MARKET DATA

Era Suku Bunga Tinggi Kembali, 7 Bank Sentral Dunia Naikkan Rate

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
15 September 2026 12:30
Pejuang KPR Siap-Siap! Suku Bunga Bakal Naik Lagi
Foto: Infografis/ Pejuang KPR Siap-Siap! Suku Bunga Bakal Naik Lagi/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan dunia untuk segera keluar dari era suku bunga tinggi tampaknya cukup mustahil.

Harga minyak acuan global Brent kembali menembus level US$100 per barel setelah konflik AS dan Iran kembali memanas.

Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan atasan serangan AS kepada kapal tanker miliknya. Ketegangan pun meluas ke Arab Saudi, salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia.

Kelompok milisi Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran kembali melancarkan serangan besar-besaran yang berimbas pada jaringan pipa East-West Arab Saudi yang harus ditutup sementara oleh pihak otoritas setempat.

Kenaikan harga minyak pada akhirnya akan meningkatkan biaya bahan bakar, transportasi, hingga produksi. Jika kondisi ini berlangsung lama, kenaikan itu dapat merambat pada kenaikan harga barang dan jasa yang harus dibayar oleh konsumen.

Pada akhirnya, tekanan inflasi pun tak bisa terhindarkan. Bank sentral kemudian di hadapkan pada daftar pilihan yang cukup berat. Menahan atau bahkan menurunkan bunga dapat membuat inflasi semakin tak terkendali, sedangkan pilihan paling memungkinkan yakni menaikkannya akan membuat biaya pinjaman mahal dan sangat berisiko menekan laju pertumbuhan ekonomi.

Seperti yang pasar saat ini nantikan, yakni keputusan suku bunga Bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada FOMC pekan ini.

Pasar kini cukup yakin The Fed akan menaikkan suku bunga sekitar 25 basis poin (bps) pada 15-16 September. Hal ini terlihat dari CME FedWatch pada Senin (14/9/2026), peluang kenaikan tersebut mencapai 86,7%.

Jika sesuai perkiraan, kenaikan Fed Fund Rate tersebut akan menjadi pertama sejak pertengahan 2023. Yang menjadi babak baru bagi arah suku bunga dunia kedepannya.

Walaupun, sebelum The Fed mengubah arah tersebut, banyak bank sentral di negara-negara maju serta di negara Asia yang sudah melakukan pengetatkan lebih dulu, paling tidak di awal semester kedua tahun ini.

Selandia Baru

Salah satu negara negara yang bank sentralnya telah lebih dahulu melakukan pengetatan yakni Selandia Baru.

Selandia Baru menjadi negara pertama yang menaikkan suku bunga sejak semester II-2026 dimulai, dengan menaikkan Official Cash Rate (OCR) sebesar 25 basis poin dari 2,25% menjadi 2,50% pada 8 Juli lalu.

Langkah Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), tidah berhenti sampai disana. Kurang dari dua bulan kemudian, tepatnya di awal September ini, suku bunga RBNZ kembali dinaikkan sebanyak 25 bps menjadi 2,75%.

Total kenaikannya mencapai 50 basis poin sejak awal Juli, menjadikan Selandia Baru sebagai salah satu negara yang paling agresif memperketat kebijakan moneter pada semester II tahun ini.

Hal demikian dilakukan untuk menjaga tekanan inflasi agar tetap terkendali, setelah pada kuartal II-2026, inflasi disana mencapai 4,1% yoy, jauh diatas target RBNZ di 1%-3%.

Korea Selatan

Tak lama setelah Selandia Baru, Korea Selatan mengambil langkah serupa.

Bank of Korea (BOK) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dari 2,50% menjadi 2,75% pada 16 Juli 2026. Keputusan tersebut menjadi kenaikan pertama yang dilakukan bank sentral Korea Selatan dalam sekitar tiga setengah tahun.

Namun, satu kali kenaikan belum dianggap cukup. BOK kembali mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin pada 27 Agustus sehingga mencapai 3,00%.

Dalam waktu sekitar enam pekan, Korea Selatan telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.

Kondisi perekonomian Korea Selatan memang berbeda dibandingkan banyak negara lain. Ketika sejumlah negara menghadapi perlambatan, pertumbuhan Korea Selatan justru berjalan lebih kuat daripada perkiraan.

Ekspor dan investasi tumbuh pesat berkat tingginya permintaan semikonduktor serta pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan. Pemulihan konsumsi domestik juga mulai memberikan tambahan tenaga bagi perekonomian.

Pertumbuhan yang lebih kuat membawa persoalan baru. BOK memperkirakan inflasi akan bertahan di atas sasaran untuk waktu yang cukup lama.

Islandia

Tekanan inflasi juga memaksa Islandia menghentikan langkah pelonggaran moneternya.

Central Bank of Iceland menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 19 Agustus 2026. Suku bunga deposito berjangka tujuh hari yang menjadi acuan kebijakan moneter naik dari 7,75% menjadi 8,00%.

Keputusan yang diambil dengan suara yang tidak bulat dari pejabat bank sentral mereka. mpat anggota komite kebijakan moneter mendukung kenaikan, sedangkan satu anggota memilih mempertahankan suku bunga.

Sebagai informasi, inflasi disana telah bertahan di atas 5% sepanjang 2026 dan mencapai 5,3% pada Juli.

Bank Sentral Eropa

Nasib tak jauh berbeda menghantam Eropa. Bank sentral nya atau yang dikenal dengan European Central Bank (ECB) baru saja memutuskan untuk menaikkan suku bunganya sebanyak 25 bps pada Kamis (10/9/2026).

Suku bunga deposit facility dinaikkan dari 2,25% menjadi 2,50%. Suku bunga main refinancing operations naik menjadi 2,65%, sedangkan marginal lending facility mencapai 2,90%.

Yang mulai berlaku pada 16 September.

Dengan alasan yang sama, yakni kekhawatiran terhadap inflasi akibat lonjakan harga energi, mau tak mau ECB memilih untuk mengetatkan kebijakan moneternya dengan harapan inflasi disana bisa kembali mereda.

Inflasi di wilayah Eropa sendiri mencapai rata-rata 3,0% pada 2026, jauh di atas sasaran sebesar 2%.

ECB juga mengkhawatirkan kenaikan harga bahan bakar tidak berhenti pada sektor energi. Jika berlangsung lama, biaya tersebut dapat masuk ke ongkos produksi, harga jual, hingga tuntutan kenaikan upah.

Kenaikan September menjadi yang kedua dilakukan ECB sepanjang 2026. Sebelumnya, bank sentral telah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada Juni. Total kenaikan ECB tahun ini mencapai 50 basis poin.

Denmark

Hanya beberapa jam setelah keputusan ECB, Danmarks Nationalbank mengumumkan kenaikan suku bunga dengan besaran yang sama.

Suku bunga current account dan certificates of deposit dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 2,10%. Lending rate meningkat menjadi 2,25%, sedangkan discount rate menjadi 2,10%.

Kenaikan tersebut merupakan konsekuensi langsung dari langkah ECB.

Denmark menjalankan kebijakan nilai tukar tetap (Fix Rate) dengan menjaga pergerakan krone tetap stabil terhadap euro. Untuk mempertahankan sistem tersebut, suku bunga Denmark biasanya bergerak mengikuti kebijakan ECB.

Filipina

Gelombang kenaikan suku bunga juga sampai ke Asia Tenggara.

Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menaikkan Target Reverse Repurchase Rate sebesar 25 basis poin dari 4,75% menjadi 5,00% pada 27 Agustus 2026.

Kenaikan tersebut menjadi langkah pengetatan pertama Filipina sejak semester II dimulai. Namun, jika dihitung sejak awal tahun, keputusan Agustus merupakan kenaikan ketiga yang dilakukan BSP sepanjang 2026.

Filipina menghadapi tekanan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan sasaran bank sentral. Inflasi sempat melonjak menjadi 7,2% pada April sebelum turun perlahan menjadi 6,2% pada Juli dan 6,1% pada Agustus.

Selain itu, kenaikan suku bunga Filipina juga di tujukan untuk meredam gejolak pada nilai tukar mereka yakni, peso Filipina.

Melansir Refinitiv, pada perdagangan intraday Senin (14/9/2026), peso Filipina kembali mencatatkan rekor baru dengan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah. Dengan demikian, kenaikan suku bunga belum serta merta membuat nilai tukarnya dapat keluar dari tekanan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular