MARKET DATA

Dolar Menggila di Asia: Rupiah Melemah, Yen Berdarah-darah, Won Pesta

mae,  CNBC Indonesia
25 July 2026 10:30
U.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak beragam di tengah lonjakan dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/7/2026).

Mata uang Garuda bahkan sempat mendekati level psikologis Rp18.000/US$ sebelum memangkas pelemahannya menjelang akhir perdagangan.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,28% ke posisi Rp17.935/US$. 

Secara mingguan, rupiah juga melemah sekitar 0,28% dari posisi penutupan Jumat pekan lalu di Rp17.885/US$.

Yen Ambruk, Won Terbang

Pelemahan juga dialami sejumlah mata uang Asia mulai dari yen hingga rupee. Yen ambruk 0,89% pekan ini. Pelemahan dipicu oleh kembali mengganasnya dolar AS. 

Indeks dolar berakhir di 100,468 atau posisi tertingginya sejak 24 Juni 2026.

Sebaliknya won melesat dengan menguat 1,89% pekan ini. Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah won sempat babak belur di awal bulan ini.

Yen ambruk 0,89% pada pekan lalu yang semakin memperpanjang tren negatifnya.
Yen Jepang mencatat pelemahan mingguan terbesar sejak Mei dan semakin mendekati level psikologis JPY165 per dolar AS.

Pelemahan ini memicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang akan kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Tekanan terhadap yen dipicu oleh kombinasi lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah, menguatnya dolar AS, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi AS naik dan membuat investor terus memburu aset berbasis dolar.

Pada perdagangan pekan ini, dolar sempat menyentuh JPY163,99, level terlemah mata uang Jepang sejak 1986.

Yen hanya berjarak tipis dari level 165 yang dipandang pasar sebagai batas penting sebelum pemerintah Jepang mengambil langkah lebih agresif.

Meski otoritas Jepang kembali memperingatkan siap mengambil tindakan tegas untuk menstabilkan yen, pelaku pasar menilai intervensi sepihak sulit membalikkan tren pelemahan tanpa dukungan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ) atau perubahan arah kebijakan moneter AS.

Analis menilai intervensi sepihak pemerintah Jepang akan sulit menghentikan pelemahan yen selama penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS masih menjadi faktor dominan.

 

Ekonom Senior Sompo Institute Plus, Masato Koike, bahkan memperingatkan pasar perlu bersiap menghadapi kemungkinan pemerintah tidak melakukan intervensi sehingga yen berpotensi terus melemah.

Di sisi lain, Departemen Keuangan AS (US Treasury) juga ikut menyoroti pelemahan yen. Dalam laporan semesterannya, Washington menilai volatilitas nilai tukar yang berlebihan tidak diinginkan dan mendorong Bank of Japan (BoJ) untuk terus menjaga stabilitas pasar.

Namun hingga kini, pelaku pasar masih meyakini peringatan dari Tokyo dan Washington belum akan diikuti langkah konkret.

Pelemahan yen juga meningkatkan tekanan inflasi di Jepang karena biaya impor energi dan bahan baku melonjak. Di sisi lain, kondisi ini memberi keuntungan bagi eksportir Jepang karena produk mereka menjadi lebih murah di pasar global.

Sementara itu, meski won sudah menguat tajam, Departemen Keuangan Amerika Serikat (US Treasury) kembali memasukkan Korea Selatan ke dalam daftar pemantauan mata uang (currency monitoring list).

Washington menilai nilai tukar won masih terus tertekan, meski Negeri Ginseng mencatat surplus transaksi berjalan yang besar dan memiliki fundamental ekonomi yang kuat.

Dalam laporan semesteran yang dirilis Kamis (waktu setempat), Korea Selatan kembali masuk daftar bersama China, Jepang, Taiwan, Singapura, Vietnam, Jerman, Irlandia, Swiss, dan Thailand. Daftar tersebut tidak berubah dibandingkan laporan Januari lalu.

Korea Selatan memenuhi dua dari tiga kriteria untuk masuk dalam daftar pemantauan, yakni mencatat surplus perdagangan dengan AS sebesar US$45 miliar serta surplus transaksi berjalan mencapai 6,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, Seoul tidak memenuhi kriteria ketiga karena tidak melakukan intervensi satu arah secara berkelanjutan di pasar valuta asing. Sepanjang periode laporan, otoritas Korea justru menjual dolar AS senilai sekitar 1,5% dari PDB.

Ini menjadi empat kali berturut-turut Korea Selatan masuk dalam daftar pemantauan sejak laporan yang mencakup paruh kedua 2024.

US Treasury menyebut lonjakan surplus transaksi berjalan Korea Selatan terutama didorong oleh kuatnya ekspor semikonduktor dan produk teknologi. Namun, menurut Washington, pelemahan won tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Korea yang solid.

 

"Terlepas dari besarnya surplus eksternal tersebut, won Korea tetap berada di bawah tekanan depresiasi yang berkelanjutan," tulis US Treasury dalam laporannya.

Laporan itu juga menyebut derasnya arus investasi luar negeri oleh rumah tangga, lembaga keuangan, serta National Pension Service (NPS) menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar won sepanjang tahun lalu.

Di sisi lain, US Treasury memberikan apresiasi terhadap langkah Seoul yang mulai melonggarkan akses investor asing ke pasar valuta asing domestik. Kebijakan tersebut dinilai akan meningkatkan likuiditas sekaligus memperbaiki mekanisme pembentukan harga (price discovery) di pasar keuangan Korea Selatan dalam jangka menengah.

Analis Daishin Securities, Lee Jung-hoon, mengatakan laporan tersebut kini lebih bersifat rutin dan tidak lagi memiliki implikasi kebijakan yang besar.

"Laporan ini dulu sempat menjadi perhatian pada awal masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Namun karena tidak menghasilkan langkah konkret, dampaknya terhadap pasar diperkirakan sangat terbatas," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan analis NH Investment & Securities, Kwon A-min. Menurutnya, laporan valuta asing US Treasury kini semakin bersifat formal dan telah kehilangan nuansa politik yang sebelumnya cukup kuat.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular