Dunia Tak Baik-Baik Saja: Harga Minyak US$ 101, Bunga Obligasi AS Naik
Sentimen pasar hari ini diperkirakan bergerak beragam setelah data ekonomi kemarin memperlihatkan perbaikan permintaan di China dan Indonesia, sementara pertumbuhan tenaga kerja swasta Amerika Serikat masih terbatas.
Lonjakan harga minyak juga akan berdampak besar terhadap volatilitas pasar.
Perhatian pasar hari ini akan beralih kepada penjualan ritel Indonesia, keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa, serta inflasi produsen dan klaim pengangguran AS.
Di dalam negeri, rencana program rekening gratis dari pemerintah turut menjadi perhatian karena berpotensi memperluas inklusi keuangan dan basis nasabah perbankan.
Berikut perkembangan sentimen hari ini:
1. Iran Serang 10 Kapal di Hormuz, Minyak Tembus US$100
Konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Iran mengklaim menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz, setelah AS menghancurkan lima tanker minyak Iran.
Eskalasi ini langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak Brent menembus US$100 per barel, pertama kalinya sejak Juli. Setidaknya satu awak kapal tewas dan satu lainnya hilang.
Harga minyak brent ditutup di US$ 101, 21 per barel atau melonjak 3,4% sementara WTI naik 1% ke US$ 97,06 per barel. Harga minyak sudah naik empat hari beruntun.
Iran juga meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Yordania, sementara Garda Revolusi mengancam akan meningkatkan serangan jika Washington kembali menyerang.
Gangguan di Selat Hormuz menjadi perhatian besar karena jalur tersebut sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Aliran minyak kini turun hingga sekitar 2 juta barel per hari, dari 8-9 juta barel sebelum konflik kembali memanas.
Kenaikan harga energi juga mulai menekan konsumen. Harga diesel di AS bahkan mencetak rekor baru di atas US$5,94 per galon.
Claudio Galimberti, kepala ekonom Rystad Energy, mengatakan aliran minyak melalui Hormuz kini turun hingga sekitar 2 juta barel per hari (bph). Angka tersebut jauh di bawah 8-9 juta bph pada pekan sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus.
2.AS Siapkan Buyback Utang US$6 Miliar, Yield Treasury Malah Naik
Departemen Keuangan AS menyiapkan buyback surat utang hingga US$6 miliar untuk menjaga likuiditas pasar obligasi. Nilainya tiga kali lipat dari operasi normal dan transaksi perdana akan menyasar Treasury tenor 10 dan 20 tahun.
Namun, pasar justru merespons negatif. Yield Treasury 10 tahun naik ke 4,84%, tenor 20 tahun mencapai 5,314%, sementara tenor 30 tahun menembus level 5,3%. Posisi imbal hasil tenor 10 tahun saat ini bahkan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023 atau 2,5 tahun lebih.
Kenaikan yield terjadi di tengah utang pemerintah AS yang telah menembus US$40 triliun, penerbitan surat utang yang meningkat 11,8%, serta kekhawatiran inflasi akibat tarif dan perang Iran yang mendorong harga minyak di atas US$100 per barel.
Kebijakan buyback ini juga menuai kritik. Investor Stanley Druckenmiller memperingatkan, semakin pemerintah berusaha mempertahankan harga obligasi, semakin besar operasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tekanan pasar.
Treasury akan melakukan buyback perdana pada Kamis (10/9) dalam operasi selama 20 menit.
3. Inflasi China Agustus 2026
Kemarin, inflasi tahunan China meningkat menjadi 0,8% pada Agustus, dari 0,5% pada Juli, sesuai dengan konsensus dan lebih tinggi dari proyeksi 0,7%. Secara bulanan, harga konsumen naik 0,4%, melampaui konsensus 0,3% dan berbalik dari penurunan 0,1% pada periode sebelumnya.
Kenaikan terutama berasal dari harga nonpangan yang tumbuh lebih cepat, didorong biaya transportasi, harga bahan bakar, dan permintaan perjalanan. Sebaliknya, harga pangan masih turun untuk bulan kelima berturut-turut akibat berlimpahnya pasokan dan lemahnya konsumsi beberapa komoditas pangan. Inflasi inti meningkat menjadi 1% dari 0,9%.
Inflasi produsen juga naik menjadi 3,8%, melampaui konsensus 3,7% dan posisi sebelumnya sebesar 3,5%. Data tersebut menunjukkan tekanan deflasi mulai mereda dan menjadi sentimen cukup positif bagi yuan. Namun, peningkatan biaya energi dan bahan baku dapat menekan margin perusahaan serta mengurangi ruang Beijing untuk memberikan stimulus secara agresif.
4. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Agustus 2026
Masih dari rangkaian data kemarin, indeks keyakinan konsumen Indonesia meningkat menjadi 118,5 pada Agustus, dari 116,8 pada Juli.
Angka tersebut melampaui proyeksi 117 dan menjadi kenaikan pertama dalam empat bulan. Posisi tersebut juga merupakan level tertinggi sejak Mei setelah indeks sebelumnya menyentuh posisi terendah sejak April 2025.
Perbaikan ditopang penilaian masyarakat yang lebih kuat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Keyakinan terhadap pembelian barang tahan lama dan ketersediaan lapangan kerja turut meningkat. Ekspektasi mengenai pendapatan, peluang kerja, dan aktivitas usaha dalam enam bulan mendatang juga memperlihatkan perbaikan.
Indeks yang tetap berada di atas 100 menunjukkan konsumen Indonesia masih berada dalam zona optimistis.
Hasil tersebut menjadi sentimen positif bagi prospek konsumsi rumah tangga, yang merupakan penopang utama perekonomian nasional. Perbaikan keyakinan konsumen juga berpotensi mendukung saham sektor ritel, perbankan, otomotif, dan barang konsumsi, terutama jika diikuti peningkatan penjualan secara nyata.
5. Penjualan Eceran Indonesia Juli 2026
Hari ini Bank Indonesia akan merilis data penjualan eceran Indonesia periode Juli 2026 .
Pada periode Juni, penurunan penjualan ritel telah membaik dari kontraksi 3,9% pada Mei. Penjualan pakaian mengalami perbaikan, sementara perlengkapan rumah tangga dan suku cadang kendaraan mencatat pertumbuhan.
Namun, penjualan makanan, minuman, tembakau, perangkat komunikasi, barang rekreasi, dan bahan bakar masih mengalami penurunan.
Realisasi yang lebih baik dari proyeksi akan memperkuat sinyal pemulihan konsumsi setelah indeks keyakinan konsumen meningkat. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi sektor ritel dan barang konsumsi.
Sebaliknya, kontraksi yang lebih dalam akan menunjukkan bahwa peningkatan optimisme masyarakat belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi aktivitas belanja dan dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap daya beli rumah tangga.
6. Keputusan Suku Bunga Zona Euro September 2026
Bank Sentral Eropa dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada malam ini pukul 19.15 WIB, kemudian menggelar konferensi pers pukul 19.45 WIB. Konsensus memperkirakan suku bunga acuan dinaikkan menjadi 2,65% dari 2,4%.
Suku bunga fasilitas deposito juga diperkirakan meningkat menjadi 2,5% dari 2,25%, sedangkan fasilitas pinjaman marjinal diproyeksikan naik menjadi 2,9%.
Pada pertemuan sebelumnya, seluruh pembuat kebijakan sepakat mempertahankan suku bunga setelah melakukan kenaikan pada Juni. Meski demikian, mereka menilai risiko inflasi masih mengarah ke atas akibat harga energi dan ketegangan geopolitik, sementara prospek pertumbuhan ekonomi menghadapi tekanan.
Kenaikan sesuai konsensus yang disertai pernyataan tegas mengenai inflasi berpotensi memperkuat euro. Namun, kebijakan tersebut dapat menekan pasar obligasi dan saham karena biaya pendanaan menjadi lebih tinggi.
Jika suku bunga dipertahankan, euro berisiko melemah karena keputusan itu akan dinilai lebih lunak daripada perkiraan. Pasar juga akan mencermati petunjuk mengenai kemungkinan kenaikan tambahan pada pertemuan berikutnya.
7. Inflasi Produsen AS Agustus 2026
Hari ini, data inflasi produsen Amerika Serikat atau PPI juga akan dirilis. Secara bulanan, indeks harga produsen diperkirakan naik 0,4% setelah stagnan pada Juli. Inflasi produsen inti diproyeksikan meningkat 0,3%, dari kenaikan 0,2% pada periode sebelumnya.
Secara tahunan, inflasi produsen diperkirakan meningkat menjadi 5,3% dari 4,7%. Inflasi inti juga diperkirakan naik menjadi 4,6% dari 4,2%. Kenaikan tersebut akan menunjukkan bahwa tekanan biaya pada tingkat produsen kembali menguat dan berpotensi diteruskan kepada harga yang dibayar konsumen.
Hasil di atas konsensus dapat memperkuat dolar AS serta mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah karena memperkecil peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Sebaliknya, inflasi produsen yang lebih rendah dari perkiraan akan meningkatkan harapan terhadap kebijakan yang lebih longgar. Kondisi tersebut berpotensi mendukung rupiah, emas, obligasi, dan aset berisiko di negara berkembang.
8. Klaim Pengangguran AS September 2026
Pada hari ini, AS juga akan merilis data klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 4 Agustus 2026.
Klaim awal pengangguran Amerika Serikat diperkirakan mencapai 205.000, sedikit lebih rendah dibandingkan 206.000 pada pekan sebelumnya. Proyeksi berada pada 209.000. Sementara itu, klaim lanjutan diperkirakan meningkat tipis menjadi sekitar 1,78 juta, dari 1,779 juta pada periode sebelumnya.
Klaim awal yang tetap rendah akan menunjukkan bahwa perusahaan belum melakukan pemutusan hubungan kerja dalam jumlah besar dan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Kondisi tersebut dapat mendukung dolar AS dan memperkuat alasan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Sebaliknya, lonjakan klaim di atas perkiraan akan mengindikasikan bahwa tekanan mulai muncul di pasar tenaga kerja. Hasil tersebut dapat memperbesar ekspektasi penurunan suku bunga dan menekan dolar AS.
