Destry Effect Sudah Menyengat Rupiah, Kapan Asing Menyerbu Bursa?
Pasar keuangan Indonesia pada Selasa (11/8/2026) akan mencermati dua agenda utama, yakni penjualan eceran Indonesia dan penjualan rumah bekas Amerika Serikat (AS).
Data tersebut akan melengkapi hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang telah dirilis pada Senin. Dari China dan Jepang tidak terdapat agenda berdampak tinggi pada Selasa sehingga perhatian pasar akan lebih tertuju pada Indonesia dan AS.
Perkembangan Perang: Kesepakatan Hormuz Makin Sulit, Harga Minyak Terbang
Presiden AS Donald Trump pada Senin (10/8/2026) menanggapi tuntutan Iran untuk kesepakatan damai dengan tuntutan baru agar Teheran membayar kompensasi atas korban tewas akibat perang, serangan, dan aksi demonstrasi.
Trump mengatakan Iran harus membayar kerusakan yang terjadi selama 50 tahun terakhir, termasuk kompensasi bagi warga sipil dan pasukan AS yang tewas di kawasan tersebut. Tuntutan baru ini berpotensi semakin mempersulit upaya membuka kembali Selat Hormuz.
Sebelumnya, Iran menuntut kompensasi, penghentian sanksi, serta penghentian ancaman militer AS sebagai syarat pembukaan kembali jalur strategis tersebut.
Trump juga menuntut Iran bertanggung jawab atas korban dan kerusakan di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza. Ia turut meminta kompensasi bagi keluarga 17 pelaut AS yang tewas dalam serangan terhadap USS Cole pada 2000, meski serangan tersebut dikaitkan dengan Al Qaeda, bukan Iran.
Iran mengatakan negosiasi dengan Oman mengenai pembukaan kembali Hormuz berjalan lancar. Kedua negara telah menyepakati peta jalur pelayaran, meski sejumlah persoalan teknis masih belum selesai.
Namun, AS menolak kesepakatan yang memungkinkan Iran memungut biaya atas kapal yang melewati Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi sangat penting karena sebelum konflik, sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia melewati jalur tersebut. Blokade sejak perang pecah telah mendorong harga minyak dan inflasi global.
Trump kini menghadapi tekanan politik untuk mengakhiri perang karena harga BBM tinggi menjadi isu penting menjelang pemilu paruh waktu AS pada November.
Meski AS mengklaim menguasai Hormuz, Iran masih mampu menyerang kapal komersial dan melancarkan serangan rudal serta drone terhadap sekutu AS di kawasan tersebut.
Harga minyak melonjak sekitar 5% pada Senin (10/8/2026) karena keraguan bahwa AS dan Iran akan mencapai kesepakatan untuk membuka kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Harga WTI ditutup US$82,13/barel, sementara Brent US$87,72/barel.
Hasil Indeks Keyakinan Konsumen Masih Optimistis Tapi Melemah
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun menjadi 116,8 pada Juli 2026 dari 117,8 pada Juni. Realisasi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal sebesar 116, tetapi menjadi penurunan selama tiga bulan beruntun dan level terendah sejak April 2025.
Meski melemah, IKK masih berada di atas 100 yang berarti masyarakat tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun menjadi 107,9 dari 109,2, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen melemah menjadi 125,7 dari 126,4. Persepsi terhadap pembelian barang tahan lama juga turun menjadi 104,1, sementara indeks ketersediaan lapangan kerja berada di 101,1.
Data ini memberikan sinyal campuran. Optimisme konsumen masih terjaga, tetapi penurunan penilaian terhadap kondisi ekonomi, lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama menunjukkan daya beli belum sepenuhnya kuat.
Karena itu, data penjualan eceran pada Selasa akan menjadi konfirmasi penting apakah pelemahan keyakinan konsumen sudah mulai terlihat dalam transaksi masyarakat.
Penjualan Eceran Indonesia
Hari ini Bank Indonesia akan mengumumkan data penjualan eceran uni 2026. Penjualan eceran Indonesia periode Juni 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 1,8% secara tahunan, setelah pada Mei terkontraksi 3,9%.
Penurunan Mei merupakan kontraksi selama dua bulan berturut-turut sekaligus penurunan terdalam sejak Mei 2023. Pelemahan terjadi pada penjualan makanan, minuman dan tembakau, pakaian, peralatan rumah tangga, serta perangkat informasi dan komunikasi.
Untuk Juni, Indeks Penjualan Riil sebelumnya diperkirakan berada di 221,6. Secara bulanan penjualan masih diproyeksikan turun 0,8%, tetapi lebih baik dibandingkan kontraksi 1,5% pada Mei.
Apabila pertumbuhan tahunan berhasil kembali positif, pasar dapat menilai konsumsi masyarakat mulai membaik. Kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif kepada saham ritel, barang konsumsi, perbankan, dan emiten yang bergantung pada belanja domestik.
Sebaliknya, kontraksi lanjutan akan memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan biaya hidup dan kenaikan harga mulai membatasi pengeluaran rumah tangga.
