Destry Effect Sudah Menyengat Rupiah, Kapan Asing Menyerbu Bursa?
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street kompak melemah pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500turun 0,06% ke 7.753,12 sementara Nasdaq melemah 0,32% ke 26.605,36 dan Dow Jones melandai 0,11% ke 53.976,04.
Indeks melemah tertekan penurunan saham Intel dan sejumlah perusahaan chip. Investor semakin pesimistis terhadap kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas orang-orang yang disebut tewas akibat perang, serangan, dan aksi demonstrasi. Sebelumnya, Iran juga meminta AS memberikan kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS dan Israel ke wilayahnya.
Meningkatnya ketidakpastian terkait krisis Timur Tengah turut mendorong harga minyak AS naik sekitar 5% menjadi US$82,13 per barel. Jika jalur minyak melalui Selat Hormuz kembali terbuka, tekanan terhadap harga energi dan inflasi dapat berkurang.
Di sektor teknologi, saham Intel anjlok 4,1% setelah perusahaan berencana menghimpun US$15 miliar melalui penjualan saham.
Saham Nvidia juga turun 2,9%, meski perusahaan dilaporkan tengah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan keuangan untuk menyiapkan paket pendanaan US$500 miliar bagi pengembangan infrastruktur AI.
Investor juga menantikan sejumlah data ekonomi AS pekan ini untuk mencari petunjuk arah kebijakan The Fed. Data sebelumnya menunjukkan perusahaan AS secara tak terduga memangkas 23.000 pekerjaan pada Juli, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga pada September menurun.
Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 52%.
(gls/gls)