Karena data ketenagakerjaan diumumkan bersamaan dengan inflasi produsen, kombinasi keduanya berpotensi memicu volatilitas tinggi. Inflasi kuat dan klaim rendah akan menjadi kombinasi paling positif bagi dolar, sedangkan inflasi lemah dan klaim tinggi akan memberikan sinyal sebaliknya.
9. Program Rekening Gratis Warga
Di luar rangkaian data ekonomi, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp11 triliun untuk menjalankan program pemberian rekening gratis kepada sekitar 200 juta warga Indonesia berusia 17 tahun ke atas.
Rekening tersebut akan disediakan melalui PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan PT Bank Syariah Indonesia serta dihubungkan dengan Nomor Induk Kependudukan milik masing-masing penerima.
Setiap rekening yang dibuka akan memperoleh saldo awal sebesar Rp50.000 dari pemerintah. Dana tersebut dipastikan tidak terpotong biaya administrasi maupun biaya lainnya. Program ini akan digunakan sebagai sarana penyaluran berbagai bantuan pemerintah sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan perbankan formal.
Sumber anggaran program, baik dari APBN 2026 maupun 2027, masih dibahas bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Pelaksanaan akan dilakukan secara bertahap setelah regulasi, mekanisme teknis, dan jadwal penyalurannya diselesaikan.
Program tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi sektor perbankan dan transaksi digital karena memperluas basis nasabah. Namun, pasar tetap akan mencermati kejelasan sumber pendanaan, kesiapan sistem perbankan, serta efektivitas rekening tersebut dalam mendorong inklusi keuangan dan penyaluran bantuan pemerintah.
Keterangan Pers Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Jakarta, 7 September 2026. (Tangkapan Layar Youtube) |
10. Utang Kopdes Merah Putih Dijamin APBN, Bank Tak Perlu Waswas
Pemerintah memastikan utang Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kepada perbankan akan dibayar menggunakan APBN. Dengan begitu, perbankan dijamin tidak menanggung risiko gagal bayar.
Keputusan tersebut diambil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, dan COO Danantara Dony Oskaria dalam pertemuan di Kementerian Keuangan, Rabu (9/9/2026).
Purbaya menegaskan pemerintah memastikan tidak ada gagal bayar. Bahkan, dana untuk pembayaran disebut sudah tersedia dalam anggaran dan Kemenkeu akan menyalurkannya langsung ke perbankan.
Selain itu, pemerintah akan membentuk satgas khusus untuk memastikan KDMP berjalan optimal, termasuk dalam penyaluran barang subsidi dan memperkuat sistem logistik nasional.
Dengan skema ini, pemerintah berharap operasional Kopdes tetap berjalan tanpa mengganggu kesehatan perbankan maupun keuangan negara.
Untuk itu, pemerintah menyiapkan anggaran Rp51 triliun untuk membayar utang pembangunan KDMP kepada perbankan pada 2027.
Anggaran tersebut terdiri dari Rp37,6 triliun cicilan pokok dan Rp13,4 triliun bunga untuk 75.260 KDMP.
Untuk setiap KDMP, cicilan pokok ditetapkan sekitar Rp500 juta, dengan bunga Rp180 juta. Namun, pencairannya akan bergantung pada verifikasi dan validasi BPKP serta progres pembangunan.
Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan Rp240 triliun selama enam tahun untuk membayar utang pembangunan KDMP kepada Bank Himbara.
11. Anggaran Transfer ke Daerah 2027 Disepakati Rp735 T, Naik 5,5%
Pemerintah dan DPR menyepakati anggaran Transfer ke Daerah (TKD) 2027 sebesar Rp735 triliun, naik 5,5% dari outlook 2026 sebesar Rp696,9 triliun.
Porsi terbesar berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) Rp415 triliun, disusul DAK Rp159,44 triliun, Dana Desa Rp77 triliun, dan Dana Bagi Hasil (DBH) Rp63,64 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan TKD akan difokuskan untuk belanja pegawai, operasional daerah, pelayanan dasar, serta mengurangi ketimpangan fiskal antarwilayah.
12. Utang Whoosh Direstrukturisasi 80 Tahun, Cicilan Rp1 T/Tahun
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) telah direstrukturisasi dengan tenor hingga 80 tahun.
Meski nilai utangnya besar, Purbaya menilai beban cicilan tahunan masih relatif ringan, yakni sekitar Rp1 triliun atau sedikit di bawahnya per tahun.
Pemerintah kini menyiapkan skema pengelolaan utang Whoosh yang akan dialihkan dari Danantara ke Kementerian Keuangan mulai 15 September 2026. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah melalui Special Mission Vehicle (SMV) atau INA.
Purbaya menegaskan kewajiban tersebut dinilai masih mampu ditangani tanpa tekanan besar terhadap fiskal pemerintah.
(gls/gls)