Bukan Asal Nge-Bom! Ini Alasan Amerika Serang Pelabuhan-Jembatan Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengancam akan memperluas serangan terhadap Iran hingga menyasar infrastruktur penting Iran.
Trump mengatakan setiap serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan penghancuran satu jembatan atau pembangkit listrik. Ancaman tersebut juga berlaku bagi fasilitas yang berada di sekitar Teheran.
"Setiap kali Republik Islam Iran menembaki sebuah kapal di Selat Hormuz, Amerika Serikat akan mengebom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik," tulis Trump melalui Truth Social, dilansir Reuters, Rabu (22/7/2026).
Ancaman Trump muncul ketika sasaran serangan AS mulai meluas. Bukan hanya pusat komando, rudal, drone, dan pertahanan udara, Washington juga menghantam jembatan, jalur kereta api, bandara, jaringan komunikasi, serta fasilitas air.
Kondisi jembatan yang rusak akibat serangan AS, di Bandar Khamir, provinsi Hormozgan, Iran, Jumat (17/7/2026). (Social Media/via REUTERS) Foto: Social Media via REUTERS/Social Media |
Sebagian besar serangan tersebut mengarah ke wilayah selatan Iran, terutama Provinsi Hormozgan dan kawasan di sekitar Selat Hormuz.
Fokus ke selatan bukan dipilih tanpa alasan. Daerah Iran bagian Selatan menjadi titik pertemuan antara kekuatan militer, jalur perdagangan, ekspor minyak, dan kemampuan Iran untuk mengganggu pelayaran di Selat Hormuz.
Selatan Iran bukan sekadar kawasan pesisir. Wilayah inilah yang memberi Teheran daya tawar terbesar dalam menghadapi AS dan negara-negara Teluk.
Selatan Iran Jadi Pusat Daya Tawar Teheran
Secara geografis, bagian selatan Iran membentang di sepanjang Teluk Persia hingga Teluk Oman. Di antara kedua perairan tersebut terdapat Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi pintu keluar-masuk kapal dari negara-negara produsen energi di kawasan Teluk.
Iran menguasai seluruh sisi utara selat tersebut. Posisi ini memungkinkan Teheran mengawasi kapal yang bergerak dari Teluk Persia menuju Laut Arab dan Samudra Hindia.
Kekuatan Iran di kawasan tersebut berpusat di Bandar Abbas, ibu kota Provinsi Hormozgan yang menghadap langsung ke Hormuz.
Bandar Abbas menjadi pangkalan bagi Angkatan Laut reguler Iran sekaligus armada laut Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Kedua kekuatan tersebut menjadi tulang punggung operasi maritim Iran.
Dari Bandar Abbas dan kawasan pesisir di sekitarnya, Iran dapat mengerahkan kapal perang, kapal cepat bersenjata, rudal antikapal, drone, radar, serta perangkat pengawasan laut.
Pulau Qeshm dan sejumlah pulau lain di sekitar Hormuz juga memberikan Iran posisi untuk mengawasi jalur pelayaran dari jarak dekat. Karena itu, serangan AS berulang kali menyasar Bandar Abbas, Qeshm, Sirik, Jask, dan Bandar-e Lengeh.
Washington ingin mengurangi kemampuan Iran mendeteksi kapal, meluncurkan serangan dari pesisir, serta mempertahankan operasinya di sekitar selat.
Selama kekuatan tersebut masih berfungsi, Iran tetap dapat mengganggu kapal komersial dan menaikkan risiko pelayaran di Hormuz meski kemampuan militernya di wilayah lain telah melemah.
Nilai penting selatan Iran tidak berhenti pada kekuatan laut.
Bandar Abbas juga menjadi salah satu pintu utama perdagangan negara tersebut. Pelabuhan di kawasan ini menghubungkan Iran dengan jalur perdagangan internasional sekaligus menjadi tempat masuknya berbagai barang menuju wilayah pedalaman.
