MARKET DATA
Newsletter

Akhir Pekan Penuh Ketidakpastian, 9 Kabar Ini Bikin Pasar Tegang

mae,  CNBC Indonesia
07 August 2026 06:40
Markets Wall Street. (AP/Courtney Crow)
Foto: Foto Kolase Rupiah dan Saham. (CNBC Indonesia)

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 464,02 poin atau 0,85% ke 53.885,10. S&P 500 melemah 13,59 poin atau 0,18% menjadi 7.709,96, sedangkan Nasdaq Composite melandai 15,09 poin atau 0,06% ke 26.348,35.

Indeks saham global MSCI turun 3,81 poin atau 0,33% menjadi 1.145,73. Sebaliknya, indeks pan-Eropa STOXX 600 naik 0,16% dan mencetak rekor tertinggi baru, didorong penguatan saham sektor media dan telekomunikasi.

Sebagian besar indeks saham utama dunia melemah pada Kamis menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang sangat dinantikan pada Jumat. Sementara itu, harga minyak melonjak akibat kekhawatiran terkait akses kapal AS dan Israel ke Selat Hormuz.

Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan dengan mengutip seorang anggota parlemen bahwa sebuah komite parlemen Iran sedang meninjau rancangan undang-undang awal yang akan melarang kapal AS, Israel, dan kapal negara lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz.

Rancangan aturan tersebut akan mengenakan denda hingga 20% dari nilai muatan kapal bagi pihak yang melanggar pembatasan tersebut.

Harga minyak mentah Brent naik US$3,04 atau 3,83% menjadi US$82,49 per barel.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$2,07 atau 2,75% menjadi US$77,29 per barel.

 

Kenaikan harga minyak umumnya menjadi sentimen negatif bagi konsumen dan perekonomian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.

"Ada keengganan terhadap aset berisiko di pasar saat ini. Kita melihat harga minyak dan suku bunga sama-sama naik."," kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma, kepada Reuters.

Ketiga indeks utama Wall Street ditutup di zona merah, begitu pula indeks saham global.

Data ekonomi AS menunjukkan jumlah warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran naik tipis pekan lalu, sementara jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) turun ke level terendah dalam dua tahun pada Juli. Kondisi ini mengindikasikan pasar tenaga kerja masih relatif stabil.

Namun, investor tetap waspada menantikan laporan ketenagakerjaan Juli dari Departemen Tenaga Kerja AS yang akan dirilis Jumat.

Banyak ekonom dan pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga bulan depan jika inflasi belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Imbal Hasil Obligasi dan Dolar Menguat

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) naik seiring lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran mengenai akses AS dan Israel ke Selat Hormuz serta menjelang rilis data tenaga kerja AS.

Padahal sebelumnya, imbal hasil Treasury sempat turun karena optimisme bahwa kesepakatan untuk membuka kembali akses Selat Hormuz dapat menjaga harga minyak tetap terkendali.

Hal ini menjadi perhatian utama pasar karena kenaikan harga energi berisiko memicu kembali inflasi konsumen yang masih tinggi.

Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun naik 5,67 basis poin menjadi 4,674%.

(mae/mae)


Most Popular
Features