MARKET DATA

Bencana Baru Datang dari Selat Hormuz: Ikan Mati, Air Minum Tercemar

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
15 September 2026 20:10
Bukan Selat Hormuz, Ini Jalur Laut yang berbahaya Jika Ditutup
Foto: Infografis/ Bukan Selat Hormuz, Ini Jalur Laut yang berbahaya Jika Ditutup/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur energi paling penting dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global melewati perairan sempit yang memisahkan Iran dengan Oman tersebut.

Namun, perang yang telah berlangsung lebih dari enam bulan membuat ancaman di Hormuz tidak lagi berhenti pada pasokan minyak dan harga energi. Konflik mulai menciptakan risiko ekologis yang berpotensi bertahan jauh lebih lama dibandingkan perang itu sendiri.

Eskalasi kembali terjadi pada awal September.

Amerika Serikat (AS) menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran setelah Iran berulang kali mencoba menyerang kapal perang AS dengan rudal balistik. Iran kemudian mengklaim menyerang 10 kapal di sekitar Hormuz sebagai balasan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour) Foto: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)

Arus perdagangan pun kembali merosot tajam. Mengutip Reuters, hanya empat kapal komoditas yang melintasi Hormuz pada Senin (14/9/2026), dibandingkan rata-rata sekitar 125 kapal per hari sebelum perang.

Di balik konflik tersebut terdapat persoalan yang lebih jarang dibahas: Hormuz merupakan pintu masuk bagi seluruh ekosistem Teluk Persia.

Serangan Kapal Picu Risiko Tumpahan Minyak

Serangan terhadap kapal-kapal tanker tersebut kemudian memunculkan risiko lain, yakni pencemaran laut akibat tumpahan minyak.

Belum terdapat angka terverifikasi mengenai volume minyak yang tumpah dari lima tanker Iran yang dihancurkan AS. Karena itu, skala kerusakan lingkungan dari serangan terbaru belum dapat dihitung secara pasti.

Namun, risikonya besar. Scientific American mencatat Teluk Persia merupakan perairan relatif dangkal dan semi-tertutup, dengan pertukaran air ke laut terbuka terutama melalui Selat Hormuz. Kondisi ini membuat polutan lebih sulit terdispersi dibandingkan di laut terbuka.

Arus air dari Hormuz bergerak sepanjang pesisir Iran sebelum berputar menuju negara-negara di sisi selatan Teluk.

Dengan sistem perairan yang saling terhubung, tumpahan minyak dapat menyebar lintas batas ke Iran, Kuwait, Bahrain, Qatar, Arab Saudi hingga Uni Emirat Arab.

Data MarineTraffic menunjukkan sekitar 467 kapal berada di kawasan Selat Hormuz pada 7 September 2026 pukul 09.00 GMT. Jumlah tersebut mencakup 162 kapal kargo dan 42 tanker, dengan 18 tanker tercatat membawa minyak. Kepadatan kapal yang tertahan dalam waktu lama juga meningkatkan risiko biofouling dan penyebaran spesies invasif ketika kapal kembali berlayar.Data MarineTraffic menunjukkan sekitar 467 kapal berada di kawasan Selat Hormuz pada 7 September 2026 pukul 09.00 GMT. Jumlah tersebut mencakup 162 kapal kargo dan 42 tanker, dengan 18 tanker tercatat membawa minyak. Kepadatan kapal yang tertahan dalam waktu lama juga meningkatkan risiko biofouling dan penyebaran spesies invasif ketika kapal kembali berlayar. Foto: Al Jazeera

Ikan Hingga Terumbu Karang Ikut Terancam

Konflik di Selat Hormuz mengancam ekosistem Teluk Persia yang menjadi rumah bagi terumbu karang, mangrove, padang lamun, ikan, penyu, dugong hingga hiu paus.

Kondisinya sudah tertekan bahkan sebelum perang. Menurut Scientific American, sekitar 90% terumbu karang di Teluk Persia diperkirakan pernah mengalami bleaching akibat gelombang panas laut sejak akhir 1990-an.

Paparan minyak dapat memperburuk tekanan tersebut. Hidrokarbon dapat mengganggu reproduksi ikan, merusak telur dan larva biota laut, mengganggu navigasi penyu serta merusak mangrove.

