MARKET DATA
Newsletter

Pekan Ini, Xi Jinping Kumpulkan Elite China, Dunia Menanti Putusan Fed

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
27 July 2026 06:30
Foto kolase bendera Amerika Serikat dan China. IREUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Foto: Foto kolase bendera Amerika Serikat dan China. IREUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup melemah pada akhir pekan lalu
  • Bursa Wall Street bangkit pada akhir pekan lalu setelah sempat jatuh karena lonjakan harga minyak
  • Data ekonomi serta keputusan The Fed akan menjadi pusat sentimen pekan ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada akhir perdagangan pekan lalu. 

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bangkit pada pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk pada perdagangan Jumat (24/7/2026), dengan pelemahan nyaris mencapai 2% di tengah derasnya aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).

Sentimen eksternal berupa lonjakan harga minyak dunia di atas US$100 per barel serta kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus membayangi pergerakan pasar.

Hingga akhir perdagangan sesi pertama, IHSG anjlok 117 poin atau 1,88% ke level 6.196,43. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 587 saham melemah, hanya 104 saham menguat, sementara 105 saham bergerak stagnan.

Nilai transaksi telah mencapai Rp 17,71 triliun dengan volume perdagangan 37,84 miliar saham dalam 2,25 juta kali transaksi, mencerminkan tingginya tekanan jual sejak awal sesi.

Pelemahan IHSG didominasi oleh aksi jual pada saham-saham unggulan, terutama sektor perbankan yang sehari sebelumnya juga menjadi sasaran jual investor asing.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,36 triliun pada Jumat pekan lalu. Artinya sepanjang tahun ini, net sell sudah tercatat Rp 77,73  triliun,

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Mata uang Garuda bahkan sempat mendekati level psikologis Rp18.000/US$ sebelum memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.

Dilansir dari Refinitiv, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026).

Mata uang Garuda bahkan sempat mendekati level psikologis Rp18.000/US$ sebelum memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,28% ke posisi Rp17.935/US$. Posisi penutupan tersebut sama dengan level pembukaan perdagangan Jumat.

Secara mingguan, rupiah juga melemah sekitar 0,25% dari posisi penutupan Jumat pekan lalu di Rp17.885/US$.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menembus 7,374%. Posisi ini adalah yang tertinggi sejak 11 Juni 2026. Imbal hasil yang melonjak menandai harga SBN yang tengah jatuh karena dijual investor.



Add logo_svg as a preferred
source on Google

Pasar saham Amerika Serikat (AS) dan Eropa berhasil bangkit dari tekanan pada akhir pekan lalu, Jumat (24/7/2026) setelah harga minyak dunia turun tajam.

Namun, pasar obligasi masih dibayangi kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga, membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tetap berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Indeks utama Wall Street ditutup di zona hijau. Dow Jones naik 0,5%, S&P 500 menguat sekitar 0,4%, sementara Nasdaq bergerak relatif datar. Di Eropa, indeks STOXX 600 melonjak 0,8%, sekaligus mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut.

Sentimen positif muncul setelah harga minyak Brent anjlok sekitar 4% ke US$96,37 per barel, usai sehari sebelumnya melonjak 7% hingga menembus US$102. Koreksi terjadi meski ketegangan geopolitik masih tinggi, menyusul serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah serta ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan "hukuman militer besar" kepada Iran dan kelompok Houthi.

Meski saham menguat, investor tetap waspada terhadap inflasi. Rencana pemerintah AS menaikkan tarif impor terhadap barang dari 60 mitra dagang diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga barang. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar sepertiga bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini, sementara peluang kenaikan pada September hampir sepenuhnya telah diperhitungkan pasar.

Ekspektasi tersebut mendorong yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,68%, level tertinggi dalam lebih dari 18 bulan, sedangkan yield tenor 30 tahun bertahan di sekitar 5,16%, mendekati level tertinggi dalam 19 tahun.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS menuju penguatan mingguan terbesar dalam sekitar satu bulan karena prospek suku bunga yang lebih tinggi. Sebaliknya, yen Jepang tetap berada di dekat level terlemahnya dalam 40 tahun terhadap dolar AS.

