MARKET DATA

Laut Mencekam, 10 Raksasa Pipa Minyak Bawah Laut Ini Pesta Pora

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 August 2026 19:30
Ilustrasi Pipa bawah laut. (Dok. Pexels/asad.photo)
Foto: Ilustrasi Pipa bawah laut. (Dok. Pexels/asad.photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan demi serangan di Selat Hormuz, Laut Merah dan Hitam serta lonjakan harga energi global  mendorong pembangunan pipa bawah laut atau subsea pipeline secara besar-besaran.

Di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan lumpuhnya Selat Hormuz, jaringan pipa minyak di Timur Tengah kembali menjadi jalur vital ekspor energi. Infrastruktur seperti pipa East-West milik Arab Saudi dinilai membantu meredam dampak konflik dengan Iran.

Kondisi ini mendorong negara-negara kawasan memperluas jaringan pipa.

Uni Emirat Arab (UEA) berencana menggandakan kapasitas pipa Habshan-Fujairah, sementara Amerika Serikat (AS), Irak, Qatar, Chevron, dan Aramco menjajaki proyek pipa baru yang menghubungkan Irak, Suriah, dan Turki.

Menurut Global Energy Monitor, sekitar 12.300 km pipa minyak sedang dibangun dan 20.100 km lainnya masih direncanakan. Jika terealisasi, jaringan pipa minyak global yang kini mencapai 350.000 km akan semakin luas.

Infrastruktur pipa minyak menghubungkan sumur lepas pantai dengan platform produksi, kapal Floating Production, Storage, and Offloading (FSPO), fasilitas pengolahan, jaringan transmisi, hingga titik pendaratan di pesisir.

Pipa bawah laut umumnya diletakkan di dasar laut. Pada lokasi tertentu, pipa dapat ditanam di bawah permukaan dasar laut untuk mengurangi risiko kerusakan akibat jangkar kapal, aktivitas perikanan, arus, dan pergerakan sedimen.

Peta jaringan pipa minyak dan gas Timur TengahPeta jaringan pipa minyak dan gas Timur Tengah Foto: The Economist

Perusahaan dalam daftar ini bukan sekadar produsen pipa baja. Mereka merupakan kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dan pipelay yang mengerjakan desain, pengadaan, pengelasan, pengangkutan, pemasangan, penyambungan, serta pengujian pipa di laut.

Angka yang dibandingkan adalah panjang pipa bawah laut dalam proyek yang dikerjakan atau diperoleh setiap kontraktor. Kabel listrik, serat optik, umbilical, dan bagian pipa di darat tidak dihitung.

Angka tersebut juga bukan total historis perusahaan karena tidak semua kontraktor mempublikasikan data kumulatif dengan metode seragam.

Allseas dan Saipem Menguasai Proyek Raksasa

Allseas mencatat cakupan sekitar 2.300 kilometer pada Nord Stream 2, proyek pipa ganda yang melintasi Laut Baltik. Angka tersebut merupakan scope instalasi yang dipublikasikan perusahaan. Allseas menghentikan aktivitasnya pada Desember 2019 sehingga proyek itu tidak dapat disebut sebagai sistem yang mereka selesaikan sepenuhnya.

Pipa minyak dunia, Juni 2026Pipa minyak dunia, Juni 2026 Foto: Economist

Saipem memiliki pembanding yang lebih bersih melalui proyek Ichthys LNG di Australia. Perusahaan tersebut mengerjakan pipa gas bawah laut sepanjang 889 kilometer dari fasilitas produksi offshore menuju fasilitas LNG di Darwin. Proyek ini menjadi salah satu trunkline subsea terpanjang di Asia-Pasifik.

Di luar proyek tunggal, Saipem dan Allseas masing-masing mengklaim telah memasang lebih dari 30.000 kilometer pipa subsea selama sejarah operasinya. Angka kumulatif tersebut tidak dimasukkan ke grafik karena perusahaan lain belum mempublikasikan data sejenis secara konsisten.

