Saham Raksasa Senjata Melesat, Tertawa di Tengah Perang Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham-saham perusahaan pertahanan besar dunia mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin, Senin (2/3/2026).
Dari 20 saham emiten pertahanan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, sebanyak 17 di antaranya ditutup menguat, sementara hanya tiga yang berakhir di zona merah.
Penguatan ini terjadi di tengah memanasnya perang di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran.
Konflik kemudian melebar setelah Iran melancarkan serangan balasan ke Israel serta target-target AS dan sekutunya di negara-negara Teluk. Hal itu pun memicu ledakan di sejumlah kota, serta memperbesar kekhawatiran bahwa konflik akan berlangsung lebih panjang dan menyeret kawasan Timur Tengah ke perang yang lebih luas.
Dalam suasana seperti ini, pasar biasanya cepat membaca siapa pihak yang paling mungkin diuntungkan secara bisnis.
Ketika eskalasi militer meningkat, investor cenderung memburu saham-saham pertahanan dengan asumsi kebutuhan senjata, amunisi, sistem radar, pesawat tempur, hingga layanan militer akan ikut terdorong.
Elbit Systems (ESLT) menjadi saham pertahanan dengan lonjakan paling tinggi pada perdagangan perdana setelah perang meletus.
Emiten asal Israel yang tercatat di Nasdaq itu melesat 7,84% dan menutup perdagangan di level US$829,36 per saham. Kenaikan ini bukan hanya membuat Elbit tampil paling menonjol di antara deretan saham pertahanan global, tetapi juga mencetak rekor tertinggi baru atau all time high.
Wajar saja, perusahaan ini memang dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam sistem elektronik militer, drone, amunisi presisi, hingga teknologi pengintaian yang digunakan untuk kebutuhan pertahanan Israel maupun pasar ekspor.
Selain itu, harga saham BAE Systems ikut terdongkrak naik. Perusahaan pertahanan asal Inggris yang melantai di London Stock Exchange dengan kode BA.
ini melesat 6,11% ke posisi £2.241. Sebagai salah satu kontraktor pertahanan terbesar di Eropa, BAE memiliki lini bisnis yang sangat luas, mulai dari kapal perang, kendaraan tempur, sistem artileri, pesawat militer, hingga teknologi pertahanan siber.
Northrop Grumman (NOC) pun tidak ketinggalan dalam reli saham pertahanan. Raksasa industri militer asal Amerika Serikat ini menguat 6,02% ke US$768,02. Northrop selama ini dikenal lewat produk-produk kelas berat seperti pesawat pembom strategis, sistem rudal, hingga berbagai teknologi militer canggih yang menjadi andalan pemerintah AS.
Dari Asia, AVIC Shenyang Aircraft juga ikut menorehkan kenaikan signifikan. Emiten pertahanan kedirgantaraan asal China yang tercatat di Shanghai Stock Exchange dengan kode 600760 itu naik 4,72% ke CNY57,95 per saham.
Sementara itu, RTX juga masuk dalam kelompok penguat utama. Saham yang tercatat di NYSE tersebut naik 4,71% dan ditutup di US$212,16.
Namun tidak semua saham pertahanan ikut berpesta. Ada tiga emiten yang justru melemah pada perdagangan kemarin.
Penurunan paling dalam dialami Rheinmetall (RHM). Emiten pertahanan asal Jerman yang tercatat di bursa Xetra ini terkoreksi 2,16% ke level €1.627,5 per saham. Padahal, Rheinmetall selama ini dikenal sebagai salah satu bintang sektor pertahanan Eropa berkat bisnisnya yang kuat di kendaraan tempur, amunisi, meriam, hingga sistem pertahanan darat.
Tekanan juga terlihat pada Safran. Perusahaan asal Prancis yang melantai di Euronext Paris dengan kode SAF ini ditutup melemah 1,15% ke posisi €336,1.
Sementara itu, Saab AB menjadi emiten lain yang ikut berakhir di zona negatif. Perusahaan pertahanan asal Swedia yang tercatat di Nasdaq Stockholm ini turun 0,51% ke level SEK650,1.
Saab dikenal luas lewat berbagai produk strategis seperti jet tempur Gripen, sistem radar, kapal selam, serta beragam perlengkapan pertahanan lainnya.
Dalam jangka pendek, perang atau eskalasi konflik militer hampir selalu memicu minat investor pada saham-saham pertahanan karena pasar menilai potensi permintaan produk militer akan meningkat.
Ekspektasi kenaikan pesanan, belanja pertahanan negara, hingga kebutuhan penggantian persenjataan biasanya langsung tercermin dalam harga saham.
Meski begitu, sentimen seperti ini umumnya sangat bergantung pada perkembangan konflik berikutnya, sehingga arah pergerakannya tetap bisa berubah cepat seiring dinamika di lapangan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google