Selat Hormuz juga menjadi jalur utama ekspor energi Iran. Lebih dari 90% ekspor minyak mentah negara tersebut sebelumnya melewati perairan ini, dilansir Al Jazeera.
Kondisi tersebut membuat selatan Iran memiliki dua fungsi sekaligus. Kawasan ini menopang kemampuan Teheran menekan pelayaran dunia dan menjadi jalur penting untuk menjaga pemasukan negara.
Jika pangkalan laut rusak, kemampuan Iran mengganggu kapal akan berkurang. Jika pelabuhan dan jalur transportasinya terputus, perdagangan serta pengiriman barang juga akan terganggu.
AS akhirnya dapat menekan kekuatan militer dan ekonomi Iran melalui wilayah yang sama.
Jembatan Menjadi Urat Nadi Pasokan
Serangan AS terhadap banyak jembatan juga berkaitan dengan posisi selatan sebagai pusat operasi Iran.
Bandar Abbas dan kota-kota pesisir tidak dapat mempertahankan operasi militer hanya dengan perlengkapan yang tersedia di kawasan tersebut. Pasukan, rudal, drone, amunisi, bahan bakar, dan suku cadang tetap harus dikirim dari wilayah tengah Iran.
Pengiriman itu bergantung pada jalan raya, jembatan, rel kereta api, dan bandara yang menghubungkan pedalaman dengan pesisir.
Karena itu, AS tidak harus menghancurkan seluruh pangkalan Iran untuk melemahkan operasi di Hormuz. Memutus jalur menuju pangkalan juga dapat menghambat kemampuan Teheran mempertahankan kekuatannya.
Sedikitnya enam jembatan di Provinsi Hormozgan telah terkena serangan. Jembatan tersebut berada di jalur Bandar Abbas-Khamir-Lar, Kahurestan-Lar, Bandar Khamir-Keshar-Bandar Abbas, serta wilayah Latidan dan Maroo.
Jalur-jalur tersebut menghubungkan Bandar Abbas dengan kota di sekitarnya dan kemudian tersambung menuju wilayah tengah Iran.
Mark Hilborne, pengajar senior di School of Security Studies King's College London, mengatakan jembatan menjadi sasaran karena memiliki peran penting dalam logistik militer Iran.
"Jembatan sangat penting bagi logistik dan operasi militer. Menyerangnya akan melemahkan kemampuan Iran mengganggu pelayaran di selat dan mempertahankan operasinya," ujar Hilborne, dikutip dari Al Jazeera.
Kerusakan jembatan tidak serta-merta menghentikan seluruh pergerakan Iran. Namun, pasukan dan perlengkapan harus dialihkan ke jalur lain yang lebih jauh, sempit, atau memiliki kapasitas lebih kecil.
Proses pengiriman akan menjadi lebih lambat dan mahal. Kemampuan Iran mengganti senjata yang rusak atau memasok ulang pasukan di pesisir juga ikut melemah.
Pola serangan tersebut terlihat dari lokasi yang dihantam sepanjang pesisir selatan Iran.
Ledakan dilaporkan terjadi di Bandar Abbas, Ahvaz, Qeshm, Bushehr, Dashti, Bostan, Sirik, dan Bandar-e Lengeh.
Bandar Abbas menjadi salah satu wilayah yang mengalami serangan paling berat. Jembatan Kahurestan, kawasan permukiman, fasilitas kereta api, dan menara komunikasi dilaporkan terkena serangan.
Citra satelit menunjukkan pelabuhan Bandar Abbas dan sebuah kapal yang terkena serangan di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Bandar Abbas, Provinsi Hormozgan, Iran, 2 Maret 2026. 2026 Planet Labs PBC/Handout via REUTERS. Foto: via REUTERS/2026 Planet Labs PBC |
Media Iran menyebut dua orang tewas dan delapan lainnya terluka. Serangan terhadap menara komunikasi juga menyebabkan pemadaman listrik di kawasan sekitar.
