Treasury berpotensi menguat, sementara emas, rupiah, dan saham negara berkembang dapat tertekan. Sebaliknya, nada yang lebih dovish dapat membuka ruang bagi pemulihan aset berisiko.
4. Penjualan Ritel China Melambat, Pengangguran Naik ke Level Tertinggi Sejak Maret
Penjualan ritel China tumbuh 0,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2026, melambat dibandingkan kenaikan 0,6% pada Juli dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,8%.
Penjualan barang bernilai besar, terutama mobil, masih mengalami tekanan. Penjualan mobil anjlok 18,5%. Penurunan juga terjadi pada penjualan furnitur sebesar 7,9%, bahan bangunan 11,8%, serta perhiasan emas dan perak yang merosot 17,5%.
Jika tidak memperhitungkan penjualan mobil, penjualan ritel China tumbuh 2,5%.
China kemarin juga mengumumkan tingkat pengangguran perkotaan yang disurvei naik menjadi 5,3% pada Agustus 2026, dari 5,2% pada bulan sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 5,2% dan menjadi level tertinggi sejak Maret.
Di kalangan tenaga kerja yang terdaftar secara lokal, tingkat pengangguran meningkat menjadi 5,3% dari 5,2% pada Juli. Sementara itu, tingkat pengangguran pekerja migran naik menjadi 5,2% dari 5,1%.
Sepanjang Januari-Agustus, tingkat pengangguran perkotaan berdasarkan survei rata-rata berada di 5,2%. Angka tersebut tidak berubah dibandingkan rata-rata tujuh bulan pertama tahun ini maupun periode yang sama tahun lalu.
5. OJK Luncurkan Bursa Mineral
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) atau Indonesia Commodity Exchange (Icomex) akan diluncurkan pada Kamis (17/9/2026).
Kepala Eksekutif BMKS OJK Sarjito mengatakan pada tanggal tersebut dua RPOJK terkait peralihan dan penyelenggaraan BMKS akan diundangkan sekaligus membentuk Icomex sebagai penyelenggara bursa.
Izin operasional BMKS ditargetkan terbit pada Januari 2027, dengan transaksi perdana melalui Icomex diharapkan berlangsung pada 4 Januari 2027.
Bursa ini merupakan amanat UU Nomor 4 Tahun 2026 dan akan berada di bawah pengawasan OJK. Pembentukannya menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun Indonesia Reference Price, sehingga harga acuan komoditas ekspor Indonesia dapat terbentuk di dalam negeri dan tidak lagi bergantung pada bursa luar negeri.
OJK mengungkapkan timah akan menjadi komoditas tambang strategis pertama yang diperdagangkan di ICOMEX.
Timah dipilih karena sudah lama diperdagangkan di Jakarta Futures Exchange (JFX), meski partisipasinya masih terbatas.
OJK berharap keterlibatan MIND ID dapat meningkatkan transaksi dan likuiditas timah di ICOMEX. Pemerintah juga mendorong transparansi perdagangan serta partisipasi pelaku usaha melalui skema B2B.
ICOMEX akan diluncurkan pada 17 September 2026, dengan izin operasional ditargetkan terbit Januari 2027 dan transaksi perdana pada 4 Januari 2027.
6. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Aktifkan Short Selling
BEI kembali mengaktifkan transaksi short selling mulai 15 September 2026.
Keputusan tersebut mengikuti arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar implementasi pembiayaan transaksi short selling dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, mitigasi risiko, dan efektivitas pengawasan.
BEI akan menerbitkan Daftar Efek Short Selling pada 28 September 2026 yang mulai berlaku untuk periode Oktober 2026.
Sebelumnya, OJK menunda implementasi short selling sejak September 2025 dan memperpanjang penundaan tersebut pada Maret 2026. Kebijakan terbaru OJK pada 9 September 2026 menjadi dasar bagi BEI untuk kembali mengaktifkan mekanisme short selling.
7. Neraca Perdagangan Jepang Agustus 2026
Data neraca perdagangan Jepang akan dirilis Rabu (16/9/2026) pukul 06.50 WIB.
Jepang diperkirakan mencatat defisit 1,05 triliun yen, melebar dari 634,5 miliar yen pada Juli. Pertumbuhan ekspor juga diproyeksikan melambat menjadi 18,2% dari 23,2%.
Defisit yang melebar berpotensi menekan yen, terutama di tengah tingginya biaya energi. Sebaliknya, defisit yang lebih kecil dari perkiraan dapat menopang yen sekaligus menunjukkan kinerja perdagangan yang lebih kuat.
Data ini juga menjadi salah satu indikator penting menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ) pada akhir pekan.
8 Penjualan Ritel AS Agustus 2026
Data penjualan ritel AS akan dirilis Rabu (16/9/2026) pukul 19.30 WIB.
Penjualan ritel diperkirakan melonjak 0,9% secara bulanan, berbalik dari kontraksi 0,6% pada Juli. Namun, proyeksi yang tersedia lebih konservatif di level 0,3%. Penjualan di luar kendaraan diperkirakan naik 0,5%.
Jika realisasi jauh lebih kuat, konsumsi rumah tangga AS menunjukkan ketahanan meski inflasi dan biaya pinjaman tinggi. Namun, data tersebut juga dapat memperkuat alasan The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga ketat.
Sebaliknya, penjualan yang mengecewakan dapat memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi AS.
Bagi pasar Indonesia, data yang terlalu kuat berpotensi menekan rupiah melalui penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury
(mae/mae)