Nikel Jadi Modal, Baterai Jadi Taruhan: Ambisi Besar RI di Era EV

mae, CNBC Indonesia
Senin, 31/08/2026 11:30 WIB
Foto: Ilustrasi Nikel. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pesatnya industri kendaraan listrik (EV) mengubah peta persaingan global. Perebutan kini bukan lagi sekadar pasar mobil listrik, melainkan penguasaan rantai pasok baterai, dari tambang hingga pabrik sel.

Di tengah persaingan itu, Indonesia memiliki modal besar sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, komponen utama baterai EV berbasis nikel. Cadangan besar berpotensi mengantarkan Indonesia menjadi salah satu pusat industri baterai global.

Nikel menjadi bahan penting dalam baterai kendaraan listrik karena mampu meningkatkan kepadatan energi baterai. Semakin tinggi kandungan nikel, semakin banyak energi yang dapat disimpan baterai dalam ukuran yang sama.

Ilustrasi Nikel. (Dok. Freepik) Foto: Ilustrasi Nikel. (Dok. Freepik)

Bagi produsen mobil listrik, hal ini sangat penting karena membuat kendaraan bisa menempuh jarak lebih jauh dalam sekali pengisian daya tanpa harus menggunakan baterai yang lebih besar dan berat.

Nikel merupakan salah satu bahan baku paling penting dalam baterai kendaraan listrik, terutama untuk baterai jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt) dan NCA (Nickel Cobalt Aluminum) yang banyak digunakan oleh produsen mobil listrik global.

Menurut USGS, sumber daya nikel global mencapai lebih dari 350 juta ton, dengan mayoritas berasal dari endapan laterit (54%) dan sulfida magmatik (35%).

Bahkan, studi USGS pada 2022 memperkirakan dasar laut dunia menyimpan sekitar 4,5 miliar ton nikel, menunjukkan besarnya potensi pasokan jangka panjang.

Menurut data USGS, produksi nikel global diperkirakan naik 5% menjadi 3,9 juta ton pada 2025.

Indonesia menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan produksi sekitar 13% atau 2,6 juta ton. Jumlah ini berkontribusi lebih dari 50% pasokan global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia dan pemain paling diperhitungkan.

Sebaliknya, produksi Australia anjlok sekitar 54% menjadi 45.000 ton akibat rendahnya harga nikel, sementara Filipina turun 24% menjadi 270.000 ton.


(mae/mae)
Pages