4 Bulan Berkuasa, ke Mana Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei?
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Lebih dari empat bulan setelah ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei masih belum juga muncul di depan publik.
Ketidakhadirannya bahkan terasa mencolok pada momen yang paling simbolis: pemakaman ayahnya sendiri, Ayatollah Ali Khamenei, yang digelar Kamis (9/7) di Mashhad. Di tengah prosesi yang dihadiri tokoh-tokoh utama Republik Islam Iran, tidak ada kemunculan Mojtaba, baik secara langsung maupun melalui rekaman video.
Bahkan, tidak ada foto baru, pidato, ataupun pesan tertulis yang dirilis untuk menandai pemakaman pemimpin yang telah memimpin Iran selama 37 tahun itu.
Padahal, sejak Majelis Ulama menunjuknya sebagai pemimpin baru pada 8 Maret, seluruh keputusan tertinggi negara secara formal berada di tangannya.
Di Balik Ketidakhadiran
Tidak ada penjelasan resmi mengenai alasan Mojtaba belum tampil di depan publik.
Namun sejumlah sumber senior di Iran yang dikutip Reuters menyebut dua faktor menjadi pertimbangan utama: kondisi kesehatan dan keamanan.
Menurut sumber tersebut, Mojtaba mengalami cedera, termasuk luka di bagian wajah, dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari yang menewaskan ayahnya. Cedera itu disebut masih dalam tahap pemulihan.
Mourners gather on the day of a funeral procession for Iran's late Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei, who was killed on February 28 in Israeli and U.S. airstrikes, in Tehran, Iran, July 6, 2026. REUTERS/Murad Sezer
 Foreign media in Iran operate under guidelines set by the Ministry of Culture and Islamic Guidance, which regulates press activity and permissions ISRAEL OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN ISRAEL. NO ACCESS FOR ISRAELI MEDIA. NO USE BBC PERSIAN. NO USE VOA PERSIAN. NO USE MANOTO. NO USE IRAN INTERNATIONAL. NO USE RADIO FARDA. DIGITAL: NO USE BBC PERSIAN. NO USE VOA PERSIAN. NO USE MANOTO. NO USE IRAN INTERNATIONAL. NO USE RADIO FARDA. Foto: REUTERS/Murad Sezer |
Â
Presiden Masoud Pezeshkian terakhir kali memberi perkembangan mengenai kondisinya pada Mei. Saat itu, ia mengatakan telah bertemu dengan Mojtaba dan menyebut kesehatannya terus membaik.
Di sisi lain, faktor keamanan juga dinilai tidak kalah penting. Serangan yang menewaskan Ali Khamenei pada hari pertama perang menunjukkan bahwa posisi pemimpin tertinggi Iran kini menjadi sasaran yang sangat berisiko.
Lebih dari Sekadar Kehadiran
Meski demikian, tidak semua warga Iran melihat ketidakhadiran itu sebagai sesuatu yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
"Saya memahami bahwa dari sisi keamanan dia memang tidak seharusnya tampil di depan publik. Tetapi negara sedang melalui masa yang sangat sulit. Ada kebutuhan agar Pemimpin Tertinggi terlihat. Meski terluka, masyarakat perlu melihat bahwa ada seseorang yang memimpin negara" kata Taghi, pemilik toko di Isfahan,
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menghadiri pertemuan di Teheran, Iran, 18 Juli 2016. (Amir Kholousi/ISNA/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/File Foto) Foto: Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menghadiri pertemuan di Teheran, Iran, 18 Juli 2016. (via REUTERS/Amir Kholousi) |
Komentar itu mencerminkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar absennya satu orang dari sebuah upacara pemakaman.
Iran masih menghadapi dampak perang dengan Amerika Serikat dan Israel, ekonomi yang tertekan oleh sanksi, serta ketidakpastian politik setelah pergantian kepemimpinan yang berlangsung mendadak. Dalam situasi seperti itu, kehadiran seorang pemimpin tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi simbol bahwa pemerintahan tetap berjalan.
Otoritas Tidak Terbangun dalam Semalam
Bagi Iran, pergantian pemimpin tertinggi bukan sekadar pergantian jabatan. Yang dipertaruhkan adalah otoritas.
Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin pertama Republik Islam setelah Revolusi 1979, memiliki kharisma sebagai tokoh revolusi sekaligus ulama paling berpengaruh di negaranya. Posisinya nyaris tidak pernah dipersoalkan.
Penggantinya, Ali Khamenei, memulai dari titik yang berbeda. Saat ditunjuk pada 1989, ia memang pernah menjadi presiden, tetapi tidak dikenal sebagai ulama dengan otoritas keagamaan setara Khomeini.
Namun, selama 37 tahun memimpin, Ali Khamenei perlahan mengonsolidasikan kekuasaan. Dengan dukungan Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), ia menyingkirkan para pesaing politik dan memperluas pengaruh kantor Pemimpin Tertinggi hingga hampir ke seluruh aspek kehidupan politik Iran.
Â
Mojtaba Khamenei menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Ia juga tidak memiliki reputasi sebagai ulama senior dan, sebelum diangkat menjadi pemimpin, lebih dikenal mengelola jaringan kantor ayahnya dibanding tampil sebagai figur politik di ruang publik.
Perbedaannya, Ali Khamenei membangun otoritasnya melalui puluhan tahun kepemimpinan. Mojtaba justru memulai masa jabatannya dalam situasi perang, ketika publik bahkan belum sempat melihatnya berbicara.
Garda Revolusi di Garis Depan
Ketidakhadiran Mojtaba juga memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang paling menentukan arah kekuasaan Iran saat ini.
Sejumlah analis menilai hubungan dekat Mojtaba dengan IRGC menjadi salah satu alasan utama ia memperoleh dukungan untuk menduduki posisi tertinggi negara. Selama bertahun-tahun, ia membangun hubungan erat dengan jaringan komandan Garda Revolusi ketika memimpin kantor Ayatollah Ali Khamenei.
Namun, kedekatan itu juga memunculkan interpretasi baru.
Â
Profesor sejarah modern di University of St Andrews, Ali Ansari, menilai tantangan terbesar Mojtaba bukan sekadar memimpin negara, melainkan membangun legitimasi sebagai penerus.
"Bagaimana menciptakan suksesi yang karismatik jika sosok penerusnya tidak pernah terlihat?" ujarnya kepada Reuters. Menurutnya, kondisi seperti itu "tidak berkelanjutan dalam jangka panjang."
Pandangan serupa disampaikan Jason Brodsky dari United Against Nuclear Iran. Ia menilai keseimbangan kekuasaan kini mulai bergeser. Jika pada era Ali Khamenei kantor Pemimpin Tertinggi menjadi pusat kendali, kini pengaruh IRGC diperkirakan akan semakin besar karena Mojtaba dinilai lebih bergantung pada dukungan institusi tersebut.
Farzan Sabet dari Geneva Graduate Institute juga melihat kecenderungan yang sama. Menurutnya, rendahnya profil publik Mojtaba memang dapat dikelola untuk sementara, terutama jika alasan utamanya adalah pemulihan cedera dan pertimbangan keamanan. Namun dalam jangka panjang, ia mengatakan pemimpin baru tetap perlu tampil agar dapat membangun otoritas di mata publik maupun elite politik.
Sementara itu, Alex Vatanka dari Middle East Institute menilai Mojtaba kemungkinan akan memerintah melalui institusi negara, bukan mendominasi institusi tersebut sebagaimana dilakukan ayahnya. Menurutnya, kharisma Ruhollah Khomeini maupun otoritas Ali Khamenei merupakan sesuatu yang dibangun melalui krisis dan pengalaman selama puluhan tahun, bukan sesuatu yang otomatis diwariskan.
Lebih dari Sekadar Sosok Pemimpin
Persoalan itu menjadi penting karena jabatan Pemimpin Tertinggi di Iran berbeda dengan kepala negara pada umumnya.
Dalam sistem Republik Islam, posisi tersebut tidak hanya memegang otoritas politik dan militer tertinggi, tetapi juga memiliki legitimasi keagamaan. Ideologi resmi negara bahkan menempatkan Pemimpin Tertinggi sebagai wakil Imam ke-12 Syiah di bumi.
Karena itu, kehadiran seorang pemimpin memiliki makna yang melampaui fungsi administratif. Ia juga menjadi simbol kesinambungan sistem yang telah berdiri sejak Revolusi Iran 1979.
Di sinilah absennya Mojtaba menjadi persoalan yang lebih besar daripada sekadar tidak menghadiri pemakaman ayahnya. Selama ia tetap berada di balik layar, ruang kosong itu akan terus memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana otoritas baru sedang dibangun.
Â
(mae/mae) Addsource on Google