Asia Masuk Kelompok Elite Pipelay

Hyundai Heavy Industries masuk melalui Third Transmission Pipeline di Teluk Thailand. Proyek sepanjang 606 kilometer tersebut mencakup engineering, pengadaan, konstruksi, dan pemasangan jaringan gas bawah laut menggunakan armada pipelay Hyundai.

India memiliki L&T Energy yang mendapat proyek penggantian sekitar 350 kilometer pipa subsea milik ONGC di pantai barat negara tersebut. Lamprell kemudian memperoleh proyek serupa sepanjang 285 kilometer pada 2026. Angka Lamprell merupakan scope kontrak yang diperoleh, bukan pipa yang seluruhnya telah selesai dipasang.

Ilustrasi Pipa bawah laut. (Dok. Pexels)Ilustrasi Pipa bawah laut. (Dok. Pexels) Foto: Ilustrasi Pipa bawah laut. (Dok. Pexels)

McDermott mempunyai cakupan 300 mil atau sekitar 483 kilometer pada North Field Expansion di Qatar. Jaringan tersebut menjadi bagian dari ekspansi LNG Qatar dan menghubungkan fasilitas produksi gas offshore dengan infrastruktur pengolahan berikutnya.

Laut Dalam Mengubah Arti Kilometer

Technip dan Heerema mendapat proyek bersama Kaombo di Angola yang mencakup sekitar 300 kilometer pipa pada kedalaman hingga 2.000 meter. Karena merupakan proyek konsorsium, angka tersebut tidak boleh dianggap sebagai 300 kilometer terpisah bagi masing-masing perusahaan.

Subsea7 menangani 126 kilometer rigid riser dan flowline serta 98 kilometer flexible line dalam proyek Mero 4 di Brasil. Total pipa bawah laut yang dihitung mencapai 224 kilometer, tanpa memasukkan 88 kilometer umbilical.

Petrofac mencatat 200 kilometer melalui SARB3 di Abu Dhabi. GSP Offshore mengerjakan 18 kilometer pipa antara ladang Doina dan platform Ana serta 121 kilometer dari platform menuju pesisir dalam Midia Gas Development. Total subseanya mencapai 139 kilometer setelah bagian pipa darat dikeluarkan.

Panjang jalur bukan satu-satunya ukuran kesulitan. Kedalaman, diameter, tekanan, kandungan gas korosif, kontur dasar laut, dan metode S-Lay, J-Lay, atau reel-lay menentukan biaya serta tingkat risiko proyek.

China dan Rusia Belum Dominan di Data Terbuka

China mempunyai COOEC dan armada yang telah memasang pipa di Laut China Selatan serta Timur Tengah. Rusia juga memiliki basis manufaktur pipa dan pengalaman proyek di Baltik, Laut Hitam, dan kawasan Arktik.

Keduanya tidak masuk daftar karena belum ditemukan scope kontraktor yang dipublikasikan secara terbuka dan melampaui sepuluh proyek terpilih. Absennya mereka bukan berarti tidak mampu, melainkan mencerminkan perbedaan model bisnis, struktur konsorsium, dan keterbukaan data.

Arena Baru di Dasar Laut

Pasar pipelay berpotensi berkembang dari minyak dan gas menuju pengangkutan karbon dioksida, hidrogen, dan jaringan pendukung fasilitas offshore. Kapal khusus, kemampuan pengelasan, fasilitas fabrikasi, serta rekam keselamatan menjadi modal yang sulit dibangun dalam waktu singkat.

Dominasi kontraktor Eropa mulai ditantang Korea Selatan dan India, sementara Timur Tengah membangun kemampuan dari besarnya investasi energi domestik.

Perebutan proyek berikutnya akan ditentukan bukan hanya oleh siapa yang mampu memasang jalur terpanjang, tetapi juga siapa yang sanggup bekerja paling dalam, aman, dan efisien.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular