Sedih! RI Raja Rumput Laut Dunia,Tapi China & Korea yang Panen Cuan
Jakarta, CNBC Indonesia - Rumput laut mulai mendapat tempat yang semakin besar dalam agenda hilirisasi prioritas pemerintah. Di tengah dominasi proyek mineral seperti nikel, tembaga, dan bauksit, pemerintah kini mendorong hilirisasi berbasis sumber daya hayati, termasuk rumput laut.
Dorongan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pengembangan ekonomi biru dan budidaya kelautan mulai mendapat tempat lebih besar dalam strategi pembangunan. Momentum hilirisasi kemudian semakin kuat pada pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Pada 2015, Jokowi bahkan secara eksplisit meminta agar Indonesia tidak terus mengekspor rumput laut dalam bentuk mentah dan mendorong pembangunan industri pengolahannya.
Kini, pemerintahan Presiden Prabowo melanjutkan agenda tersebut dengan menempatkan hilirisasi sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi.
Tantangannya sederhana tetapi besar yakni Indonesia sudah menjadi raksasa rumput laut dunia, tetapi belum menangkap nilai tambah sebesar negara yang lebih banyak mengekspor produk olahan.
Indonesia Raksasa Rumput Laut Dunia
Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), Asia menyumbang sekitar 99,5% produksi rumput laut dunia. Indonesia menjadi salah satu pemain terbesar, dengan kontribusi sekitar 26% terhadap produksi global pada 2021.
Dominasi Indonesia bahkan lebih terlihat dari sisi perdagangan. Sepanjang Januari-September 2025, Indonesia menyumbang sekitar 67% dari total ekspor rumput laut dunia dalam kategori yang dianalisis FAO.
Dengan kata lain, sekitar dua dari setiap tiga ton rumput laut yang diekspor secara global berasal dari Indonesia.
Kampung budidaya rumput laut di Mamolo, Nunukan Selatan. (Instagram @kkpgoid) Foto: Kampung budidaya rumput laut di Mamolo, Nunukan Selatan. (Instagram @kkpgoid) |
Besarnya posisi tersebut juga terlihat dalam perdagangan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor rumput laut dan ganggang lainnya Indonesia mencapai sekitar US$184,4 juta atau sekitar Rp 3, 23 triliun pada 2025 (US$ 1= Rp 17.500), dengan volume sekitar 223,4 ribu ton.
Komoditas ini juga menjadi penyumbang terbesar dalam ekspor perikanan budidaya Indonesia, dengan kontribusi sekitar 52,92% terhadap total nilai ekspor sektor tersebut pada 2025.
Volume Besar, Nilai per Kilogram Masih Rendah
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui pada Juli 2026 menunjukkan volume ekspor rumput laut dan ganggang lainnya Indonesia meningkat dalam jangka panjang. Dari sekitar 168 ribu ton pada 2012, ekspor mencapai puncak sekitar 251 ribu ton pada 2023, sebelum turun menjadi 223 ribu ton pada 2025.
Namun, besarnya volume belum selalu diikuti oleh nilai ekspor yang tinggi per kilogram. Berdasarkan perhitungan CNBC Indonesia dari data BPS, nilai ekspor per kilogram hanya sekitar US$0,83 pada 2025, setelah sempat mencapai sekitar US$1,69 per kg pada 2022.
Nilai tersebut dihitung dengan membagi nilai FOB ekspor dengan volume ekspor pada tahun yang sama. Perhitungan ini memberikan gambaran kasar mengenai unit value ekspor, bukan harga jual untuk satu jenis rumput laut tertentu, karena data BPS mencakup agregat rumput laut dan ganggang lainnya.
Sebagai pembanding, data FAO/Global Trade Tracker untuk Januari-September 2025 menunjukkan nilai ekspor Korea Selatan mencapai US$17,98 per kg dan China US$8,65 per kg. Perbedaan cakupan dan periode data perlu diperhatikan, tetapi gap tersebut tetap menunjukkan besarnya perbedaan nilai produk yang diekspor.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga meningkatkan nilai yang diperoleh dari setiap kilogram rumput laut yang dijual ke luar negeri. Di sinilah hilirisasi menjadi penting, karena pengolahan lebih lanjut dapat menggeser ekspor dari komoditas bahan baku menuju produk bernilai tambah lebih tinggi.
Investasi Hilirisasi Rumput Laut Mulai Terlihat
Investasi pengolahan rumput laut sebenarnya sudah mulai berjalan. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dipublikasikan pada Mei 2026 menunjukkan realisasi investasi hilirisasi rumput laut sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp320,5 miliar.
Dari jumlah tersebut, investasi dalam negeri atau PMDN mencapai sekitar Rp207,3 miliar, lebih besar dibandingkan investasi asing atau PMA sekitar Rp113,2 miliar. Dengan demikian, sekitar dua pertiga investasi hilirisasi rumput laut pada 2025 berasal dari modal domestik.
Angka tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi rumput laut sudah mulai menarik investasi, meskipun skalanya masih relatif kecil.
Potensi nilai tambahnya juga tidak berhenti pada rumput laut kering, tetapi dapat berkembang ke produk seperti karagenan, agar, alginat, hingga bahan baku untuk industri makanan, kosmetik, farmasi, dan berbagai produk berbasis bioteknologi.
Hilirisasi Harus Ditopang Budidaya Berkelanjutan
Potensi hilirisasi rumput laut akan sulit maksimal tanpa pasokan bahan baku yang stabil, berkualitas, dan diproduksi secara berkelanjutan. Karena itu, sustainable seaweed farming menjadi fondasi penting agar industri pengolahan tidak hanya mendapat volume bahan baku yang cukup, tetapi juga kualitas yang konsisten dan pasokan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menyumbang sekitar 15% produksi rumput laut nasional, pemerintah daerah bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada 2026 mendorong penerapan Good Aquaculture Practices atau praktik budidaya yang baik untuk memperbaiki konsistensi kualitas produksi, ketertelusuran produk, keamanan pangan, serta menjaga ekosistem pesisir.
Pekerja tambak yang sedang mengangkut hasil panen rumput laut, untuk kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Pekerja tambak yang sedang mengangkut hasil panen rumput laut, untuk kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) |
Pentingnya aspek ini terlihat dari kasus Tinanggea, Sulawesi Tenggara. Produksi rumput laut di wilayah tersebut dilaporkan merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir, sementara petani dan kelompok lingkungan mengaitkannya dengan penurunan kualitas perairan di tengah aktivitas industri nikel.
Artinya, hilirisasi tidak cukup hanya membangun pabrik. Jika basis produksinya rusak, investasi pengolahan berisiko kekurangan bahan baku, sementara pendapatan pembudidaya ikut tertekan.
Efek Multiplier Bisa Lebih Luas
Hilirisasi rumput laut juga berpotensi memberi efek ekonomi yang lebih luas karena rantai pasoknya melibatkan pembudidaya di kawasan pesisir. Bertambahnya kapasitas pengolahan dapat mendorong permintaan bahan baku sekaligus menggerakkan aktivitas pengeringan, transportasi, pergudangan, pengemasan, hingga jasa pendukung.
Dengan begitu, nilai tambah tidak hanya tercermin pada ekspor atau investasi pabrik, tetapi juga dapat mengalir ke pendapatan pembudidaya, penciptaan lapangan kerja lokal, dan perputaran ekonomi daerah pesisir.
(slm/slm)
