IHSG-Rupiah Mencoba Bangkit di Tengah Gempuran Kabar Buruk dari AS
Tekanan di pasar keuangan Indonesia diharapkan mereda pada hari ini setelah bura saham dan rupiah rontok kemarin. Sejumlah sentimen baik dari dalam dan luar negeri akan membayangi pasar keuangan hari ini.
Dari luar negeri, memanasnya perang serta masih tingginya imbal hasil global akan menjadi sentimen negatif. Dari dalam negeri, dilantiknya gubernur baru serta perkembangan kebijakan baru diharapkan bisa menjadi katalis positif.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Perkembangan Perang
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan terbesar sejak Juli 2026.
AS menyerang sejumlah target di pesisir selatan Iran, termasuk sistem pertahanan udara, radar, aset maritim, fasilitas peletakan ranjau, dan pusat komunikasi. Iran kemudian membalas dengan menyerang aset militer AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, dan Irak.
Iran menyebut serangan AS menewaskan 18 orang dan melukai 108 lainnya. Teheran juga menuduh serangan menghantam sebuah pesta pernikahan di wilayah Sirik dan menewaskan empat orang. Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan terhadap Iran dilakukan "sangat keras" dan memperingatkan Washington siap kembali menyerang kapan saja.
Sementara itu, Iran mengancam akan memberikan respons yang lebih besar dan menargetkan negara-negara yang membantu operasi militer AS.
Konflik juga kembali meningkatkan risiko terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Iran mengklaim dua kapal tanker terkena ranjau saat melintas di selat tersebut. Teheran juga memasukkan 11 kapal tambahan ke daftar hitam, sehingga total kapal yang dilarang melintas mencapai 56.
Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lebih dari 17 juta barel minyak berhasil keluar melalui Selat Hormuz pada Senin.
Eskalasi ini terjadi setelah konflik AS-Iran berlangsung sejak Februari. Serangan terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, kenaikan harga minyak, dan tekanan inflasi.
Konflik juga menjadi persoalan politik bagi Trump. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga AS menentang perang, sementara pemilu kongres AS akan digelar pada November.
2. Imbal Hasil Global Masih Bikin Cemas
Pasar obligasi global kembali tertekan pada Rabu kemarin. Harga obligasi pemerintah di Asia dan Eropa merosot, mendorong yield ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya dalam 30 tahun. Yield Jerman mencapai level tertinggi sejak 2011, sementara Inggris mencatat level tertinggi sejak 2008.
Tekanan dipicu kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Yield Treasury 10 tahun sempat mencapai 4,818%, tertinggi sejak November 2023, sebelum turun lebih dari 1 basis poin ke sekitar 4,78%.
Sementara itu, yield Treasury 30 tahun berada di 5,259%, mendekati level tertinggi dalam 19 tahun.sedangkan yield tenor 2 tahun turun lebih dari 2 basis poin menjadi 4,369%.
Kenaikan yield terjadi di tengah tekanan pasar obligasi global akibat kekhawatiran kenaikan harga energi, inflasi, serta ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Sebagai catatan, 1 basis poin setara dengan 0,01%. Harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah.
Tekanan juga datang dari perusahaan teknologi besar yang agresif menerbitkan utang untuk membiayai boom kecerdasan buatan (AI), sehingga bersaing dengan pemerintah dalam menarik dana investor.
Kenaikan yield membuat obligasi semakin menarik dibandingkan saham dan berpotensi menekan valuasi perusahaan teknologi.
Pasar kini menanti data tenaga kerja AS pekan ini sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
3. Ekonomi AS Tumbuh Moderat, The Fed Masih Bimbang Naikkan Suku Bunga?
Aktivitas ekonomi Amerika Serikat (AS) meningkat moderat dalam beberapa pekan terakhir, sementara lapangan kerja tumbuh tipis dan harga naik secara moderat.
Hal tersebut terungkap dalam Beige Book terbaru yang dirilis Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (2/9/2026). Laporan ini menghimpun kondisi ekonomi dari 12 distrik The Fed dan menjadi salah satu bahan pertimbangan kebijakan suku bunga.
The Fed menyebut prospek ekonomi beberapa bulan ke depan masih positif, tetapi ketidakpastian meningkat akibat harga energi, kebijakan pemerintah, dan konflik internasional.
Tekanan inflasi juga masih menjadi perhatian. Kenaikan harga melambat di tiga distrik, meningkat di satu distrik, dan tidak berubah di delapan distrik lainnya. Sejumlah pelaku usaha mengaku sulit meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen karena daya beli yang sensitif terhadap harga.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di 3,50%-3,75% sejak Desember 2025. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada September semakin kuat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan fokus utamanya masih pada inflasi.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 15-16 September sekitar 65%, sementara 35% memperkirakan suku bunga tetap.
Kenaikan harga minyak akibat konflik AS-Iran turut memperbesar risiko inflasi. Beige Book mencatat tekanan biaya energi, transportasi, bahan baku, logam, dan petrokimia meningkat di sejumlah wilayah.
Di sisi lain, pasar perumahan menunjukkan pelemahan akibat inflasi dan tingginya suku bunga hipotek. Pertumbuhan upah juga relatif terkendali, meski terdapat tekanan di sektor tertentu.
Data Beige Book dikumpulkan hingga 24 Agustus 2026, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.
4. Data Tenaga Kerja AS
Perusahaan swasta di Amerika Serikat (AS) hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus 2026, berdasarkan laporan Automatic Data Processing, Inc. (ADP). Angka ini menjadi yang terendah sejak Januari dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 47.000 pekerjaan.
Realisasi tersebut juga melambat dari Juli yang telah direvisi naik menjadi 46.000 pekerjaan, menandakan pasar tenaga kerja AS semakin kehilangan momentum.
Pertumbuhan tenaga kerja terutama berasal dari pendidikan dan layanan kesehatan (+45.000), leisure dan hospitality (+16.000), konstruksi (+12.000), serta aktivitas keuangan (+6.000).
Sebaliknya, sejumlah sektor memangkas tenaga kerja, dengan penurunan terbesar terjadi di manufaktur (-17.000) dan jasa profesional (-16.000).
Berdasarkan ukuran perusahaan, perusahaan besar menambah 34.000 pekerjaan, sementara bisnis dengan kurang dari 50 karyawan hanya menambah 3.000 pekerjaan.
Sementara itu, pertumbuhan upah relatif stabil. Kepala Ekonom ADP Nela Richardson mengatakan pola perekrutan kini semakin kompleks akibat perubahan demografi, inflasi yang persisten, serta dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar kerja.
Data ADP ini menjadi salah satu indikator yang dicermati investor menjelang rilis laporan ketenagakerjaan resmi AS.
5. Destry Ungkap Arah BI 2026-2031: Stabilitas Tetap Nomor Satu
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas utama BI periode 2026-2031, meski bank sentral kini mendapat mandat untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Destry mengatakan BI akan menjalankan prinsip 3I plus S, yakni impactful, inclusive, integrative, dan sinergi dengan pemerintah serta lembaga terkait.
Menurutnya, ketidakpastian global masih tinggi, ditandai era suku bunga tinggi (higher for longer), yield obligasi global yang tinggi, serta inflasi di sejumlah negara maju.
Untuk menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan, BI akan mengandalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, termasuk mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.
"Stabilitas itu menjadi sangat penting karena dengan ekonomi yang stabil, ruang untuk pertumbuhan ekonomi semakin luas," ujar Destry usai pelantikannya di Gedung Mahkamah Agung, Rabu (2/9/2026).
6. Harga Avtur Pertamina Naik, Ini Daftar Lengkap September 2026
PT Pertamina Patra Niaga kembali menyesuaikan harga avtur mulai 1 September 2026. Harga avtur naik di hampir seluruh bandara utama Indonesia.
Di Bandara Soekarno-Hatta (CGK), harga avtur naik dari Rp21.102 menjadi Rp22.471 per liter. Di Bandara Juanda (SUB), harga naik menjadi Rp23.239 per liter.
7. OJK Tutup Satu Bank Lagi
Satu bank tutup bertambah lagi, total tahun ini sudah ada 13 bank yang gulung tikar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai dengan Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-64/D.03/2026 tanggal 1 September 2026 tentang Pencabutan Izin Usaha PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Gaido Indonesia, mencabut izin usaha PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Gaido Indonesia yang beralamat di Jalan Raya Bandung Nomor 75, Sadewata, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
Pencabutan izin usaha PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Gaido Indonesia merupakan bagian tindakan pengawasan yang dilakukan OJK untuk terus memperkuat industri perbankan serta menjaga kepercayaan masyarakat.
Pada tanggal 15 Agustus 2025, OJK telah menetapkan PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Gaido Indonesia sebagai Bank dalam status pengawasan BPR Syariah Dalam Penyehatan (BDP) berdasarkan pertimbangan Rasio Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM) di bawah ketentuan (negatif 7,56%) dan peringkat kesehatan selama 2 (dua) periode berturut-turut adalah Peringkat Komposit 5 (PK-5), yaitu pada periode Desember 2024 dan Juni 2025.
Selanjutnya, pada tanggal 13 Agustus 2026, OJK menetapkan PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Gaido Indonesia sebagai Bank dengan status pengawasan BPR Syariah Dalam Resolusi (BDR) berdasarkan pertimbangan bahwa OJK telah memberikan waktu yang cukup kepada Pengurus dan Pemegang Saham PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Gaido Indonesia untuk melakukan upaya penyehatan.
8. Bauran EBT RI 17,3%, Bioenergi Jadi Andalan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia mencapai 17,3% pada semester I-2026, masih dalam target strategis nasional 17%-21%.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan capaian tersebut sempat mencapai 18,3% pada kuartal I-2026.
Bauran EBT masih didominasi bioenergi. Pada sektor pembangkit listrik, bioenergi menyumbang 4,19%, tenaga air 2,69%, panas bumi 1,84%, surya 0,51%, dan bayu 0,06%.
Sementara sektor nonlistrik ditopang FAME biodiesel 5,01% dan biomassa 2,82%. Pemerintah mengandalkan program B50 untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan impor solar.
Kapasitas terpasang pembangkit EBT nasional kini mencapai 16,32 GW, naik dari 12 GW pada 2021. Namun, Eniya menilai pertumbuhan investasi EBT masih relatif landai.
Pemerintah menargetkan bauran EBT mencapai 30% pada 2034, antara lain melalui pembangunan PLTS 100 GW dan lelang 14 wilayah panas bumi dengan total kapasitas 732 MW.