MARKET DATA

Nikel Jadi Modal, Baterai Jadi Taruhan: Ambisi Besar RI di Era EV

mae,  CNBC Indonesia
31 August 2026 11:30
Warga mengisi daya mobil listrik pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di kawasan Gambir, Jakarta, Kamis (23/4/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Warga mengisi daya mobil listrik pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di kawasan Gambir, Jakarta, Kamis (23/4/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan pasar mobil listrik global mencetak rekor baru pada 2025 yakni menembus 20 juta unit. Jumlah ini melonjak 20% dibandingkan 2024 dan setara 25% dari total penjualan mobil dunia.

Ini menjadi tahun kelima berturut-turut penjualan mobil listrik naik sekitar 3,5 juta unit per tahun sejak pandemi Covid-19.

Kenaikan penjualan terutama ditopang oleh battery electric vehicle (BEV) atau kendaraan yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik dari baterai sebagai sumber energi penggeraknya.

Pangsa BEV meningkat menjadi 65% dari total penjualan mobil listrik, berbalik menguat setelah sempat melemah dalam dua tahun sebelumnya.

Perkembangan pasar berbeda di setiap kawasan. China masih menjadi motor utama industri EV global dengan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan penjualan mobil listrik dunia pada 2025.

 

Di Eropa, penjualan melonjak 30% menjadi lebih dari 4 juta unit sementara di Amerika Serikat, pangsa mobil listrik bertahan di kisaran di bawah 10%.

Lonjakan penjualan juga terjadi di Indonesia. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan BEV secara wholesales mencapai 103.931 unit, melonjak 141% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pangsa pasar mobil listrik pun menembus 12% dari total distribusi kendaraan nasional.

Membangun Ekosistem EV Indonesia

Sebagai pemilik cadangan dan produsen nikel dunia, Indonesia berpotensi menjadi pemain besar dalam rantai pasok baterai EV global.

Melalui agenda hilirisasi, pemerintah sudah membangun ekosistem industri terintegrasi dari tambang, smelter, produksi material baterai, hingga manufaktur sel baterai dan kendaraan listrik.

Salah satu pengembangan ekosistem EV nasional dilakukan Grup MIND ID melalui Proyek Dragon, megaproyek senilai sekitar US$5,9-6 miliar yang membangun rantai pasok baterai EV dari hulu hingga hilir.

Proyek ini mencakup tambang nikel di Halmahera Timur, smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) RKEF dan High Pressure Acid Leach (HPAL), fasilitas material baterai, pabrik sel dan battery pack di Karawang, hingga fasilitas daur ulang baterai.

Proses RKEF dan HPAL nikelProses RKEF dan HPAL nikel Foto: Istimewa

Proyek ini merupakan kolaborasi Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan konsorsium Contemporary Brunp Lygend (CBL) yang terdiri dari Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) Brunp, dan Lygend.

Melalui proyek tersebut, Indonesia mengembangkan rantai pasok baterai berbasis NMC, memanfaatkan posisi sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, sekaligus mempercepat ambisi Indonesia menjadi salah satu pusat industri baterai EV global.

Selain IBC, Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution juga membangun pabrik sel baterai EV pertama di Indonesia di Karawang dengan kapasitas awal 10 GWh, yang menjadi bagian penting dari rantai pasok kendaraan listrik nasional.

Hyundai berperan sebagai pengguna utama baterai sekaligus pengembang kendaraan listrik. Bersama LGES, Hyundai membangun pabrik sel baterai di Karawang melalui perusahaan patungan HLI Green Power.

 

Baterai yang diproduksi di Karawang digunakan untuk kendaraan listrik Hyundai dan Kia yang menggunakan platform Electric-Global Modular Platform (E-GMP). Dengan demikian, Hyundai membantu menciptakan pasar bagi baterai yang diproduksi di dalam negeri sekaligus mengintegrasikan produksi baterai lokal dengan manufaktur kendaraan.

Sementara itu, LG Energy Solution berperan sebagai mitra teknologi dan produsen baterai global. LGES membawa teknologi manufaktur sel baterai lithium-ion serta pengalaman dalam pengembangan baterai kendaraan listrik.

Melalui HLI Green Power, LGES bersama Hyundai membangun fasilitas baterai di Karawang dengan kapasitas 10 GWh per tahun, setara kebutuhan sekitar 150.000 kendaraan listrik. Pabrik tersebut memproduksi baterai berteknologi NMC/NCMA.

Kolaborasi kedua perusahaan menghasilkan HLI Green Power, perusahaan patungan yang menjadi salah satu fondasi manufaktur baterai EV Indonesia. Investasi awal yang diumumkan Hyundai dan LGES mencapai US$1,1 miliar, dengan kepemilikan masing-masing 50%.

Pabrik ini mulai memproduksi sel baterai secara massal pada 2024 dan menjadi salah satu fasilitas penting dalam membangun rantai pasok EV dari baterai hingga kendaraan di Indonesia. Pemerintah juga menyebut fasilitas HLI Green Power memiliki nilai investasi sekitar US$1,2 miliar dan kapasitas 10 GWh per tahun.

 

Harita Group, melalui Harita Nickel (NCKL), juga ikut menjadi bagian dari ekosistem pengembangan EV berbasis nikel di Pulau Obi, Maluku Utara.

Perusahaan membangun rantai pasok terintegrasi mulai dari pertambangan nikel, smelter RKEF, hingga pabrik HPAL yang memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai.

Harita juga mengoperasikan fasilitas pemurnian untuk menghasilkan nikel sulfat, material utama katoda baterai lithium-ion, serta mengembangkan bisnis material baterai melalui kemitraan dengan perusahaan global.

Langkah ini menjadikan Harita sebagai salah satu pemain penting dalam hilirisasi nikel dan rantai pasok baterai EV Indonesia.

PT Vale Indonesia juga ikut menjadi salah satu pemain kunci dalam pengembangan ekosistem baterai EV nasional melalui penguatan hilirisasi nikel.

Setelah bergabung dengan Grup MIND ID, Vale mempercepat tiga proyek strategis, yakni Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Sulawesi Tenggara yang mencakup tambang nikel dan pabrik HPAL, Bahodopi HPAL di Sulawesi Tengah, serta Sorowako HPAL di Sulawesi Selatan. Ketiga proyek tersebut akan memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama prekursor dan katoda baterai.

Dengan demikian, Vale tidak lagi hanya menjadi produsen ferronickel untuk industri baja tahan karat, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pemasok nikel kelas baterai dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

(mae/mae)


Most Popular
Features