Bandara Iranshahr di wilayah tenggara turut mengalami kerusakan dan pemadaman listrik. Di wilayah lain, fasilitas air minum dalam kemasan di Dehloran serta kawasan fasilitas air berat Khondab ikut menjadi sasaran.
Fasilitas kesehatan juga terkena dampaknya. Lebih dari 200 pasien harus dievakuasi dari Rumah Sakit Khusus Baghaei setelah serangan di Ahvaz membuat rumah sakit tersebut tidak dapat beroperasi.
Pemilihan sasaran tersebut memperlihatkan bahwa AS sedang menyerang tiga lapisan sekaligus.
1. Kemampuan tempur Iran seperti pusat komando, pertahanan udara, rudal, drone, radar, dan kekuatan maritim.
2. Jaringan pendukungnya seperti jembatan, rel kereta, bandara, komunikasi, dan listrik.
3. Kegiatan ekonomi yang menopang Iran melalui pelabuhan, perdagangan minyak, dan jalur pengiriman barang.
Memperkuat Blokade terhadap Iran
Serangan dari udara juga berjalan beriringan dengan blokade laut yang kembali diberlakukan AS.
Washington membatasi kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran. Pada saat yang sama, serangan udara menghambat jalur yang membawa barang dan perlengkapan menuju pesisir.
Pelabuhan Iran pun ditekan dari dua arah. Kapal menghadapi hambatan untuk masuk melalui laut, sedangkan barang dan perlengkapan dari pedalaman kesulitan mencapai pelabuhan.
Salah satu jembatan yang diserang di wilayah timur laut Iran juga menjadi bagian dari koridor perdagangan yang terhubung dengan Belt and Road Initiative milik China.
Jalur tersebut membantu Iran mempertahankan perdagangan minyak di tengah sanksi. Koridor yang sama juga diduga digunakan untuk membawa komponen penting bagi program persenjataan Iran.
Hilborne menilai serangan AS terutama diarahkan untuk memperketat blokade laut, melemahkan logistik militer, dan meningkatkan tekanan agar Iran menerima kesepakatan.
Selatan Iran dipilih karena tekanan terhadap kawasan ini dapat langsung mengganggu sumber kekuatan militer sekaligus aliran perdagangan Teheran.
Meluasnya serangan menuju jembatan, bandara, fasilitas air, tempat penyimpanan pangan, dan jaringan listrik memunculkan dugaan bahwa AS sedang membuka jalan bagi operasi darat.
Alex Alfirraz Scheers, analis militer berbasis di London, menilai perluasan sasaran dapat menjadi tahap awal persiapan operasi terbatas untuk merebut titik strategis di pesisir Iran.
Jalan, bandara, pelabuhan, jaringan komunikasi, serta pasokan air dan listrik memang menjadi fasilitas penting apabila pasukan hendak memasuki dan menguasai suatu wilayah.
Namun, operasi darat belum menjadi skenario yang paling mungkin.
Simon Mabon, profesor hubungan internasional Lancaster University, menilai invasi darat akan sangat berisiko dan dapat menyeret AS ke dalam perang yang jauh lebih luas.
Menurut Mabon, serangan saat ini lebih mungkin digunakan untuk menaikkan tekanan terhadap Teheran dan memaksanya kembali ke meja perundingan.
Serangan terhadap fasilitas sipil juga belum tentu membuat masyarakat Iran berbalik melawan pemerintah. Langkah tersebut justru dapat memperkuat narasi Teheran bahwa Washington sengaja menambah penderitaan warga Iran.
Selatan Iran akhirnya menjadi sasaran karena kawasan tersebut merupakan pusat kekuatan paling lengkap yang dimiliki Teheran. Di sana terdapat pangkalan laut, radar pesisir, jalur pasokan, pelabuhan perdagangan, serta akses menuju Selat Hormuz.
Jika wilayah selatan melemah, Iran akan lebih sulit mempertahankan operasi di Hormuz, mengirim pasokan menuju pesisir, dan menjaga perdagangan tetap berjalan. Inilah alasan serangan AS terus mengarah ke kawasan tersebut.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google

