MARKET DATA

Warga AS Muak ke Demokrat-Republik, Calon Independen Panen Dukungan

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
05 August 2026 19:40
A voter waits for her party to cast their midterm election ballots at the Sisters of The Company of Mary in Tustin, California, U.S. November 6, 2018.  REUTERS/Kyle Grillot
Foto: Pemilu AS (REUTERS/Kyle Grillotz)

Jakarta, CNBC Indonesia - Meningkatnya ketidakpuasan terhadap Partai Demokrat dan Partai Republik membuka peluang bagi gelombang baru kandidat independen di Amerika Serikat (AS).

Namun, meski jumlahnya terus bertambah, sistem politik dua partai di AS masih menjadi tantangan besar bagi mereka untuk meraih kemenangan.

Pada pemilu Kongres 2026, jumlah kandidat independen yang mendaftar mencapai level tertinggi setidaknya sejak 2000. Fenomena ini didorong oleh perubahan sikap pemilih.

Survei Gallup menunjukkan 45% warga Amerika kini mengidentifikasi diri sebagai independen, rekor tertinggi sejak 1988. Kondisi tersebut membuat sejumlah politisi melihat peluang untuk menembus sistem politik dua partai yang selama ini mendominasi Washington.

Kongres AS, jumlah kandidat independenKongres AS, jumlah kandidat independen Foto: Economist

BIAS Brewing, sebuah pabrik bir di Kalispell, Montana, mungkin terdengar sebagai lokasi yang tidak lazim bagi seorang politikus yang menyebut dirinya sebagai "radical pragmatist" untuk menggelar acara kampanye. Namun, pada suatu malam di bulan Juli, Seth Bodnar justru memilih tempat itu untuk menyampaikan visi politiknya.

"Maju sebagai kandidat independen berarti Anda akan membuat kedua kubu sama-sama tidak senang," kata Bodnar kepada para pengunjung yang menikmati bir mereka. Bodnar ingin menjadi senator berikutnya dari Montana.

Menurutnya, Partai Demokrat cenderung mengabaikan negara bagian tersebut, sementara Partai Republik menganggap dukungan dari Montana sebagai sesuatu yang sudah pasti.

Kampanye Seth Bodnar merupakan bagian dari tren yang tengah berkembang.

Pemilih di Amerika Serikat semakin tidak puas terhadap dua partai politik utama, dengan tingkat popularitas bersih (net favourability) Partai Demokrat mendekati titik terendah dalam 35 tahun terakhir.

Kondisi ini tidak hanya membuka peluang bagi politikus sayap kiri, tetapi juga mendorong lahirnya generasi baru kandidat independen.

Pada Pemilu 2026, jumlah calon anggota Kongres yang mendaftar sebagai kandidat independen menjadi yang terbanyak dibandingkan siklus pemilu mana pun sejak setidaknya tahun 2000.

Kampanye Bodnar bersama Dan Osborn, kandidat independen dari Nebraska, menjadi ujian terbesar tahun ini untuk melihat apakah kandidat independen mampu meraih kemenangan dalam sistem politik dua partai yang selama ini cenderung menyulitkan mereka.

Maju sebagai kandidat independen bukanlah perkara mudah. Secara historis, hanya sedikit politikus yang menganggap langkah tersebut sebagai pilihan yang bijak.

Kandidat independen tidak memiliki infrastruktur kampanye seperti yang dimiliki partai-partai besar.

Di banyak negara bagian, mereka juga harus mengumpulkan lebih banyak tanda tangan agar dapat lolos ke surat suara. Meski demikian, peluang bagi para politikus yang ingin maju secara independen kini mulai berubah.

Berdasarkan survei lembaga riset Gallup, sebanyak 45% warga Amerika Serikat menyatakan diri sebagai independen pada tahun lalu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi setidaknya sejak 1988.

Semakin banyak warga Amerika Serikat yang tidak lagi mengidentifikasi diri dengan dua partai politik utamaSemakin banyak warga Amerika Serikat yang tidak lagi mengidentifikasi diri dengan dua partai politik utama Foto: Economist

Di antara kelompok tersebut, kecenderungan untuk berpihak kepada Partai Demokrat tercatat lima poin persentase lebih tinggi dibanding Partai Republik.

Tren ini juga mulai menarik perhatian kalangan moderat yang sebelumnya mengidentifikasi diri sebagai Demokrat.

Joe Manchin, mantan senator dari West Virginia yang beralih dari Partai Demokrat menjadi independen, bahkan mendedikasikan masa pensiunnya untuk membantu lebih banyak kandidat independen terpilih ke Kongres.

Di negara bagian yang dikuasai Partai Republik, kebijakan Partai Demokrat kerap lebih populer dibanding partainya sendiri. Karena itu, kandidat independen dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menang.

Tak heran jika dua kandidat independen terkuat tahun ini berkampanye di Montana dan Nebraska, dua negara bagian yang telah tiga kali memilih Donald Trump sebagai presiden, tetapi pada saat yang sama para petaninya juga terdampak oleh tarif perdagangan dan tingginya biaya bahan bakar.

 

Di Montana, Bodnar memiliki rekam jejak yang kuat di institusi-institusi besar. Ia merupakan lulusan Akademi Militer West Point, dua kali ditugaskan ke Irak, serta pernah bekerja di General Electric sebelum menjabat sebagai Presiden University of Montana di Missoula.

