MARKET DATA

Dulu Terbang karena Perang Iran, Kini Saham Senjata Kehilangan Tenaga

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
26 May 2026 17:50
Daftar Negara Tanpa Tentara, Begini Cara Menjaga Pertahanan Nasionalnya
Foto: Infografis/ Negara Tanpa Tentara/ Edward Ricardo Sianturi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja saham dari berbagai emiten di sektor pertahanan dan kedirgantaraan global menunjukkan pergerakan yang cukup variatif selama kurun waktu tiga bulan terakhir sejak perang AS-Iran pecah pada akhir Februari 2026.

Berdasarkan rekapitulasi data pergerakan nilai saham sejak pertengahan Februari hingga 22 Mei 2026, mayoritas emiten pertahanan utama justru mencatatkan performa yang tertekan.

Beberapa emiten besar berskala multinasional yang bermarkas di Amerika Serikat, seperti Northrop Grumman, Lockheed Martin, dan Boeing, mengalami penurunan nilai saham pada rentang -9% hingga melebihi -20%.

Fenomena koreksi serupa juga dialami oleh emiten asal Tiongkok, Shenyang Xingyang Aero. Sebaliknya, anomali positif terlihat pada beberapa emiten tertentu seperti Elbit Systems dan Kongsberg Gruppen yang masih sanggup mencatatkan pertumbuhan di zona hijau.

Tabel Pergerakan Harga Saham (3 Bulan Terakhir)

Tabel berikut ini menyajikan data persentase imbal hasil kumulatif dari sederet emiten pertahanan selama 3 bulan terakhir:

Evaluasi Dinamika Pasar dan Sentimen Konflik

Rekapitulasi pergerakan harga saham di atas memberikan sebuah kesimpulan empiris yang mematahkan pandangan konvensional di pasar modal. Terdapat sebuah asumsi umum yang meyakini bahwa saham perusahaan pertahanan secara otomatis akan mengalami lonjakan harga yang tajam ketika terjadi perang atau eskalasi ketegangan geopolitik global. Namun, data kinerja jangka pendek ini memperlihatkan realitas yang bertolak belakang.

Mulai menurunnya saham senjata ini berbanding terbalik pada 2 Maret 2026 di mana perang baru dimulai. Saham-saham senjata pada saat itu beterbangan

Terkoreksinya nilai saham pada mayoritas kontraktor pertahanan berskala besar membuktikan bahwa harga saham tidak semata-mata dikendalikan oleh sentimen peperangan. Investor di pasar saham tetap melakukan penilaian secara rasional terhadap sejumlah faktor fundamental lainnya.

Variabel teknis seperti realisasi kontrak militer dari pemerintah, hambatan pada rantai pasokan bahan baku global, penyesuaian valuasi aset yang mungkin sudah terlalu tinggi pada periode sebelumnya, serta margin laba operasional perusahaan tetap menjadi penentu utama arah harga saham.

Sehingga asumsi bahwa sektor pertahanan mutlak akan mencetak keuntungan dan menguat pesat di tengah gejolak perang terbukti tidak sesuai dengan realita pasar yang berlangsung saat ini.

.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular