MARKET DATA

Sejarah Bicara: AS Tak Berjaya di Perang Darat, Trump Mau Mengulangi?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
01 April 2026 19:20
Tentara AS menyeberangi jembatan apung di Sungai Imjin selama latihan penyeberangan sungai gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat sebagai bagian dari latihan militer Freedom Shield di Yeoncheon, Korea Selatan, Kamis, 20 Maret 2025. (AP Photo/Ahn Young-joon)
Foto: Tentara AS menyeberangi jembatan apung di Sungai Imjin selama latihan penyeberangan sungai gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat sebagai bagian dari latihan militer Freedom Shield di Yeoncheon, Korea Selatan, Kamis, 20 Maret 2025. (AP/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia- Amerika Serikat (AS) kembali berada di tepi keputusan militer besar. Di tengah terbatasnya opsi untuk membuka kembali Selat Hormuz, Presiden Donald Trump mengirim ribuan pasukan ke kawasan Teluk dan mulai membicarakan kemungkinan invasi ke wilayah strategis Iran. Sejarah mencatat, langkah seperti ini sering berujung panjang.

Melansir dari The Economist, perang darat di Asia selama beberapa dekade terakhir menjadi pengalaman yang mahal bagi Amerika Serikat. Konflik di Vietnam, Iraq, dan Afghanistan berlangsung jauh lebih lama dari perencanaan awal dan menguras sumber daya dalam skala besar.

Kini, pola serupa berpotensi muncul kembali di Iran.

Fokus operasi mengarah ke Kharg Island, titik vital yang menampung sekitar 90% ekspor minyak Iran. Secara militer, pulau ini dapat direbut oleh marinir dan pasukan lintas udara dalam waktu relatif singkat. Namun keberhasilan awal membuka fase baru yang lebih kompleks.

Penghentian ekspor minyak Iran dari Kharg akan langsung memengaruhi pasar energi global. Produksi Iran saat ini berada di kisaran 2,4 juta hingga 2,8 juta barel per hari. Gangguan pada volume tersebut berpotensi mendorong harga energi naik dan menekan ekonomi global.

Operasi tidak berhenti di satu titik. Untuk menutup jalur ekspor sepenuhnya, Amerika Serikat harus memperluas kendali ke terminal lain seperti Jask, Lavan, dan Sirri. Setiap tambahan wilayah meningkatkan kebutuhan logistik, perlindungan, dan durasi operasi.

Pasukan yang ditempatkan di Kharg berada dalam jangkauan langsung sistem militer Iran. Jalur suplai udara dan laut terbuka terhadap serangan. Dalam beberapa pekan terakhir, sebagian serangan Iran berhasil menembus pertahanan, termasuk menghancurkan pesawat radar udara E-3 Sentry milik Amerika di Arab Saudi. Intensitas serangan drone dan rudal diperkirakan meningkat jika pendudukan berlangsung.

Pilihan lain yang dibahas mencakup penguasaan pulau kecil seperti Abu Musa serta Greater dan Lesser Tunb, hingga serangan terbatas ke daratan Iran. Operasi semacam ini tetap membutuhkan kehadiran jangka panjang agar berdampak signifikan. Kebutuhan pasukan dan perlindungan tetap tinggi.

Dimensi politik menjadi variabel penting. Pemerintah Iran memiliki toleransi tekanan yang lebih besar. Pendapatan minyak menjadi sumber utama, namun struktur kekuasaan yang represif membuat risiko gejolak domestik dapat dikelola dalam jangka waktu lama. Sebaliknya, pemerintah Amerika menghadapi tekanan elektoral dengan pemilu paruh waktu dalam delapan bulan.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan pola serangan tidak langsung. Islamic Revolutionary Guard Corps pernah menggunakan bom pinggir jalan untuk menyerang pasukan Amerika di Irak. Taktik serupa berpotensi digunakan kembali dalam skala lebih luas.

Skenario lain yang muncul adalah operasi untuk merebut sekitar 400 kg uranium yang telah diperkaya. Target utama berada di Isfahan, dengan lokasi tambahan di Natanz dan Fordow. Ketiga fasilitas ini memiliki perlindungan bawah tanah. Operasi simultan di beberapa lokasi membutuhkan koordinasi dan kapasitas militer dalam skala sangat besar.

Tekanan juga terlihat pada kesiapan militer Amerika secara keseluruhan. Lebih dari 850 rudal Tomahawk telah digunakan, jumlah yang melampaui penggunaan saat invasi Irak tahun 2003 dan setara dengan sekitar sepertiga stok global yang tersedia. Armada laut menghadapi tekanan operasional tinggi yang berpotensi memperburuk masalah pemeliharaan.

Dampaknya meluas ke kawasan lain. Perencana militer Amerika dan sekutu di Pasifik mulai memperhitungkan risiko berkurangnya kesiapan menghadapi potensi konflik di wilayah tersebut

Geografi Iran: Hambatan Nyata di Darat

Faktor yang kerap luput dalam perhitungan operasi militer adalah geografi Iran itu sendiri. Negara ini berdiri di atas dataran tinggi luas yang dikenal sebagai Iranian Plateau, dengan lanskap keras yang didominasi pegunungan seperti Pegunungan Zagros di barat dan Pegunungan Elburz di utara.

Banyak puncak berada di kisaran 3.000 hingga 4.000 meter, dengan jalur masuk terbatas dan lembah sempit yang memperlambat pergerakan pasukan skala besar.

Struktur alam ini membentuk hambatan langsung terhadap operasi darat konvensional. Pergerakan tank, logistik, dan suplai menjadi lebih lambat dan mudah terdeteksi.

Di sisi lain, wilayah tengah Iran diisi gurun luas seperti Dasht-e Kavir dan Dasht-e Lut dengan suhu ekstrem, badai pasir, serta keterbatasan air. Jalur pergerakan pasukan menjadi semakin sempit dan membuka ruang penyergapan, terutama terhadap rantai suplai yang panjang.

Dasht-e Lut.Foto: Pexels
Dasht-e Lut.

Kondisi ini memperbesar beban operasi yang sebelumnya sudah kompleks di titik seperti Kharg Island. Setiap perluasan operasi ke daratan akan berhadapan langsung dengan medan yang memperlambat tempo perang dan meningkatkan eksposur pasukan. Dalam situasi seperti ini, durasi konflik cenderung melebar, kebutuhan logistik meningkat, dan biaya militer bertambah seiring waktu.

Situasi ini menempatkan Amerika Serikat pada titik krusial. Operasi militer dengan target terbatas dapat berkembang menjadi keterlibatan jangka panjang dengan biaya tinggi dan hasil yang tidak pasti.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google



Most Popular