MARKET DATA
Newsletter

Akhir Pekan Penuh Ketidakpastian, 9 Kabar Ini Bikin Pasar Tegang

mae,  CNBC Indonesia
07 August 2026 06:40
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria saat ditemui di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (31/7/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Foto: Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria saat ditemui di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (31/7/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang berkembang di hari terakhir perdagangan pekan ini. AMbruknya Wall Street perlu menjadi perhatian karena diiringi dengan kenaikan imbal hasil US Treasury dan dolar AS.

Dari dalam negeri, data cadangan devisa (cadev) ditunggu pasar.

1. Perkembangan Perang

Iran tengah mengkaji rancangan aturan baru untuk Selat Hormuz yang akan melarang kapal AS dan Israel melintas di jalur pelayaran strategis tersebut. Selain itu, kapal dari negara atau pihak yang dianggap merugikan Iran juga dapat dibatasi hingga kerugian tersebut dikompensasi.

Menurut laporan media pemerintah Iran, pelanggar aturan bisa dikenai denda hingga 20% dari nilai muatan kapal. Namun, Amerika Serikat langsung menolak gagasan tersebut dan menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah jalur perairan internasional yang tidak dapat dikendalikan oleh satu negara.

 

Di sisi lain, Iran dan Oman disebut hampir mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa biaya atau pungutan. Kesepakatan itu disebut mendapat dukungan negara-negara Teluk dan dapat menjadi langkah awal untuk melanjutkan negosiasi antara AS dan Iran setelah gencatan senjata yang dicapai pada Juni lalu.

Pejabat Iran juga menyatakan AS siap "kembali pada komitmen" yang telah disepakati sebelumnya, meski membantah adanya perundingan langsung yang sedang berlangsung dengan Washington. Sementara itu, AS tetap menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh kapal komersial.

2.Danantara Siap Bawa IPO Pelindo Cs

Sejumlah BUMN bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengungkapkan, perusahaan yang masuk radar IPO antara lain PT Pegadaian, PT Pupuk Indonesia, Pelindo, hingga Angkasa Pura.

Menurut Dony, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kapitalisasi pasar besar dan berpotensi meningkatkan daya tarik pasar modal domestik. IPO BUMN juga diharapkan menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi melalui pendalaman pasar keuangan Indonesia.

Meski demikian, aksi korporasi tersebut baru akan dilakukan setelah proses konsolidasi, restrukturisasi, penguatan SDM, serta transformasi teknologi dan AI di lingkungan BUMN rampung.

Menanggapi ini, Direktur Utama Pegadaian Damar Latri Setiawan mengatakan pihaknya terus berkinerja baik dan siap menjalankan perintah dari BPI Danantara sebagai pengendali.

"Alhamdulillah kinerja Pegadaian tumbuh terus dan bagus. Kami selalu siap menjalankan arahan dari Danantara," kata Damar kepada CNBC Indonesia, Kamis (6/8/2026).


3. PHK di Amerika Turun, Upah Naik

Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat mengumumkan 33.429 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Juli 2026, jumlah terendah dalam dua tahun terakhir. Angka tersebut turun 27% dibandingkan Juni dan merosot 46% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kecerdasan buatan (AI) menjadi alasan utama PHK selama lima bulan berturut-turut, dengan total sekitar 10.970 pekerja terdampak pada Juli.

Sektor teknologi mencatat PHK terbesar dengan 9.867 pekerja, diikuti sektor keuangan (3.157), pemerintahan (2.962), dan jasa (2.581).

 

Secara kumulatif hingga Juli 2026, perusahaan-perusahaan AS telah mengumumkan 477.033 PHK, turun 41% dibandingkan 806.383 PHK yang diumumkan pada tujuh bulan pertama 2025.

Industri teknologi masih menjadi penyumbang PHK terbesar dengan 149.023 pemangkasan tenaga kerja sepanjang Januari-Juli 2026. Setelah itu disusul sektor transportasi (41.748), layanan kesehatan/produk kesehatan (34.426), jasa (23.942), dan pemerintahan (20.752).

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan AS juga mengumumkan rencana perekrutan 16.095 pekerja pada Juli, jumlah tertinggi untuk bulan Juli sejak 2022.

AS juga melaporkan biaya tenaga kerja per unit (unit labor costs) di sektor bisnis non-pertanian (nonfarm business) Amerika Serikat naik 1,3% pada kuartal II-2026, sama dengan laju yang telah direvisi pada kuartal I. Namun, angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebesar 2,1%, menurut data awal.

Kenaikan ini mencerminkan kompensasi per jam kerja yang meningkat 2,7%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 2,1% pada kuartal I, serta diimbangi oleh produktivitas tenaga kerja yang tumbuh 1,4%, naik dari 0,8% pada kuartal sebelumnya.

4. Klaim Pengangguran AS Naik

Jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan tunjangan pengangguran naik tipis 1.000 orang menjadi 199.000 pada pekan terakhir Juli 2026.

Angka tersebut sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan 202.000 klaim, dan tetap berada di dekat level terendah dalam 57 tahun, yakni 188.000 klaim yang tercatat dua pekan sebelumnya.

 

Sementara itu, klaim pengangguran berkelanjutan (continuing claims), yang menjadi indikator jumlah pengangguran yang masih menerima tunjangan, meningkat 24.000 menjadi 1,801 juta orang pada pekan sebelumnya. Meski naik, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata tahun ini.

Data ini kembali mencerminkan kekuatan pasar tenaga kerja AS, sejalan dengan pandangan para pejabat Federal Open Market Committee (FOMC) yang menilai ekonomi AS masih berada dalam kondisi lapangan kerja penuh (full employment).

5. Cadev Juli 2026

Hari ini, Bank Indonesia (BI) akan merilis data cadangan devisa Juli 2026). Data ini akan menjadi perhatian pasar di tengah tingginya volatilitas global dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Sebagai gambaran, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni naik menjadi US$145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional.


Investor akan mencermati apakah posisi cadangan devisa tetap kuat di tengah kebutuhan pembayaran utang luar negeri dan upaya stabilisasi rupiah.

Kenaikan cadangan devisa berpotensi memperkuat kepercayaan terhadap rupiah dan obligasi pemerintah. Sebaliknya, penurunan tajam bisa menjadi sinyal meningkatnya kebutuhan intervensi BI di pasar valas.

6. Neraca Perdagangan China untuk Juli

Hari ini, pasar akan menyoroti rilis neraca perdagangan China pada untuk Juli 2026, yang dapat menjadi petunjuk penting bagi prospek komoditas global.

Surplus perdagangan Negeri Tirai Bambu diperkirakan turun menjadi US$112,5 miliar pada Juli dari US$125,62 miliar pada Juni.

Namun bagi Indonesia, perhatian utama bukan pada besarnya surplus, melainkan pada kinerja impor China. Sebagai konsumen terbesar berbagai komoditas dunia, kuat atau lemahnya impor China akan mencerminkan permintaan terhadap batu bara, nikel, tembaga, hingga minyak sawit.


Investor juga akan mengamati apakah kinerja ekspor China benar-benar didorong permintaan global yang kuat atau hanya akibat faktor harga dan percepatan pengiriman barang. Karena itu, data ekspor dan impor dinilai lebih penting dibanding angka surplus semata.

Jika impor China menunjukkan penguatan, sentimen terhadap saham komoditas di Bursa Efek Indonesia berpotensi membaik. Sebaliknya, pelemahan impor dapat memicu kekhawatiran baru terhadap prospek permintaan komoditas dari mitra dagang terbesar Indonesia tersebut.

7. Non-Farm Payrolls dan Data Pengangguran AS

Perhatian pelaku pasar dunia akan tertuju pada rilis nonfarm payrolls (NFP) Juli, tingkat pengangguran Juli, dan pertumbuhan upah AS. Data ini menjadi indikator utama yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.

Konsensus memperkirakan ekonomi AS menambah 91.000 lapangan kerja pada Juli, membaik dari 57.000 pada Juni yang menjadi angka terlemah dalam empat bulan terakhir. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan naik tipis menjadi 4,3%, sedangkan pertumbuhan upah bertahan di 0,3% per bulan.

Sebagai catatan tingkat pengangguran AS turun menjadi 4,2% pada Juni 2026 dari 4,3% pada Mei 2026.

Penurunan ini terjadi karena banyak warga keluar dari angkatan kerja, sehingga tingkat partisipasi tenaga kerja merosot ke 61,5%, level terendah sejak Maret 2021.


8. Presiden Prabowo Serahkan Nama Calon Gubernur BI

Presiden Prabowo Subianto akan menentukan nama calon Gubernur Bank Indonesia (BI) dalam pekan ini. Keputusan tersebut dinantikan pasar setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan nama calon gubernur bank sentral segera diputuskan dan selanjutnya diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Insya Allah nanti minggu ini diputuskan," kata Prasetyo kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).

Setelah ditetapkan Presiden, nama calon Gubernur BI akan dikirim ke DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI. Hasilnya kemudian dibawa ke Sidang Paripurna DPR sebelum diserahkan ke Mahkamah Agung (MA) untuk pengambilan sumpah jabatan.

Sejumlah nama mulai beredar sebagai kandidat kuat pengganti Perry. Salah satu yang paling banyak disebut adalah Destry Damayanti, yang saat ini menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI sejak kursi orang nomor satu di bank sentral ditinggalkan Perry.

Meski demikian, proses politik diperkirakan baru bergulir pertengahan bulan ini lantaran DPR masih memasuki masa reses. Surat Presiden (Surpres) terkait calon Gubernur BI diperkirakan baru diterima dan diumumkan DPR pada Sidang Paripurna 14 Agustus 2026.

Penentuan sosok Gubernur BI baru menjadi perhatian pelaku pasar karena akan menentukan arah kebijakan moneter, stabilitas rupiah, serta strategi bank sentral dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan domestik ke depan.

9. Inflasi China untuk Juli


China akan menutup rangkaian data ekonomi pekan ini dengan merilis inflasi Juli pada Minggu (9/8/2026). Inflasi tahunan diperkirakan melambat menjadi 0,9% dari 1% pada bulan sebelumnya, memperkuat sinyal bahwa pemulihan permintaan domestik Negeri Tirai Bambu masih belum solid.

Pada Juni, inflasi pangan masih berada di zona negatif sementara inflasi inti turun ke 1%, mencerminkan lemahnya konsumsi masyarakat. Kondisi ini memang dapat meningkatkan harapan pasar terhadap stimulus tambahan dari pemerintah China, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan komoditas global.

Bagi Indonesia, data ini penting karena China merupakan pasar utama berbagai komoditas ekspor. Inflasi yang terus melemah dapat menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap batu bara, nikel, dan CPO masih menghadapi tantangan ke depan.

(mae/mae)


Most Popular
Features