Perang Memanas Lagi: Intip Isi Gudang Senjata Iran, Sanggup Lawan AS?
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Setelah sempat relatif tenang selama beberapa pekan, kedua negara terlibat dalam pertukaran serangan paling serius sejak Juli 2026.
Eskalasi bermula ketika militer AS menyerang dua peluncur milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di Pulau Larak, dekat Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026). Iran membalas dengan menembakkan rudal ke dua pangkalan udara AS di Yordania.
Konflik meluas pada Selasa (1/9/2026). AS kembali menggempur sistem pertahanan udara, radar, fasilitas maritim, kemampuan pemasangan ranjau, dan jaringan komunikasi IRGC.
Iran pun membalas dengan menyerang fasilitas AS di Yordania, Bahrain, dan Irak menggunakan rudal serta drone.
Warga berkendara di dekat papan reklame yang menampilkan Presiden AS Donald Trump pada sebuah gedung di Teheran, Iran, Senin (31/8/2026). (Majid Asgaripour/WANA via REUTERS) Foto: via REUTERS/Majid Asgaripour |
Adu serang itu mengarahkan perhatian terhadap kekuatan persenjataan Iran. Teheran diketahui memiliki beragam alutsista, mulai dari rudal balistik, rudal jelajah, drone, pertahanan udara, hingga kapal perang.
Namun, kekuatan aslinya sangat sulit untuk dihitung karena Iran tidak membuka data jumlah, tingkat kesiapan, ataupun persenjataan yang masih dapat dioperasikan.
Meski demikian, CNBC Indonesia telah mengumpulkan daftar alutsista yang dimiliki Iran.
Hal ini dilansir dari Iran Weapons Database milik House of Saud yang memuat 65 entri, kemudian dikelompokkan sesuai fungsi.
1. Rudal Balistik, Senjata Andalan Iran
Rudal balistik menjadi salah satu bagian terpenting dalam pertahanan Iran.
Senjata ini mampu membawa hulu ledak dengan cara terbang tinggi sebelum meluncur mengarah ke sasaran dengan kecepatan tinggi.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai Iran memiliki persenjataan rudal terbesar dan jadi yang paling beragam di Timur Tengah.
Warga Iran memadati jalan-jalan ibu kota Teheran pada Selasa (21/4/2026), bertepatan dengan pameran persenjataan rudal balistik oleh militer. (Tangkapan Layar Video Reuters/POOL via WANA) Foto: Warga Iran memadati jalan-jalan ibu kota Teheran pada Selasa (21/4/2026), bertepatan dengan pameran persenjataan rudal balistik oleh militer. (Tangkapan Layar Video Reuters/POOL via WANA) |
Nama yang paling banyak mendapat perhatian adalah Fattah-1 dan Fattah-2. Iran mempromosikan keluarga Fattah sebagai rudal berkecepatan hipersonik yang dapat bermanuver sebelum mengenai sasaran.
Namun, klaim mengenai kecepatan dan kemampuannya masih banyak diperdebatkan.
Sejumlah pengamat pertahanan lebih memilih menyebut Fattah sebagai rudal balistik dengan kendaraan luncur atau hulu ledak yang dapat bermanuver, bukan senjata hipersonik dalam pengertian penuh.
Iran juga memiliki Khorramshahr-4 atau Kheibar yang dirancang membawa hulu ledak berkekuatan besar.
Sementara itu, Kheibar Shekan, Sejjil-2, Haj Qasem, dan keluarga Fateh menggunakan bahan bakar padat sehingga dapat disiapkan untuk diluncurkan lebih cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair.
2. Rudal Jelajah
Berbeda dengan rudal balistik yang terbang tinggi, rudal jelajah bergerak lebih menyerupai pesawat tanpa awak. Senjata ini menggunakan mesin selama penerbangan dan dapat melaju pada ketinggian rendah mengikuti permukaan bumi.