Pasar keuangan global diperkirakan bergerak lebih dinamis pada pekan ini seiring padatnya agenda ekonomi dari Amerika Serikat, China, dan Eropa. Perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), data inflasi yang menjadi acuan utama The Federal Reserve (The Fed), hingga sinyal kebijakan ekonomi dari China.

1. Perkembangan Perang

Iran menyatakan siap menghentikan serangan jika Amerika Serikat juga menghentikan aksi militernya. Pernyataan itu muncul setelah Pentagon menghentikan sementara kampanye pengeboman selama dua hari terakhir usai 13 malam berturut-turut menyerang Iran.

Menurut Reuters, keputusan Presiden Donald Trump diambil setelah para penasihatnya memperingatkan bahwa sasaran serangan mulai habis dan stok amunisi AS berpotensi menipis. Meski demikian, Teheran menilai penghentian serangan itu hanya bersifat taktis dan belum mencerminkan perubahan sikap Washington dalam perundingan.

Sementara itu, pejabat militer AS tetap membuka kemungkinan melanjutkan operasi jika diperlukan, meski diingatkan bahwa langkah tersebut berisiko semakin menguras persediaan senjata AS. Warga Iran pun masih diliputi ketidakpastian dan meragukan jeda konflik akan berlangsung lama.

2. Durable Goods Orders Amerika Serikat

Pada awal pekan ini Senin (27/7/2026) dibuka dengan dua agenda penting dari dua ekonomi terbesar dunia, yakni data durable goods orders Amerika Serikat dan pertemuan Politburo China.

Dari Amerika Serikat, pasar akan mencermati pesanan barang tahan lama (durable goods orders) periode Juni. Pada Mei, indikator ini anjlok 4,5% secara bulanan, berbalik dari lonjakan 8,5% pada April. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak Juni 2025 dan terutama dipicu merosotnya permintaan pesawat komersial serta peralatan transportasi.

 

Meski demikian, komponen yang mencerminkan belanja modal dunia usaha masih menunjukkan ketahanan. Pesanan non-defense capital goods excluding aircraft, yang kerap dijadikan indikator investasi korporasi, justru tumbuh 1,6% setelah bulan sebelumnya terkontraksi. Kondisi ini menunjukkan perusahaan-perusahaan AS masih agresif melakukan ekspansi, terutama investasi yang berkaitan dengan pembangunan pusat data (data center) dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Untuk Juni, Trading Economics memperkirakan durable goods orders kembali tumbuh 1,8%. Jika realisasi sesuai atau bahkan lebih tinggi dari proyeksi, hal itu memperkuat pandangan bahwa aktivitas manufaktur AS tetap solid meski suku bunga masih berada di level tinggi.

3. Rapat Politbiro China

Rapat Politbiro Juli menjadi salah satu agenda yang paling dinanti pelaku pasar pekan ini. Pertemuan tahunan para petinggi Partai Komunis China yang dipimpin Presiden Xi Jinping tersebut diperkirakan berlangsung pada 28-31 Juli 2026.

Investor akan mencermati hasil rapat karena biasanya menjadi penentu arah kebijakan ekonomi China pada paruh kedua tahun ini. Setelah rapat berakhir, kantor berita Xinhua akan merilis ringkasan yang mencakup evaluasi kinerja ekonomi semester I, target dan prioritas kebijakan untuk semester II, sikap pemerintah terhadap stimulus ekonomi, sektor properti, konsumsi, investasi, hingga arah kebijakan fiskal dan moneter.

Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, kiri, dan anggota Politbiro Wang Yang terlihat saat mantan Presiden Hu Jintao, tengah, berbicara kepada mereka saat dia dibantu untuk pergi lebih awal dari sesi penutupan tanggal 20 Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok, di Aula Besar Rakyat pada 22 Oktober 2022 di Beijing, Tiongkok. (Getty Images/Kevin Frayer)Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, kiri, dan anggota Politbiro Wang Yang terlihat saat mantan Presiden Hu Jintao, tengah, berbicara kepada mereka saat dia dibantu untuk pergi lebih awal dari sesi penutupan tanggal 20 Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok, di Aula Besar Rakyat pada 22 Oktober 2022 di Beijing, Tiongkok. (Getty Images/Kevin Frayer) Foto: Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, kiri, dan anggota Politbiro Wang Yang terlihat saat mantan Presiden Hu Jintao, tengah, berbicara kepada mereka saat dia dibantu untuk pergi lebih awal dari sesi penutupan tanggal 20 Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok, di Aula Besar Rakyat pada 22 Oktober 2022 di Beijing, Tiongkok. (Getty Images/Kevin Frayer)

Bagi pasar global, hasil rapat Politbiro kerap menjadi petunjuk apakah Beijing akan menggelontorkan stimulus tambahan untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026. Sinyal stimulus yang lebih agresif berpotensi mengangkat sentimen pasar, terutama saham China dan harga komoditas

4. Rapat FOMC, Penentu Suku Bunga The Fed

Sementara pada Kamis dini hari (30/7/2926) akan ramai agenda dari negeri Paman Sam, bisa disebut salah satu agenda paling dinantikan ketika Federal Reserve mengumumkan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS kembali mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%. Fokus investor bukan lagi pada keputusan suku bunga, melainkan pesan yang akan disampaikan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers setelah rapat.

Sebelumnya, Warsh menegaskan bahwa bank sentral masih menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama. Ia menyebut inflasi yang tinggi selama lima tahun terakhir harus benar-benar dikembalikan menuju target, sembari menilai ekonomi Amerika masih berada dalam kondisi yang kuat.

Menurut Warsh, konsumsi rumah tangga tetap tumbuh moderat, sektor manufaktur terus berekspansi, sementara investasi dunia usaha menjadi motor utama pertumbuhan, terutama pembangunan pusat data dan tingginya permintaan perangkat keras maupun perangkat lunak berbasis AI. Di sisi ketenagakerjaan, penciptaan lapangan kerja dinilai masih mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja dengan tingkat pengangguran yang tetap rendah.

Nada pernyataan Warsh akan menjadi petunjuk penting apakah The Fed masih akan mempertahankan sikap ketat lebih lama atau mulai membuka ruang pelonggaran kebijakan pada sisa tahun ini.

5. Data PCE AS Juni 2026 dan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026


AS akan mengumumkan data inflasi pengeluaran pribadi warga AS atau Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE). Indikator inflasi ini merupakan favorit Federal Reserve (The Fed).

Sebagai catatan, inflasi PCE AS naik 0,4% secara bulanan pada Mei 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,5%. Sementara itu, core PCE yang tidak memasukkan harga pangan dan energi naik 0,3%, sesuai perkiraan.

Secara tahunan, inflasi PCE meningkat menjadi 4,1%, level tertinggi sejak April 2023, dari 3,8% pada bulan sebelumnya. Sementara core PCE naik menjadi 3,4%, tertinggi sejak Oktober 2023 dan masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Sejalan dengan itu, pada pertemuan Juni 2026, The Fed menaikkan proyeksi inflasi tahun ini menjadi 3,6% untuk PCE dan 3,3% untuk core PCE, menandakan tekanan inflasi diperkirakan masih bertahan.

Di hari yang sama, pemerintah AS juga merilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi kuartal II. Setelah ekonomi tumbuh 2,1% pada kuartal pertama, pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 2,2%.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat dan inflasi yang belum kembali ke target dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

6. Manufaktur NBS China

China akan merilis PMI Manufaktur resmi (NBS) pada Jumat (31/7/2026) untuk Juli 2026.

Sebagai catatan, aktivitas manufaktur China kembali menunjukkan ekspansi pada Juni 2026. Indeks PMI Manufaktur resmi (NBS) naik menjadi 50,3 dari 50,0 pada Mei, sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 50,1.

Ini menjadi bulan ketiga berturut-turut sektor manufaktur berada di zona ekspansi (di atas 50), didorong kuatnya ekspor produk manufaktur berteknologi tinggi yang terkait dengan booming kecerdasan buatan (AI), meski permintaan domestik dan ekspor barang non-teknologi masih lemah.

