20 Jam Penuh Guncangan: Bunga Utang-Minyak Melejit Jelang Putusan Fed
Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026)atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Investor dan trader mencermati keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pekan ini, yang berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian.
Di saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Dow Jones Industrial Average turun 328,09 poin atau 0,63% ke 52.093,11. S&P 500 melemah 0,45% ke 7.585,73, sementara Nasdaq Composite melandai 0,78% menjadi 25.981,57.
Penurunan S&P 500 dan Nasdaq tertahan oleh kenaikan sejumlah saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), yang sebelumnya berada di bawah tekanan pada perdagangan terakhir.
Coherent naik hampir 2%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) menguat 2%. Qualcomm bahkan melesat lebih dari 4%.
Pada Selasa, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, yakni mencapai 5,041%.
Harga dan yield obligasi bergerak berlawanan arah. Yield kemudian turun dari level tertingginya dan terakhir tercatat naik lebih dari 3 basis poin menjadi sekitar 5,00%.
Pergerakan yield obligasi global menjadi perhatian pasar saham dalam beberapa pekan terakhir. Obligasi pemerintah mengalami aksi jual di tengah kekhawatiran bahwa perang AS-Iran yang masih berlangsung akan mendorong inflasi dan memicu perubahan kebijakan bank sentral menjadi lebih hawkish.
"Investor akhirnya mulai mengejar kekhawatiran yang sebelumnya ada," kata Melissa Brown, Global Head of Investment Decision Research di SimCorp, kepada CNBC International.
Menurut Brown, selain utang pemerintah AS yang telah menembus US$40 triliun dan inflasi yang masih sulit turun, harga minyak yang menembus US$100 per barel juga mulai menjadi perhatian serius investor.
Harga minyak kembali naik setelah Arab Saudi menutup pipa minyak utama yang melewati jalur alternatif dari Selat Hormuz. Kondisi tersebut mendorong kontrak berjangka Brent ditutup di atas US$105 per barel dan minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$101 per barel pada Senin.
Kenaikan harga minyak berlanjut pada Selasa. Kontrak Brent untuk pengiriman November naik hampir 3% dan ditutup di US$108,75 per barel. Sementara itu, minyak WTI menguat lebih dari 4% menjadi US$105,83 per barel.
Selain kenaikan yield Treasury dan harga minyak, keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan pada Rabu juga menjadi perhatian utama investor.
Perdagangan kontrak berjangka suku bunga The Fed menunjukkan probabilitas lebih dari 94% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dari kisaran target saat ini 3,5%-3,75%. Keputusan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian global.
"Pasar setidaknya menginginkan sedikit panduan agar mereka bisa memahami arah kebijakan ke depan," kata Brown.
Menurutnya, jika Warsh menyampaikan bahwa The Fed masih mengkhawatirkan inflasi dan akan mengambil tindakan yang diperlukan, pasar kemungkinan dapat menerimanya. Namun, investor khawatir jika ia tidak memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan moneter.
Dalam catatan pada Selasa, para strategis Barclays mengatakan kenaikan suku bunga telah menekan valuasi saham dan semakin meningkatkan risiko terhadap portofolio ekuitas.
"Sejauh ini, pertumbuhan laba masih mampu mengimbangi tekanan tersebut. Namun, yield Treasury 10 tahun yang mendekati ambang 5% merupakan titik perubahan penting secara historis. Setelah melewati level tersebut, kenaikan suku bunga biasanya menjadi hambatan yang lebih persisten bagi pasar saham," tulis para strategis Barclays.
(mae/mae)