Asing Mulai Masuk ke Pasar Saham Meski Terbatas
Setelah periode net sell yang sangat panjang, investor asing mulai masuk ke bursa saham Indonesia meskipun terbatas.
Pada perdagangan Senin kemarin, terpantau asing membukukan net foreign inflow sebesar Rp 829,69 miliar di all market namun mencatatkan net foreign sell di pasar reguler sebesar Rp 875,51 miliar.
Dari 141 hari perdagangan sejak 2 Januari, asing masih mencatat net sell dalam 93 hari dan net buy dalam 48 hari. Jadi, satu sesi pembelian besar belum menghapus tren distribusi sepanjang tahun.
Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 70,46 triliun di all market dan Rp 95,37 triliun di reguler market.
Pasar saham Indonesia sempat mencatat net buy sangat besar pada Jumat pekan lalu yakni sebesar Rp1,24 triliun di pasar secara keseluruhan sementara di pasar reguler mengalami net inflow Rp 917,23 miliar.
Mulai masuknya asing ini menjadi kabar baik setelah asing kabur besar-besaran pada periode Mei-Juli 2026. Namun, dorongan asing ini masih sangat terbatas.
Penjualan Rumah AS
Dari eksternal, pasar akan menunggu data penjualan rumah bekas AS periode Juli. Penjualan diperkirakan turun menjadi sekitar 4 juta unit secara tahunan dari 4,09 juta unit pada Juni.
Pada Juni, penjualan turun 2,4% secara bulanan. Persediaan rumah berada di 1,56 juta unit atau setara kebutuhan selama 4,6 bulan, sementara harga median naik 1,8% secara tahunan menjadi US$440.600.
Pasar properti AS masih menghadapi tekanan dari suku bunga kredit perumahan yang tinggi. Rata-rata bunga hipotek tetap 30 tahun pada Juni tercatat sekitar 6,49%.
Realisasi yang lebih kuat dapat memperlihatkan ekonomi AS masih tahan terhadap suku bunga tinggi. Namun, hal ini juga berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan dolar, sehingga dapat menekan rupiah serta pasar saham negara berkembang.
Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memperbesar ekspektasi pelonggaran kebijakan The Federal Reserve. Dampaknya bisa positif bagi aset berisiko apabila pelemahannya tidak terlalu tajam.
Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI
Sentimen domestik berikutnya datang dari penetapan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Kepastian mengenai kandidat Gubernur BI meredakan sebagian ketidakpastian pasar terkait transisi kepemimpinan bank sentral. Investor selanjutnya akan mencermati proses persetujuan di DPR serta pandangan Destry mengenai suku bunga, stabilitas rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Rupiah merespons positif dengan menguat 0,81% ke Rp17.740/US$ pada Senin pukul 13.33 WIB. Posisi tersebut lebih kuat dibandingkan pembukaan Rp17.800/US$ dan melanjutkan penguatan dalam tiga perdagangan sebelumnya.
Apabila proses transisi berlangsung lancar dan kesinambungan kebijakan BI tetap terjaga, sentimen terhadap rupiah dan aset keuangan domestik berpeluang tetap positif. Pasar terutama membutuhkan kepastian bahwa stabilitas nilai tukar dan kredibilitas kebijakan moneter tetap menjadi prioritas.
Indonesia Resmi Meluncurkan ETF Emas
Indonesia resmi meluncurkan produk Exchange Traded Fund (ETF) Emas bertepatan dengan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia pada Senin (10/8/2026).
ETF Emas menggunakan emas fisik sebagai aset dasar. Kepemilikannya dicatat secara elektronik melalui Electronic Gold Receipt sebelum unit ETF dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Sentimen positif bertambah setelah Direktorat Jenderal Pajak menyatakan ETF Emas secara teknis dapat diperlakukan seperti surat berharga. Dengan skema tersebut, ETF Emas berpeluang dibebaskan dari PPh Pasal 22 dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Keputusan dari sisi DJP disebut telah final, tetapi penerapannya masih memerlukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal serta persetujuan Menteri Keuangan.
Pembebasan pajak berpotensi membuat ETF Emas lebih efisien dan menarik bagi investor. Produk ini dapat memberikan eksposur terhadap harga emas tanpa mengharuskan investor membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung.
Peluncuran ETF Emas sekaligus memperluas pilihan investasi serta memperkuat hubungan antara pasar modal dan ekosistem bullion nasional. Meski demikian, pasar masih akan menilai kepastian aturan pajak, likuiditas perdagangan, dan minat investor terhadap produk tersebut.
Seremoni HUT ke-49 Diaktifkannya Kembali Psar Modal RI, di Bursa Efek Indonesia, Senin, (10/8/2026). (CNBC Indonesia/Mentari Puspadini) Foto: Seremoni HUT ke-49 Diaktifkannya Kembali Psar Modal RI, di Bursa Efek Indonesia, Senin, (10/8/2026). (CNBC Indonesia/Mentari Puspadini) |
