MARKET DATA

China Satu-Satunya Negara di Dunia Punya Sarjana Logam Tanah Jarang

mae,  CNBC Indonesia
22 July 2026 17:05
ebuah monumen berbentuk struktur molekul bergaya berdiri di depan gedung kantor China Northern Rare Earth Group di Baotou, pusat industri logam tanah jarang China. Pada bagian dasar monumen tertera tulisan dalam bahasa Mandarin yang berarti "Membangu
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - China tidak hanya menguasai tambang dan pabrik pemurnian logam tanah jarang (rare earth), tetapi juga menyiapkan sumber daya manusianya sejak di bangku kuliah.

Setiap tahun, ratusan mahasiswa menempuh pendidikan khusus rare earth di Inner Mongolia University of Science and Technology di Baotou. Mereka langsung diserap industri pemurnian milik negara yang memproduksi magnet untuk mesin jet, kendaraan listrik (EV), hingga turbin angin.

Sebagian lainnya melanjutkan riset di Baotou Rare Earth Research Institute, yang hanya berjarak sekitar 150 kilometer dari tambang rare earth terbesar di dunia.

Strategi ini menjadi salah satu senjata utama Beijing dalam mempertahankan dominasinya di rantai pasok global.

Di saat Amerika Serikat dan negara-negara Barat menggelontorkan miliaran dolar untuk mengejar ketertinggalan di sektor rare earth, China telah lebih dulu membangun ekosistem yang terintegrasi, mulai dari kampus, laboratorium, hingga kawasan industri.

Universitas Sains dan Teknologi Mongolia Dalam di Baotou, kota pusat industri logam tanah jarang di China, Mongolia Dalam, China, 6 April 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov)Universitas Sains dan Teknologi Mongolia Dalam di Baotou, kota pusat industri logam tanah jarang di China, Mongolia Dalam, China, 6 April 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov) Foto: (REUTERS/Maxim Shemetov)

Investigasi Reuters mencatat China memiliki lebih dari 40 laboratorium khusus rare earth serta sedikitnya 11 universitas dan politeknik yang setiap tahun menerima lebih dari 500 mahasiswa di program studi logam tanah jarang.

Hingga kini tidak ada satu pun universitas di luar China yang menawarkan program sarjana khusus logam tanah jarang.

Mantan CEO Neo Performance Materials, Constantine Karayannopoulos, mengaku lulusan universitas di China bisa langsung bekerja tanpa pelatihan panjang, berbeda dengan lulusan dari negara lain yang umumnya masih membutuhkan pembinaan selama bertahun-tahun.

"Di China, saya bisa merekrut lulusan baru dan mereka langsung produktif. Di negara lain, saya harus melatih mereka selama tiga tahun," ujarnya kepada Reuters.

Belajar Metalurgi Ratusan Jam

Di Inner Mongolia University of Science and Technology, mahasiswa jurusan teknik logam tanah jarang mendapat lebih dari 100 jam perkuliahan khusus, mulai dari kimia rare earth hingga ilmu material.

Perkuliahan juga terintegrasi dengan laboratorium dan perusahaan.

Sebagian besar laboratorium dibangun di dekat tambang utama seperti Bayan Obo, Maoniuping, dan Longnan, sehingga riset dapat langsung diterapkan ke proses produksi.

Lokasi institut loga tanah jarang di ChinaLokasi institut loga tanah jarang di China Foto: Reuters

Pola serupa diterapkan Jiangxi University of Science and Technology (JXUST) yang membuka program sarjana khusus logam tanah jarang.

Sebanyak 70 mahasiswa angkatan pertama akan mempelajari seluruh rantai industri, mulai dari pengolahan bijih, metalurgi, hingga pembuatan magnet, serta diwajibkan mengerjakan proyek riset bersama perusahaan sebelum lulus.

Model pendidikan tersebut dinilai menjadi salah satu kunci dominasi China.

Universitas Sains dan Teknologi Mongolia Dalam di Baotou, kota pusat industri logam tanah jarang di China, Mongolia Dalam, China, 6 April 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov)Universitas Sains dan Teknologi Mongolia Dalam di Baotou, kota pusat industri logam tanah jarang di China, Mongolia Dalam, China, 6 April 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov) Foto: (REUTERS/Maxim Shemetov)

 

Pakar logam tanah jarang dari Durham University, David Parker, menyebut kurikulum JXUST sangat terspesialisasi dan mencerminkan posisi China sebagai pemimpin global dalam ilmu dan rekayasa logam tanah jarang.

Dengan sistem itu, industri selalu mendapat pasokan lulusan yang siap bekerja tanpa memerlukan pelatihan panjang.

Hal senada disampaikan fisikawan Portugal Luís Carlos, yang telah hampir dua dekade meneliti lembaga riset di China.

Menurutnya, mahasiswa pascasarjana di China memang memiliki spesialisasi yang sangat sempit. Namun, pendekatan itu justru membuat keseluruhan ekosistem riset dan industri bekerja jauh lebih efisien.

Pendidikan Menjadi Senjata

China secara terbuka menyebut pendidikan sebagai bagian dari strategi geopolitik.

Dekan Program Rare Earth JXUST, Li Chaozhong, mengatakan logam tanah jarang merupakan "kartu tawar utama" dalam politik global. Karena itu, program studi tersebut dirancang bukan hanya untuk menghasilkan ilmuwan, tetapi juga menjaga posisi China sebagai pemimpin dunia di industri logam tanah jarang.

Yang menarik, kurikulum di sejumlah universitas China dirancang mengikuti kebutuhan industri.

Mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik pengolahan logam tanah jarang, tetapi juga memahami nilai strategis dan geopolitik komoditas tersebut.

Dalam salah satu mata kuliah di Jiangxi University of Science and Technology, misalnya, mahasiswa diajarkan bagaimana logam tanah jarang asal China menjadi komponen penting dalam berbagai sistem persenjataan Amerika Serikat, termasuk rudal dan peralatan Angkatan Laut AS.

Sementara itu, Amerika Serikat masih berupaya mengejar ketertinggalan.

Valor Metals mengembangkan teknologi baru yang diklaim mampu memproses logam tanah jarang hingga 10 kali lebih cepat dan lebih murah dibandingkan teknologi China, meski belum diuji dalam skala komersial. Di sisi lain, Colorado School of Mines bersama Departemen Energi AS tengah membangun dua pusat riset mineral kritis yang dijadwalkan beroperasi mulai 2027.

Logam tanah jarangLogam tanah jarang Foto: Reuters

 

Meski investasi mulai digelontorkan, tantangan terbesar AS tetap pada ketersediaan tenaga ahli.

CEO Valor Metals Kunal Sinha menilai industri mineral Amerika harus mampu menarik lebih banyak talenta muda jika ingin menyaingi dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Pengembangan Logam Tanah Jarang dari Hulu ke Hilir

Mengolah logam tanah jarang (rare earth) bukan perkara mudah. Misalnya, untuk menghasilkan neodymium dan praseodymium yang dibutuhkan industri kendaraan listrik, pabrik harus lebih dulu memisahkan unsur lanthanum dan cerium yang jumlahnya jauh lebih melimpah di alam.

Proses tersebut sangat kompleks karena melibatkan kombinasi berbagai asam, basa, dan bahan kimia, sehingga membutuhkan teknologi tinggi serta keahlian khusus.

 

Kompleksitas itu juga membuat industri ini sarat risiko lingkungan. Limbah hasil pemurnian berpotensi mencemari tanah dan air apabila tidak dikelola dengan baik, sementara paparan terhadap beberapa jenis logam tanah jarang dapat membahayakan sistem pernapasan dan saraf.

Bahkan, para peneliti di China menemukan pencemaran air tanah di sekitar lokasi penyimpanan limbah di Baotou, dan pemerintah China sendiri mengakui aktivitas pemurnian rare earth telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius.

Meski demikian, Beijing tetap berhasil membangun dominasi global. Sejak dekade 1980-an dan 1990-an, pemerintah China menggelontorkan berbagai insentif pajak, memanfaatkan tenaga kerja berbiaya rendah, serta terus mendanai lembaga riset.

Bank-bank milik negara juga menyediakan pembiayaan murah bagi perusahaan yang bergerak di sektor mineral kritis, mempercepat ekspansi industri dari hulu hingga hilir.

Keunggulan China juga ditopang oleh integrasi antara tambang, pusat riset, dan fasilitas pengolahan.

Tambang Bayan Obo, tambang logam tanah jarang terbesar di dunia, hanya berjarak sekitar 150 kilometer dari pusat penelitian dan pemurnian di Baotou, Mongolia Dalam.

Kedekatan tersebut mempercepat transfer teknologi, pengembangan tenaga ahli, hingga komersialisasi inovasi, memperkokoh posisi China sebagai penguasa rantai pasok logam tanah jarang dunia.

Keunggulan itu kini dijaga ketat oleh Beijing. Pemerintah China terus memperketat pembatasan ekspor teknologi dan peralatan pemrosesan rare earth, sekaligus membatasi akses orang asing terhadap industri tersebut.

Mengejar China dalam teknologi logam tanah jarang bukan perkara mudah. Industri rare earth membutuhkan keahlian yang sangat spesifik karena proses pemurniannya sangat rumit.

Kilang harus memisahkan 17 unsur logam tanah jarang yang memiliki karakteristik kimia hampir identik, menjadikan proses pengolahan jauh lebih kompleks dan mahal dibandingkan mineral lainnya. Inilah yang membuat dominasi China di rantai pasok logam tanah jarang masih sulit digoyang.

Industri pemrosesan rare earth di negara-negara Barat praktis lenyap pada dekade 1990-an. Dampaknya, universitas di Barat berhenti mencetak tenaga ahli yang dibutuhkan industri, sehingga rantai pasok keahlian ikut terputus.

Sebaliknya, China terus memperkuat sinergi antara kampus, lembaga riset, dan industri. Salah satu hasilnya adalah teknologi pemurnian yang dikembangkan National Engineering Research Center for Rare Earths di Beijing dan mulai digunakan perusahaan pelat merah Gansu Rare Earth New Materials pada 2023.

Universitas Sains dan Teknologi Mongolia Dalam di Baotou, kota pusat industri logam tanah jarang di China, Mongolia Dalam, China, 6 April 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov)Universitas Sains dan Teknologi Mongolia Dalam di Baotou, kota pusat industri logam tanah jarang di China, Mongolia Dalam, China, 6 April 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov) Foto: (REUTERS/Maxim Shemetov)

 

Fasilitas tersebut mampu memproduksi hingga 50.000 metrik ton logam tanah jarang olahan per tahun, sekitar lima kali lebih besar dibandingkan produksi Lynas Rare Earths, produsen terbesar di luar China.

Dengan kekuatan China saat ini, negara lain sepertinya akan butuh waktu bertahun-tahun untuk menyamai Beijing.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular