Makin Mengerikan! Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Tembus 93,6%
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar hampir sepenuhnya yakin bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pekan ini.
Berdasarkan CME FedWatch Tool pada Selasa siang (15/9/2026), pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 93,6%.
Keyakinan tersebut melonjak dibandingkan sehari sebelumnya yang masih berada di kisaran 84%.
Apabila perkiraan tersebut terjadi, target suku bunga The Fed (Federal Funds Rate/FFR) akan naik dari 3,50%-3,75% menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan itu sekaligus menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed dalam lebih dari tiga tahun.
Probabilitas Fed Fund Rate Foto: CME Fedwatch |
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026. Keputusan kebijakan akan diumumkan pada Rabu pukul 14.00 waktu Washington atau Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB.
Beberapa lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs, JPMorgan, HSBC, dan Deutsche Bank juga memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September.
Lantas, apa yang membuat pasar begitu yakin bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan FOMC kali ini?
Inflasi AS Masih Sulit Dijinakkan
Alasan pertama datang dari laporan inflasi AS periode Agustus 2026 yang menunjukkan tekanan harga belum benar-benar mereda.
Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) meningkat 0,4% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juli.
Secara tahunan, inflasi AS memang tidak bertambah, tetapi masih bertahan sebesar 3,4%. Angka tersebut tetap jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%.
Tekanan harga juga terlihat pada inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi. Inflasi inti naik 0,3% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan.
Data tersebut mematahkan harapan bahwa penurunan inflasi pada Juni dan Juli menjadi awal dari tren yang berkelanjutan. The Fed kini menghadapi risiko inflasi berhenti turun atau bahkan kembali meningkat.
Laporan harga produsen periode Agustus yang lebih tinggi daripada perkiraan semakin memperkuat kekhawatiran tersebut.
Setelah data inflasi dirilis, peluang kenaikan bunga langsung melonjak dari sekitar 70% menjadi 85%. Probabilitasnya kemudian kembali meningkat hingga mencapai 93,6% pada Selasa (15/9/2026) siang waktu Indonesia.
Kondisi tersebut membuat ruang The Fed untuk kembali menahan suku bunga semakin sempit. Terlebih, inflasi AS telah berada di atas target 2% selama lebih dari lima tahun.
Kekhawatiran Pasar : Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah
Tekanan berikutnya datang dari harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel.
Pada perdagangan Senin (14/9/2026), minyak Brent sempat melonjak hingga US$109,80 per barel sebelum memangkas kenaikannya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) kembali bergerak di atas US$100 per barel.
Lonjakan minyak mulai terasa langsung di pasar domestik AS. Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), harga rata-rata diesel secara nasional mencapai rekor US$6,23 per galon pada Senin (14/9/2026). Harga bensin biasa juga meningkat menjadi sekitar US$4,32 per galon.
Kenaikan harga diesel menjadi lebih krusial bagi AS karena bahan bakar tersebut digunakan oleh truk untuk mengangkut makanan, pakaian, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Biaya pengiriman yang semakin mahal dapat diteruskan ke harga barang yang dibayar konsumen.
Persoalannya, lonjakan minyak kali ini terjadi ketika jalur utama perdagangan energi dunia kembali terganggu akibat meluasnya konflik Timur Tengah.
Iran pada pekan lalu menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah Amerika Serikat menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Serangan baru terhadap kapal juga kembali dilaporkan pada akhir pekan.
Situasi tersebut membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap jauh di bawah kondisi normal. Jalur ini memiliki peran besar karena menjadi pintu keluar sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Tekanan pasokan semakin besar setelah Arab Saudi menutup sementara pipa East-West akibat serangan drone. Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut membawa minyak dari wilayah timur Arab Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah sehingga ekspor tidak perlu melewati Selat Hormuz.
Arab Saudi dan Irak menyatakan drone tersebut berasal dari wilayah Irak, tempat sejumlah milisi yang didukung Iran beroperasi. Gangguan pada pipa itu mengancam aliran minyak yang setara hingga 4% pasokan dunia.
Pada saat bersamaan, kelompok Houthi yang didukung Iran kembali menyerang sejumlah sasaran di Arab Saudi. Milisi tersebut juga memperluas penguasaannya di pesisir Yaman dan sekitar jalur pelayaran Laut Merah.
Perkembangan itu membuat dua jalur penting pengiriman minyak berada dalam tekanan secara bersamaan. Selat Hormuz masih sulit dilalui, sedangkan rute penggantinya melalui pipa East-West dan Laut Merah turut menghadapi gangguan keamanan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)