Lupakan Boeing-Airbus, Sambutlah Embraer: Sang Penguasa Langit Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri pesawat komersil global selama ini identik dengan dua nama besar, yakni Airbus dan Boeing.
Namun, di tengah panjangnya antrean pesawat dari kedua produsen tersebut, Embraer perlahan mengambil peluang dan berkembang jauh lebih cepat.
Produsen pesawat asal Brasil itu memang masih jauh lebih kecil dibandingkan Airbus dan Boeing. Meski demikian, permintaan terhadap pesawat penumpang regional, jet pribadi, hingga pesawat militernya terus meningkat.
Seperti dilansir dari The Economist, Embraer mengirimkan total 141 pesawat pada 2021.
Jumlah itu pun meningkat menjadi 244 unit pada 2025, yang terdiri atas 78 pesawat komersial, 155 jet eksekutif, tiga KC-390, dan delapan A-29 Super Tucano.
Pertumbuhan berlanjut tahun ini. Berdasarkan laporan resmi perusahaan, Embraer mengirimkan 109 pesawat sepanjang semester I-2026, naik sekitar 20% dibandingkan 91 unit pada periode yang sama tahun lalu. Pengiriman kuartal kedua mencapai 65 unit, tertinggi untuk kuartal kedua dalam 16 tahun.
Untuk 2026, perusahaan menargetkan pengiriman 80-85 pesawat komersial dan 160-170 jet eksekutif. Jika batas atas target tercapai, kedua divisi tersebut dapat mengirimkan total 255 pesawat, belum termasuk pesawat pertahanan.
Nilai pesanan yang belum dipenuhi atau order backlog juga mencapai rekor US$34,5 miliar pada akhir kuartal II-2026. Angka itu naik 16% secara tahunan dan menjadi rekor baru selama tujuh kuartal berturut-turut.
Backlog tersebut tidak hanya berasal dari pesawat penumpang. Pesanan divisi komersial mencapai US$15,1 miliar, jet eksekutif US$7,8 miliar, pertahanan US$6,1 miliar, serta jasa dan layanan pendukung US$5,5 miliar.
Kinerja keuangannya ikut membaik. Pendapatan Embraer mencapai rekor US$7,58 miliar pada 2025, tumbuh 18% secara tahunan. Perusahaan juga membukukan arus kas bebas US$491,2 juta dan mengakhiri tahun dengan posisi kas bersih US$109,3 juta, di luar bisnis taksi terbang Eve.
Kepala Eksekutif Embraer Francisco Gomes Neto melihat masih terbuka ruang untuk pertumbuhan besar pada tahun-tahun mendatang. Kinerja tersebut mulai memunculkan pertanyaan, apakah Embraer akan tetap menguasai pasar pesawat kecil atau mulai menantang Airbus dan Boeing di kelas yang lebih besar?
Menang Saat Airbus dan Boeing Kewalahan
Salah satu pendorong utama pertumbuhan Embraer justru datang dari panjangnya antrean pesawat pada dua pabrikan pesaingnya. Per akhir Juni 2026, Airbus memiliki total backlog sebanyak 9.222 pesawat komersial, sedangkan Boeing mempunyai lebih dari 6.200 pesawat. Gabungannya mencapai lebih dari 15.400 unit.
Panjangnya antrean tersebut membuat maskapai harus menunggu bertahun-tahun untuk memperoleh pesawat berbadan sempit berukuran besar. Kondisi ini membuka jalan bagi pesawat regional E2 buatan Embraer yang dapat dikirim lebih cepat.
Sejak 2017, Embraer memasarkan E2 dengan julukan "Profit Hunter".
Nama itu tidak sekadar menjadi bahan promosi. E195-E2 mengonsumsi bahan bakar sekitar 25% lebih rendah dibandingkan pesawat generasi sebelumnya. Interval perawatan (maintenance) dasarnya juga mencapai 10.000 jam terbang sehingga waktu pesawat berada di tempat perawatan dapat ditekan.
Perubahan pola perjalanan semakin mendukung bisnis Embraer. Penumpang mulai menyukai penerbangan langsung antara kota dan bandara yang lebih kecil tanpa harus transit melalui bandara penghubung utama.
Boeing mencatat hampir 5.500 pasangan bandara baru telah dibuka sejak 2015. Airbus juga memperkirakan pertumbuhan kota-kota kecil akan mendorong maskapai membuka lebih banyak penerbangan langsung.
Rute seperti ini lebih cocok dilayani pesawat berkapasitas kecil karena jumlah penumpangnya belum cukup besar untuk pesawat sekelas Boeing 737 atau Airbus A320.
Embraer pun memperkirakan kebutuhan pesawat berkapasitas maksimal 150 kursi dapat mencapai 8.500 unit hingga 2045 dengan nilai US$650 miliar.
Gomes Neto menilai, sekalipun permintaan hanya separuh dari proyeksi tersebut dan Embraer memperoleh setengah pesanannya, kapasitas produksi perusahaan tetap dapat terisi selama 20 tahun.
Embraer juga diuntungkan oleh pesawat E175. Pesawat tersebut menjadi satu-satunya model yang masih diproduksi dan dapat digunakan maskapai regional pengumpan di Amerika Serikat karena perjanjian dengan serikat pilot membatasi ukuran maksimum pesawat yang boleh mereka operasikan.
Performa tersebut turut tercermin di pasar saham. Melansir data Refinitiv, Dalam lima tahun terakhir hingga perdagangan Senin (3/8/2026), saham Embraer melesat 380,51%, jauh melampaui Airbus yang naik 80,53% dan Boeing yang hanya menguat 3,62%.
Bisnisnya Bukan Cuma Pesawat Penumpang
Pertumbuhan Embraer turut ditopang oleh bisnis jet pribadi yang berkembang pesat sejak pandemi Covid-19. Phenom 300 menjadi jet kelas ringan terlaris di dunia selama 14 tahun berturut-turut berdasarkan data General Aviation Manufacturers Association (GAMA).
Sepanjang 2025, Embraer mengirimkan 72 unit Phenom 300. Lebih dari 900 pesawat tersebut telah beroperasi di 70 negara dan secara gabungan membukukan lebih dari 2,9 juta jam terbang.
Selain unggul di Private Jet, peningkatan anggaran militer di berbagai negara juga mengangkat bisnis Embraer di bidang pertahanan. Backlog divisi ini mencapai US$6,1 miliar pada kuartal II-2026, melonjak 42% secara tahunan. Kenaikan tersebut antara lain ditopang pesanan Uni Emirat Arab untuk 10 unit C-390 Millennium dengan opsi pembelian 10 pesawat tambahan.
Embraer juga memegang saham pengendali di Eve, pengembang taksi terbang listrik. Bisnis ini masih berada pada tahap pengembangan, tetapi jumlah perusahaan rintisan yang mampu bertahan di industri tersebut semakin sedikit sehingga Eve berpeluang menjadi salah satu pemain utama.
Beragam lini usaha tersebut membuat Embraer tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan pesawat penumpang. Namun, Gomes Neto menilai perusahaan tetap perlu menyiapkan rangkaian produk baru untuk memasuki tahap pertumbuhan yang lebih ambisius.
Berani Menantang Airbus dan Boeing?
Embraer mempunyai dua pilihan besar. Pilihan pertama adalah mengembangkan jet pribadi berukuran besar. Pilihan yang jauh lebih berani ialah membuat pesawat komersial yang lebih besar untuk berhadapan langsung dengan Airbus dan Boeing.
Peluang itu diperkirakan muncul menjelang akhir 2030-an, ketika Airbus dan Boeing mulai menyiapkan pengganti pesawat "narrow body" andalan mereka.
Selama model yang tersedia saat ini masih laris, kedua perusahaan tidak akan terdorong untuk buru-buru mengeluarkan biaya pengembangan pesawat baru. Celah waktu tersebut dapat dimanfaatkan Embraer.
Namun, menembus pasar yang dikuasai dua raksasa tidaklah mudah.
Bombardier pernah mencoba memasuki pasar tersebut melalui program C Series, tetapi proyek itu menekan kondisi keuangan perusahaan. Airbus kemudian mengambil 50,01% kepemilikan program tersebut tanpa menyetorkan uang tunai dan mengubah namanya menjadi A220.
Kepala Eksekutif Airbus Guillaume Faury bahkan telah memperingatkan Embraer untuk "berpikir dua kali". Pengalaman Bombardier menunjukkan bahwa memiliki pesawat bagus saja tidak cukup. Produsen juga membutuhkan modal besar, jaringan pemasok, layanan purnajual, serta akses ke maskapai di berbagai negara.
Di sisi lain, potensi pasarnya terlalu besar untuk diabaikan. Boeing memperkirakan dunia membutuhkan 43.625 pesawat baru hingga 2045. Sementara itu, Airbus memperkirakan kebutuhan 42.060 pesawat baru dalam periode yang sama.
Embraer juga tidak memulai dari nol. Dalam sekitar 20 tahun terakhir, perusahaan telah memperoleh sertifikasi untuk hampir 20 pesawat baru. Rekam jejak tersebut membuat calon pelanggan kemungkinan akan memandang serius produk baru yang ditawarkan.
Hambatan terbesarnya adalah biaya. Pengembangan pesawat baru diperkirakan membutuhkan sekitar US$10 miliar. Nilainya bahkan lebih besar daripada seluruh pendapatan Embraer pada 2025 yang mencapai US$7,58 miliar.
Embraer kemungkinan harus menggandeng produsen mesin, pemasok komponen, pelanggan, serta investor lain untuk membiayai proyek tersebut. Mengandalkan dana perusahaan sendiri akan terlalu berat, meskipun kondisi keuangannya telah jauh membaik.
Keputusan untuk menantang Airbus dan Boeing dikabarkan masih membelah pandangan di internal perusahaan. Embraer belum harus mengambil keputusan dalam waktu dekat karena bisnis yang ada masih tumbuh kuat. Seperti ditegaskan Gomes Neto, perusahaan saat ini "sangat nyaman dengan posisi yang dimiliki".
Kenyamanan itu sekaligus menjadi dilema. Embraer dapat memilih mempertahankan pasar yang telah dikuasainya dengan risiko lebih rendah, atau memakai momentum terbaiknya untuk mencoba mengubah industri pesawat komersial yang selama puluhan tahun dikuasai dua perusahaan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)