Ancaman lain datang dari lebih dari 1.500 kapal komersial yang tertahan sejak Hormuz ditutup. Kapal yang lama tidak bergerak dapat menjadi tempat berkembangnya alga, teritip dan kerang pada lambung kapal.

Ketika kapal kembali berlayar, organisme tersebut berpotensi terbawa ke pelabuhan lain dan memicu penyebaran spesies invasif.

Para ilmuwan bahkan memperingatkan kondisi ini dapat menjadi "bio-invasion super-spreader event", terutama bagi wilayah dengan kondisi laut serupa seperti India dan Singapura.

Risiko meningkat karena kapal-kapal tersebut tertahan jauh lebih lama dibandingkan kondisi normal. Studi di jurnal Biological Invasions mencatat kapal biasanya hanya berada 1-3 hari di pelabuhan kawasan Teluk.

Namun, selama konflik, kapal yang tertahan telah berada dalam kondisi idle setidaknya 40 kali lebih lama dibandingkan masa tinggal rata-rata. Padahal, biofouling dapat memasuki fase pertumbuhan cepat setelah sekitar 10 hari, sementara IMO merekomendasikan tindakan segera terhadap kapal yang tidak bergerak selama 18-30 hari.

Nelayan dan Ekonomi Pesisir Ikut Terpukul

Kerusakan ekosistem pada akhirnya bukan hanya persoalan biodiversitas, tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan ekonomi. Terumbu karang, mangrove dan padang lamun menopang sektor perikanan karena menjadi tempat pemijahan dan pertumbuhan ikan.

Jika habitat tersebut terganggu, penurunan populasi ikan berpotensi menekan hasil tangkapan dan pendapatan nelayan. Risiko juga dapat menjalar ke budidaya perikanan serta pasokan pangan masyarakat pesisir.

Vessels anchored at the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, May 25, 2026. REUTERS/Stringer REFILE - CORRECTING INFORMATION FROM Vessels anchored at the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, May 25, 2026. REUTERS/Stringer REFILE - CORRECTING INFORMATION FROM "VESSELS SAILING THROUGH THE STRAIT OF HORMUZ" TO "VESSELS ANCHORED AT THE STRAIT OF HORMUZ". Foto: REUTERS/Stringer

Kerugian ekonomi berpotensi semakin besar apabila spesies invasif mulai berkembang. Setelah berhasil menetap, organisme asing dapat sulit diberantas dan menimbulkan biaya jangka panjang bagi sektor perikanan, akuakultur, pelabuhan hingga infrastruktur laut.

Ada satu risiko lain yang sangat penting bagi negara Teluk, yaitu air bersih.

Enam negara Gulf Cooperation Council (GCC) menghasilkan sekitar 7,2 miliar meter kubik air desalinasi pada 2023, menurut GCC Statistical Center. Arab Saudi merupakan produsen terbesar dengan sekitar 3 miliar meter kubik, disusul Uni Emirat Arab 1,9 miliar meter kubik.

Dengan tingginya ketergantungan terhadap air laut, pencemaran di sekitar pesisir dapat memengaruhi pengoperasian fasilitas desalinasi. Artinya, konflik yang semula dipandang sebagai persoalan energi dapat berkembang menjadi risiko terhadap perikanan, pendapatan masyarakat pesisir hingga keamanan air.

Bisakah Ekosistem Hormuz Pulih?

Pemulihan ekosistem Teluk Persia sangat bergantung pada luas pencemaran dan jenis habitat yang terdampak. Minyak di permukaan dapat dibersihkan relatif cepat, tetapi residu hidrokarbon dapat bertahan jauh lebih lama di sedimen, mangrove dan kawasan pesisir.

Pengalaman Perang Teluk 1991 menunjukkan dampaknya dapat bertahan selama puluhan tahun.

Karena itu, pemulihan tidak cukup hanya mengangkat minyak dari permukaan laut, tetapi juga membutuhkan pemantauan kualitas air dan sedimen, rehabilitasi habitat hingga pengawasan terhadap stok ikan.

Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer) Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Untuk ancaman spesies invasif, pencegahan menjadi lebih penting. Kapal yang lama tertahan perlu diperiksa dan dibersihkan sebelum kembali berlayar agar organisme yang menempel tidak menyebar ke ekosistem lain.

Artinya, perdagangan dan harga minyak mungkin dapat kembali normal lebih cepat setelah konflik mereda. Namun, biaya ekologisnya dapat bertahan jauh lebih lama.

(slm/slm)



Most Popular