IHSG-Rupiah Mencoba Bangkit di Tengah Gempuran Kabar Buruk dari AS
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street akhirnya bangkit setelah tiga hari terpuruk. Bursa bangkit pada perdagangan Rabu kemarin setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS mulai mereda dari lonjakan yang sebelumnya membawa yield ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Indeks S&P 500 naik 0,46% ke 7.666,60. Nasdaq Composite menguat 0,45% menjadi 26.217,83, sedangkan Dow Jones Industrial Average terapresiasi 295,07 poin atau 0,56% ke 53.061,95.
Penguatan Dow turut ditopang kenaikan saham NVIDIA Corporation dan Johnson & Johnson. Ketiga indeks utama Wall Street sekaligus memutus tren penurunan selama tiga sesi berturut-turut.
Pasar saham sebelumnya tertekan oleh tingginya yield obligasi di tengah kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,818%, level tertinggi sejak November 2023. Namun, yield tersebut kemudian bergerak relatif stabil sehingga memberikan ruang bagi saham untuk menguat.
Pergerakan pasar masih sangat dipengaruhi harga minyak. West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik hampir 1% menjadi US$91,01 per barel, sementara Brent menguat sekitar 1% ke US$95,63 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah AS kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran, meningkatkan kekhawatiran konflik kembali meluas dan mengganggu pasokan energi global.
"Penggerak utamanya adalah minyak," kata Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Advisors, kepada CNBC International.
Menurutnya, kenaikan harga minyak kemungkinan bersifat sementara. Hatfield memperkirakan indeks S&P 500 dapat menemukan titik terendah di sekitar 7.500.
"Kami meyakini harga minyak akan bergerak turun dalam enam bulan ke depan seiring meningkatnya produksi non-OPEC dan berkembangnya jalur alternatif pengiriman minyak," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lebih dari 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak perang Iran pecah pada Februari 2026.
Dengan demikian, arah harga minyak dan yield obligasi AS masih menjadi dua faktor utama yang menentukan pergerakan Wall Street dalam jangka pendek.
(mae/mae)