Paveh menjadi salah satu rudal jelajah jarak jauh yang paling menonjol. Iran mengeklaim rudal ini dapat mengubah jalur penerbangan dan berkoordinasi dengan rudal lain ketika menuju sasaran.
Teheran merilis rekaman peluncuran rudal dan drone yang diklaim digunakan dalam serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada Senin (31/8/2026). (Tangkapan Layar Video Reuters/WANA) Foto: Teheran merilis rekaman peluncuran rudal dan drone yang diklaim digunakan dalam serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada Senin (31/8/2026). (Tangkapan Layar Video Reuters/WANA) |
Selain Paveh, terdapat Soumar dan Hoveyzeh yang memiliki garis pengembangan dari rudal Kh-55 buatan Uni Soviet.
Iran diyakini memperoleh sejumlah Kh-55 dari Ukraina pada dekade 1990-an, kemudian mempelajari dan mengembangkan versinya sendiri.
3. Drone Murah untuk Serangan Besar-Besaran
Jika rudal memberikan daya ledak yang cukup besar, drone menawarkan pilihan serangan yang lebih murah dan fleksibel. Iran berhasil mengembangkan bergabai pesawat tanpa awak, mulai dari drone kamikaze sekali pakai sampai pesawat tanpa awak yang memiliki ukuran jumbo yang mampu kembali ke pangkalan.
Shahed-136 menjadi produk Iran yang paling dikenal. Drone dengan bentuk sayap delta itu mampu membawa bahan peledak dan menghantam langsung sasarannya, sehingga sering disebut sebagai drone kamikaze.
Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan rudal dan drone dalam operasi gabungan yang menargetkan situs militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai tanggapan atas serangan AS baru-baru ini terhadap Iran. (Tangkapan Layar Video/REUTERS) Foto: (Tangkapan Layar Video/REUTERS) |
Secara kecepatan, Shahed-136 relatif lambat dan dapat mudah terdeteksi. Namun, kerena biaya produksinya yang sangat murah memungkinkan senjata tersebut diluncurkan dalam jumlah besar untuk membebani sistem pertahanan udara lawan.
Iran kemudian mengembangkan Shahed-238 dengan mesin jet.
Kecepatannya lebih tinggi dibandingkan Shahed-136 sehingga waktu yang tersedia untuk mendeteksi dan mencegatnya menjadi lebih pendek.
CSIS mencatat Iran telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone dan 500 rudal balistik dalam empat hari pertama pertempuran dengan AS di awal 2026. CSISÂ juga memperkirakan Iran telah menghabiskan sekitar 60% persediaan drone dan 30% persediaan rudalnya selama konflik berlangsung.Â
Iran juga dinilai mampu menghasilkan sekitar 5.000 mesin dan 500 badan Shahed-136 per tahun.
4. Sistem Pertahanan Udara Iran
Iran juga mengembangkan jaringan pertahanan udara berlapis untuk melindungi kota sampai pangkalan militer. Walaupun, pada kenyatananya, selama perang Iran melawan AS, banyak objek-objek penting irang yang berhasil tertembus.
Iran mengandalkan sistem jarak jauh seperti S-300PMU-2 buatan Rusia dan Bavar-373 buatan dalam negeri.
Bavar-373 sering disebut sebagai jawaban Iran terhadap keterbatasan memperoleh sistem pertahanan asing akibat sanksi. Sistem tersebut menggunakan radar dan peluncur bergerak sehingga dapat dipindahkan untuk mempermudah mobilisasi.
5. Kekuatan Laut dan Darat Iran
Selain rudal, drone, dan pertahanan udara, Iran juga memiliki beragam persenjataan laut, kapal perang, serta kendaraan tempur darat.
Kekuatan laut Iran dirancang untuk beroperasi di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Teheran mengandalkan rudal antikapal, ranjau, kapal tanpa awak, kapal selam, hingga kapal serang cepat. Sementara di darat, Iran memiliki campuran tank buatan dalam negeri dan kendaraan tempur yang berasal dari Rusia serta negara Barat.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)