"Saya merasa kedua partai telah meninggalkan saya di posisi yang saya sebut sebagai sensible centre atau kelompok moderat yang rasional," ujarnya saat berbincang di sebuah kedai kopi di Missoula, dikutip dari The Economist.

Dalam pemilihan nanti, Bodnar akan menghadapi Kurt Alme, mantan jaksa federal AS yang mendapat dukungan dari Steve Daines, senator petahana yang akan pensiun, serta Presiden Donald Trump.

Daines baru mengumumkan rencana pensiunnya menjelang batas akhir pencalonan, yang secara efektif memastikan hanya kandidat pilihannya yang memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan pencalonan.

Berbeda dengan Bodnar, Osborn dikenal sebagai sosok populis yang vokal. Pria berusia 51 tahun yang merupakan veteran militer, mekanik, sekaligus mantan pemimpin serikat pekerja itu memulai karier politiknya pada 2024, ketika Partai Demokrat gagal mengusung kandidat untuk pemilihan Senat.

Osborn maju sebagai kandidat independen dan kalah dari kandidat Partai Republik, Deb Fischer, tetapi tetap berhasil meraih 47% suara-hasil yang tergolong impresif.

Pada pemilu kali ini, ia akan menghadapi senator petahana dari Partai Republik, Pete Ricketts, mantan gubernur Nebraska yang berasal dari keluarga konglomerat.

Ayah Ricketts merupakan pendiri perusahaan jasa keuangan TD Ameritrade, sementara keluarganya juga memiliki klub bisbol Chicago Cubs.

Para pengkritik berpendapat bahwa Bodnar maupun Osborn bukanlah kandidat independen sejati, melainkan politikus Demokrat yang berupaya menjauh dari citra negatif partainya.

Keduanya diketahui mengandalkan ActBlue, platform penggalangan dana milik Partai Demokrat, serta mendapat dukungan dari sejumlah tokoh Demokrat.

Osborn, khususnya, kerap menyuarakan sentimen anti-miliarder yang identik dengan kelompok kiri. Dalam sebuah kampanye di Sidney, Nebraska bagian barat, ia mengatakan Elon Musk bisa menyumbang US$300 juta untuk sebuah kampanye lalu mendapat akses istimewa ke White House

"Menurut saya, itu tidak benar." ujarnya.

Bodnar menegaskan bahwa sikap independennya merupakan hasil dari pengalamannya di dunia militer, yang menurutnya membentuk sikap nonpartisan.

Ia juga mengaku telah mengidentifikasi dirinya sebagai seorang independen selama lebih dari satu dekade.

Menurut Bodnar, warga Montana adalah kaum libertarian yang tetap peduli terhadap tetangganya.

"Kami percaya pemerintah tidak seharusnya ikut campur dalam urusan dokter kami, kehidupan pribadi kami, maupun lemari senjata kami," ujarnya.

Osborn juga berupaya menunjukkan independensinya dengan mengkritik tokoh-tokoh yang pernah menjadi wajah Partai Demokrat.

"Saya tidak takut mengatakan bahwa Joe Biden gagal menangani persoalan perbatasan. Saya juga tidak takut mengatakan bahwa Barack Obama seharusnya tidak menyelamatkan sektor perbankan," ujar Osborn kepada The Economist.

Peluang kemenangan kandidat independen bergantung pada kemampuan mereka meyakinkan cukup banyak pemilih Partai Republik untuk memberi mereka kesempatan.

Sama pentingnya, peluang itu juga ditentukan oleh keputusan kandidat Partai Demokrat untuk mengundurkan diri atau tetap bertahan dalam persaingan dan berisiko memecah suara.

Di Nebraska, pemenang pemilihan pendahuluan Partai Demokrat telah mengajukan dokumen untuk mengundurkan diri dari pencalonan.

Namun, kandidat yang kalah dalam pemilihan pendahuluan tersebut menggugat keputusan itu demi memaksa Partai Demokrat tetap mengajukan kandidat dalam pemilu.

Di Montana, kandidat Partai Demokrat adalah Alani Bankhead.

Namun, kampanyenya nyaris kehabisan dana.

"Saat masih menjadi senator, saya adalah sugar daddy," ujar Max Baucus, politikus Demokrat yang menjadi senator dengan masa jabatan terlama di Montana.

"Saya berhasil menggalang jutaan dolar untuk Partai Demokrat di Montana." imbuhnya.

Hingga kini, belum ada yang mampu menggantikan perannya. Bahkan, Komite Kampanye Senator Demokrat (Democratic Senatorial Campaign Committee/DSCC) tidak berencana menggelontorkan dana untuk pemilu tersebut. Meski demikian, Bankhead bersikeras tidak akan mengundurkan diri.

Batas waktu pengunduran diri adalah 10 Agustus. Baucus, yang kini mendukung Bodnar, masih berharap Bankhead berubah pikiran.

"Kalau Seth ingin menang, dia harus mundur." katanya.

Meningkatnya jumlah pemilih independen menunjukkan ketidakpuasan terhadap dua partai besar AS semakin meluas.

Namun, apakah perubahan preferensi pemilih itu cukup untuk mengubah hasil pemilu masih menjadi pertanyaan, mengingat sistem politik Amerika selama ini lebih menguntungkan kandidat Demokrat dan Republik.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(slm/slm)



Most Popular