MARKET DATA
Newsletter

Dunia Tak Baik-Baik Saja: Harga Minyak US$ 101, Bunga Obligasi AS Naik

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 September 2026 06:30
FILE - In this Oct. 14, 2020 file photo, the American Flag hangs outside the New York Stock Exchange in New York.Stocks were posting strong gains in early trading Thursday, May 13, 2021, following three days of losses and the biggest one-day drop in
Foto: Infografis/ Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman/ Ilham Restu

Saham-saham AS turun pada perdagangan Rabu (9/9/2026) atau Kamis dini hari waktu Indonesia seiring kenaikan imbal hasil obligasi Treasury dan harga minyak yang terus membuat investor khawatir.

Dow Jones Industrial Average turun 405,41 poin atau 0,77% menjadi 52.380,66. S&P 500 melemah 0,48% ke 7.636,36, sedangkan Nasdaq Composite melandai 0,64% menjadi 26.253,34. Ketiga indeks tersebut mencatat penurunan untuk hari ketiga berturut-turut.

Imbal hasil Treasury melonjak pada Rabu setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan operasi pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah berjangka panjang menjadi US$6 miliar.

Langkah tersebut menyusul pengumuman bulan lalu bahwa Departemen Keuangan akan setidaknya menggandakan nilai buyback surat utang pemerintah.

Setelah pengumuman tersebut, imbal hasil Treasury 10 tahun naik menjadi 4,857%, level tertinggi sejak November 2023. Imbal hasil tersebut sempat menembus 4,8% pada Selasa, seiring kenaikan harga minyak yang semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Meski rencana buyback ditingkatkan, imbal hasil obligasi tetap naik karena sebagian pelaku pasar di Wall Street sebelumnya memperkirakan nilai pembelian kembali akan lebih besar. Peter Boockvar dari The Boock Report mengatakan sejumlah pihak memperkirakan buyback bisa mencapai US$7 miliar hingga US$8 miliar.

Di tengah tekanan terhadap pasar saham, Thomas Martin dari Globalt Investments menilai pasar masih mampu bertahan meski dibayangi kekhawatiran mengenai kenaikan harga minyak dan suku bunga. Ia menambahkan, pasar juga belum mengalami koreksi sejak awal tahun ini.

 

"Jika melihat sentimen terhadap saham, levelnya sudah ekstrem. Pada saat yang sama, sentimen terhadap kenaikan suku bunga juga berada di level ekstrem. Kedua hal itu seharusnya tidak bisa bertahan bersamaan dalam waktu yang terlalu lama," ujar manajer portofolio senior Globalt tersebut, dikutip dari CNBC International.

Sentimen investor juga tertekan oleh harga minyak yang kembali naik, seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran mengenai gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Harga minyak Brent, yang menjadi patokan internasional, ditutup naik 3,36% menjadi US$101,21 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 3,25% menjadi US$96,05 per barel. Keduanya mencatat harga penutupan tertinggi sejak Mei.

Martin dari Globalt mengatakan, jika harga minyak mencapai US$120 per barel, kondisi tersebut akan mulai benar-benar menarik perhatian pasar.

(gls/gls)


Most Popular
Features