Produksi pabrik dan pesanan baru meningkat, termasuk pesanan ekspor yang kembali berekspansi. Aktivitas pembelian bahan baku juga kembali tumbuh, sementara waktu pengiriman pemasok membaik. Namun, lapangan kerja di sektor manufaktur masih tertekan.

Dari sisi harga, tekanan biaya input mulai mereda meski masih tinggi, sedangkan harga jual produk manufaktur turun untuk pertama kalinya dalam enam bulan. Optimisme pelaku usaha juga meningkat tipis.

7. Suku Bunga Jepang

Bank of Japan (BoJ) akan menggelar rapat penentuan suku bunga pada Jumat (24/7/2026). 

Bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga setelah menaikkan 25 basis poin pada Juni. Investor akan mencermati apakah BoJ mulai memberi sinyal pengetatan kebijakan lebih lanjut.

Sebagai catatan,  BoJ menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1% dalam rapat kebijakan Juni 2026. Keputusan yang diambil melalui voting 7 banding 1 itu sesuai ekspektasi pasar dan membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak September 1995.

BoJ menyatakan kenaikan suku bunga bertujuan mencegah lonjakan harga energi akibat perang Iran memicu inflasi yang lebih luas. Bank sentral juga menilai inflasi inti berpotensi melampaui target 2% seiring meningkatnya biaya energi.

Meski menaikkan suku bunga, BoJ menegaskan kondisi keuangan tetap akan akomodatif untuk menopang aktivitas ekonomi. Ke depan, bank sentral membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut jika didukung perkembangan ekonomi, inflasi, dan kondisi keuangan, sembari terus memantau dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Jepang.


8. Eropa

Pasar Eropa akan dipengaruhi keputusan bank sentral, data ekonomi, dan laporan keuangan perusahaan.

Sorotan utama adalah rapat Bank of England (BoE) pada Kamis. Suku bunga diperkirakan tetap di 3,75%, sementara pelaku pasar akan memperhatikan hasil pemungutan suara anggota dewan dan sinyal kebijakan untuk mengetahui waktu penurunan atau kenaikan suku bunga berikutnya.

Di kawasan euro, perhatian tertuju pada PDB kuartal II yang diperkirakan tumbuh 0,2%, ditopang oleh pertumbuhan Spanyol (0,6%), Prancis (0,2%), Jerman (0,1%), dan Italia (0,1%).

Negara-negara utama Eropa juga akan merilis data inflasi awal Juli dan tingkat pengangguran. Inflasi kawasan euro diperkirakan naik tipis menjadi 2,9%, sedangkan tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 6,2%.

Di Jerman, Indeks Ifo Business Climate diperkirakan membaik untuk bulan ketiga berturut-turut. Swiss juga akan merilis data barometer ekonomi dan penjualan ritel yang diperkirakan menunjukkan perlambatan pertumbuhan.


Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Anggota Dewan Gubernur (ADG) akan menyampaikan kebijakan kelembagaan
  • OMODA JAECOO menggelar Super AI Night di Spike Airdome C, PIK 2, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

  • Menteri Pertanian menggelar audiensi dengan universitas, PINSAR, dan PTNP di kantor Kementan, Jakarta Selatan.

  • Konferensi pers kepala Badan Gizi Nasional di kantor BGN, Jakarta Pusat.

  • Media Briefing BPKH terkait laporan keuangan tahun 2025 di kantor BPKH, lantai 19 Muamalat Tower, Jakarta Selatan.

  • Temu Media dengan tema Hari Hepatitis Sedunia yang ke-17 via zoom meeting.

  • Menteri Kesehatan menghadiri Leimena Conference 2026 di Gedung Widya Graha Badan Riset dan Inovasi Nasional, Jakarta Selatan. 

  • AS mengumumkan data durable goods untuk Juni



Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

RUPS PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk
RENCANA Rupo emisi Obligasi Berkelanjutan III Wijaya Karya Tahap I Tahun 2022
Tanggal akhir perdagangan hmetd PT Bakrie & Brothers Tbk
Tanggal akhir perdagangan hmetd PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features